Bab 72

737 Kata

Apartemen itu masih seperti terakhir kali Seth tinggalkan. Tirai tipis berdebu, meja kayu di pojok ruangan yang penuh tumpukan koran lama, dan sepatu lari warna kelabu yang diletakkan rapi di dekat pintu. Sunyi. Tidak ada aroma parfum floral seperti di rumah Lavinia, tidak ada denting sendok porselen, tidak ada suara halus perempuan yang menanyakan apakah dia sudah makan. Hanya diam. Dan sedikit kenangan yang menyesakkan. Seth berjalan perlahan menuju meja kerja, mengambil sebuah jurnal kulit hitam. Ia membukanya perlahan, membaca sejenak tulisan tangannya sendiri. “Kalau dia menatapku lagi seperti itu, mungkin aku akan menyerah. Aku—” Ia menghela napas, menutup buku itu sebelum kalimatnya selesai. Suara ketukan di pintu membuat tubuhnya menegang. Ia tidak mengharapkan siapa pun. Ti

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN