bc

BICARALAH KAKAK

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
family
HE
sporty
drama
bxg
highschool
illness
like
intro-logo
Uraian

Rio Mahendra, ketua tim basket yang dulu rendah hati dan dicintai semua orang, berubah menjadi diam dan mengasingkan diri setelah kekalahan pahit di turnamen nasional—kekalahan yang semua orang tuduh sebagai kesalahannya. Didiagnosis mengidap autisme akibat tekanan yang menghancurkan jiwanya, Rio menutup pintu hatinya dan tak lagi menyapa siapa pun. Hingga hari itu, orang tuanya mengadopsi Nella Chandra, anak perempuan ceria dan penuh kasih, yang datang membawa satu harapan: agar Rio kembali berbicara. Dan kata pertama yang Nella ucapkan saat bertemu Rio adalah, “Bicaralah padaku, kakak.”

chap-preview
Pratinjau gratis
BAYANG-BAYANG KEKALAHAN
Sore itu, langit berwarna kelabu pekat, seakan ikut meratapi apa yang baru saja terjadi di dalam gedung olahraga yang riuh itu. Angin yang menyelinap masuk dari celah jendela membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, seolah menggambarkan suasana hati yang sedang merasakan kepedihan luar biasa. Di tengah lapangan basket yang masih bergema suara sorak-sorai pihak lawan, Rio Mahendra berdiri terpaku. Matanya menatap lekat-lekat papan skor yang angka akhirnya telah terkunci rapat, tak bisa diubah lagi: 78 — 80. Hanya dua poin. Dua angka kecil yang memisahkan kemenangan dari kekalahan pahit yang terasa menelan ludah. Semua orang tahu, peluang emas untuk membalikkan keadaan ada di tangan Rio saat detik-detik terakhir pertandingan. Ia yang memegang bola. Ia yang mengambil keputusan untuk melepaskan tembakan dari luar garis tiga angka. Dan bola itu meleset. Tidak masuk ke keranjang yang menjadi sasaran, melainkan memantul dan direbut lawan. Detik itu juga, peluit panjang berbunyi. Pertandingan berakhir. Timnya kalah. Dan satu-satunya alasan yang paling mudah dituding adalah dirinya. Saat Rio berjalan tertatih meninggalkan lapangan, mengenakan seragam tim yang kini terasa berat menindih bahu, bisik-bisik mulai terdengar di sepanjang lorong. Suara-suara rendah yang perlahan berubah menjadi teriakan-teriakan tajam, penuh amarah dan kekecewaan yang meluap-luap seakan tak terbendung. — “Lihat saja! Karena Rio kita kalah! Dia yang memegang bola terakhir dan meleset!” — “Kalau saja dia tidak serakah, tidak memaksakan diri melepaskan tembakan sendiri padahal ada rekan yang lebih baik posisinya, pasti sudah menang!” — “Pecundang! Dialah yang menghancurkan segalanya! Seharusnya dia tidak menjadi ketua tim sejak awal!” Ribuan mata menatapnya penuh kebencian. Wajah-wajah yang kemarin masih tersenyum memujanya, menyebutnya pahlawan sekolah, mengangkatnya setinggi langit sebagai kebanggaan yang tak tergantikan — hari ini semua berbalik menudingkan jari seakan ia adalah penjahat terbesar yang pernah ada. Setiap kata yang melayang menyusup ke telinga Rio terasa bagai pisau tajam yang berputar perlahan di dadanya, merobek-robek kepercayaan diri dan harga diri yang selama ini ia bangun dengan susah payah. Tidak ada satu pun yang mempertimbangkan bahwa ia telah berjuang sekuat tenaga sepanjang pertandingan, mencetak angka terbanyak, bertahan hingga napasnya tersengal. Tidak ada yang peduli pada keringat dan lelahnya. Yang mereka lihat hanyalah kegagalan di detik terakhir, dan ia menjadi satu-satunya sasaran kemarahan. Rio tidak membela diri. Ia tidak berteriak balik, tidak meminta pengertian, bahkan tidak sekadar menoleh ke arah siapa pun yang meneriakkan kata-kata menyakitkan itu. Ia hanya menunduk dalam, menatap lantai yang terasa berputar pelan di bawah kakinya, menggenggam kedua tangannya erat hingga buku-buku jarinya memutih. Kuku-kukunya menancap ke telapak tangan hingga menimbulkan rasa sakit yang samar — namun rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan luka yang menganga lebar di hatinya. Rasanya seakan seluruh dunia telah berbalik punggung padanya, dan ia berdiri sendirian di tengah badai tuduhan yang tak kunjung reda. Langkah kakinya terasa berat seolah tertanam di tanah. Ia terus berjalan keluar dari gedung olahraga itu, meninggalkan suara riuh dan tatapan tajam yang tak kunjung lepas dari punggungnya. Setiap langkah yang diambil terasa semakin menjauhkan dirinya dari dunia yang dulu ia kenal — dunia yang penuh senyuman, tepuk tangan, dan persahabatan hangat. Kini, semuanya telah berubah menjadi bayang-bayang kelabu yang menyelimuti hatinya rapat-rapat, seakan tak akan pernah lagi terlihat cahaya di baliknya. Sesampainya di halaman sekolah, Rio berhenti sejenak. Udara di luar terasa lebih segar dan bebas dari bau keringat serta keputusasaan di dalam gedung, namun dadanya tetap sesak seakan tertimpa beban berat. Ia mendongak menatap langit yang makin gelap, awan hitam bergerak lambat menutupi sisa cahaya matahari. Tidak ada teman yang menghampiri untuk menepuk bahu dan berkata “tak apa-apa, masih ada kesempatan lain”. Tidak ada suara yang menyapanya dengan senyum ramah. Semua orang seakan menjauh, membiarkannya berjalan sendirian, seakan keberadaannya kini telah menjadi aib yang harus dijauhi agar tidak ikut tertimpa celaan. Rio menarik napas panjang, berusaha menenangkan d**a yang bergemuruh campur aduk antara kesedihan, kemarahan, dan keputusasaan. Namun napas itu terasa tertahan di kerongkongan, tak mampu turun dengan tenang. Tanpa menoleh ke belakang sekali pun, ia melangkah pulang. Langkah yang perlahan, namun penuh keputusasaan yang mendalam. Karena Rio sadar sepenuhnya — sejak bola itu meleset dari sasaran, sejak kata-kata tajam itu meluncur dari mulut orang-orang yang dulu tak henti-henti memujanya — hidupnya tidak akan pernah kembali seperti sedia kala. Pintu hatinya mulai tertutup, dan ia tak lagi merasa aman di dunia yang dulu penuh kehangatan baginya. Sesampainya di rumah, pintu yang biasa ia masuki dengan senyum lebar dan langkah ringan seakan membawa kabar gembira setiap hari, kini ia lewati dengan kepala tertunduk dalam dan langkah yang berat tertatih. Saat ia melangkah masuk, kedua orang tuanya menyambut dengan wajah penuh senyum yang perlahan berubah menjadi tanya cemas. Namun ketika melihat tatapan mata putra mereka yang kosong, tak bercahaya, dan penuh kesedihan yang tak mampu diucapkan dengan kata, tak sepatah kata pun terucap dari bibir mereka. Mereka hanya diam, menyadari bahwa sesuatu yang besar dan menyakitkan baru saja menghancurkan hati anak kesayangan mereka. Rio langsung melangkah menuju kamarnya tanpa menyapa, tanpa makan, tanpa melepas sepatu. Di dalam kamar yang remang dan sepi itu, ia menutup pintu rapat-rapat, lalu memutar kuncinya hingga terdengar bunyi klik yang pelan namun menandakan pemisahan diri dari dunia luar. Ia bersandar di balik pintu, lalu perlahan meluruhkan tubuhnya hingga jatuh berlutut di atas lantai dingin. Matanya kering, tak setetes air mata pun jatuh membasahi pipinya. Namun hatinya hancur berkeping-keping, hancur lebih parah daripada sekadar pecahan kaca yang tak bisa disatukan kembali. Di luar sana, suara-suara itu seakan masih terdengar, bergaung di telinganya berulang-ulang. “Karena Rio kita kalah.” “Pecundang.” “Dia yang menghancurkan semuanya.” Kata-kata itu menancap di kepalanya, terus berputar tanpa henti, seakan menjadi kebenaran yang tak bisa dibantah. Di dalam keheningan kamar yang ia ciptakan sendiri itu, Rio merasa seakan telah ditinggalkan oleh seluruh dunia. Seakan keberadaannya tidak lagi berarti. Seakan suara yang dulu pernah bangga keluar dari tenggorokannya — suara yang menyapa, tertawa, dan memimpin — kini tak lagi layak untuk didengar siapa pun. Bahkan untuk dirinya sendiri. Malam itu, Rio tidak keluar kamar. Ia tidak makan. Ia tidak membuka pintu meski ibunya memanggil pelan dan memintanya keluar. Ia hanya duduk diam di dalam kegelapan, memeluk lutut erat-erat, membiarkan rasa bersalah dan takut melahapnya perlahan. Dan sejak hari itu, sejak kekalahan yang membalikkan seluruh hidupnya, Rio Mahendra mulai berubah. Perlahan namun pasti, ia menarik diri dari semua orang. Menutup pintu hatinya yang dulu terbuka lebar. Dan seakan-akan bersama bola yang meleset dari sasaran di detik terakhir pertandingan itu, suaranya pun ikut lenyap. Hilang tertimbun tuduhan, kesedihan, dan rasa takut yang tak bertepi.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
796.1K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.0M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
373.9K
bc

Not just, the Beta

read
357.4K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook