Sudah dua hari belakangan ini Hardin akhirnya bisa bernafas lega.
Tiga hari yang lalu akhirnya Angel bersedia untuk di ajak bernegosiasi oleh pihak keluarga besar Hardin dan keluarga Ustadz Maulana.
Pertemuan itu dilakukan secara tertutup tanpa ada satupun awak media yang tahu. Awalnya Angel menolak untuk menyetujui permintaan pihak keluarga agar dia mengadakan jumpa pers dan melakukan klarifikasi mengenai hubungannya dengan Hardin. Tapi setelah Opah mengiming-iminginya dengan sejumlah uang yang nilainya bisa dibilang fantastis, akhirnya Angelpun setuju. Angel diminta menandatangani surat perjanjian di atas materai bahwa dia tidak akan lagi mengganggu kehidupan Hardin setelah klarifikasinya di media selesai dan memulihkan nama baik Hardin seperti semula.
Masalah itu akhirnya pun ditutup.
Hardin baru saja memarkirkan marsedes benznya di pelataran parkir sebuah toko bunga. Sebelum berangkat ke kantor, Hardin menyempatkan diri untuk mampir sebentar di sebuah toko bunga di daerah cicadas.
Malam nanti, Katrina ulang tahun.
Hardin ingin membuat surprise untuk Katrina. Dia ingin mengajak istrinya dinner romantis di kawasan Bukit Pakar Timur. Sebuah restorant ala jepang yang berada di lantai tujuh gedung di puncak kota Bandung.
Dan sebelum itu, Hardin ingin memesan sebuket bunga untuk kemudian dikirim ke resto. Jadi dia tinggal memberikannya pada Katrina malam nanti.
Hardin sudah memilih bunga mawar merah sebagai ungkapan isi hatinya terhadap Katrina. Bunga Mawar memang merupakan salah satu jenis bunga spesial yang bisa menyampaikan banyak makna sesuai dengan warna yang dimiliki. Selain itu bunga mawar ini bisa menyimpulkan perasaan yang begitu lembut dan pastinya juga gairah yang sangat tinggi dalam sebuah cinta. Hal tersebut disebabkan karena bunga mawar ini merupakan lambang dari cinta sejati, loyalitas dan masih banyak lagi hal romantis lainnya.
Perhatian Hardin sempat tersita oleh salah satu karyawan toko yang sedang bercakap dengan seorang anak kecil di dalam toko tersebut saat dirinya hendak membayar pesanannya.
Seorang anak laki-laki berseragam sekolah yang terlihat sangat tampan.
"Aduh, jangan bunga yang itu dik, itu mahal harganya, kalau saya kasih cuma-cuma nanti yang ada saya yang rugi. Kalau bunga yang ini nggak apa-apa. Saya kasih gratis," ucap seorang karyawan toko bernama Ujang.
Bocah laki-laki itu terlihat sedih.
"Tapi Mama Gibran sukanya bunga yang itu, Om." Gibran menunjuk pada sekeranjang Bunga tulip merah. Satu buket bunga tulip bisa dibandrol dari harga 1 - 2 juta rupiah.
"Gibran punya uang kok, Om. Ini," Gibran mengeluarkan satu plastik uang koin dari dalam tasnya. Uang ini adalah uang hasil tabungannya selama satu minggu yang dia sisihkan dari uang jajannya sendiri.
"Tapi uang segitu nggak cukup buat bayar bunga itu. Itu harganya mahal," jelas Ujang. Sebenarnya dia sendiri tidak tega melihat bocah itu, tapi mau bagaimana lagi dia disini hanya karyawan biasa yang juga digaji. Jadi dia tidak mau ambil resiko kalau harus melepas bunga yang ditunjuk anak itu. Bisa rugi bandar dia nanti. Uang gajinya selama satu bulan saja tidak cukup untuk membayar harga satu buket bunga tulip merah itu.
Wajah Gibran terlihat menunduk. Matanya mulai berair. Sebenarnya dia sengaja menabung untuk membelikan Luwi bunga Tulip merah itu. Bunga yang dulu pernah diberikan Om Max untuk Mamanya sewaktu di London. Dan Gibran melihat Mamanya sangat menyukai bunga itu.
Akhirnya Gibranpun melangkah pergi dengan hati yang kecewa. Dia menggenggam kuat-kuat sekantong koin dikepalan tangannya, hingga tanpa sengaja plastik itu sobek dan koin-koin itu berhamburan kemana-mana. Menimbulkan suara gemerincing yang sangat berisik.
Gibran hendak memunguti koin-koinnya yang jatuh yang menggelinding di dekat kaki seorang laki-laki di kasir. Seorang laki-laki yang sedari tadi sedang memperhatikannya juga.
"Kamu mau beli bunga untuk siapa?" tanya Hardin. Dia tersenyum kepada Gibran yang mendongakkan kepalanya di bawah kaki Hardin. Hardin ikutan berjongkok dan ikut membantu Gibran memunguti koin-koin miliknya.
"Gibran mau beli bunga untuk Mama, Om. Malam nanti Mama Gibran ulang tahun," ucap Gibran. Perasaan kecewanya masih terlihat jelas dimatanya yang bulat.
Hardin terenyuh mendengar pengakuan anak itu. Baik sekali dia... Pikir Hardin.
"Mamamu suka bunga itu?" Hardin menunjuk Bunga tulip merah yang tadi ditunjuk oleh Gibran.
Gibran mengangguk. Wajahnya masih tampak muram. Matanya tak lepas dari wajah Hardin.
"Mas, rangkai bunga itu juga sekalian. Nanti biar saya yang bayar," perintah Hardin pada Ujang.
"Kamu tunggu sebentar ya, Bunganya lagi dirangkai dulu biar lebih indah. Jadi nanti kamu tinggal berikan untuk Mamamu,"
Mata sayu Gibran langsung membulat, binar cerah dimatanya terlihat kembali.
"Om mau belikan bunga itu untuk Mama Gibran?" tanyanya tak percaya.
"Berhubung Mama Gibran itu hari ulang tahunnya sama dengan istri, Om, jadi anggap saja ini hadiah dari Om untuk Mama Gibran,"
"Beneran Om?"
"Iya," Hardin mengelus rambut tebal Gibran yang hampir sama seperti rambutnya. Hardin tersenyum pada Gibran. Dia kagum pada Gibran yang memiliki rasa kasih sayang dan perhatian yang luar biasa untuk sang Mama. Beruntung sekali orang tuanya memiliki anak seperti ini, pikir Hardin membatin.
"Terima kasih ya, Om. Gibran janji sama Om, nanti kalau Gibran sudah besar Gibran akan ganti uang Om,"
Hardin jadi dibuatnya tertawa. Selain baik, anak ini lucu juga dan yang pasti dia sangat tampan.
"Kalau begitu Gibran harus rajin belajar supaya Gibran bisa jadi orang yang sukses dan bisa membahagiakan orang tua Gibran,"
"Gibran cuma punya, Mama om."
Lagi-lagi hati Hardin dibuatnya terenyuh.
"Ya kalau begitu, bahagiakan Mama Gibran. Kamu baik sekali Gibran. Mamamu beruntung memiliki kamu,"
"Semua orang yang kenal Gibran pasti akan bicara seperti itu,"
Hardin kembali tertawa.
Satu buket bunga tulip merah sudah selesai di rangkai. Hardin sudah membayar semuanya. Dia memberikan buket bunga itu kepada Gibran. Bocah itu terlihat sumringah. Senyumnya terus mengembang. Akhirnya keinginannya untuk menghadiahkan bunga Tulip ini pada sang Mama terkabul. Dan semua itu berkat Om baik yang tampan itu.
Oh iya, siapa nama Om tadi?
Gibran kembali menoleh ke arah toko bunga. Tapi Om itu sudah tidak ada disana. Sepertinya dia menaiki mobil bagus berwarna hitam tadi, pikir Gibran.
Saking senang Gibran sampai lupa bertanya siapa nama Om itu.
Tapi tak apalah, kalau suatu hari nanti Gibran bertemu lagi, Gibran akan bertanya siapa namanya.
Gibran berjalan menuju kontrakan barunya yang letaknya tidak jauh dari sekolahnya. Hari ini Mama bilang sedang tidak enak badan. Jadi Mama tidak bisa menjemput Gibran ke sekolah. Sementara Om Reyhan sedang pergi melamar pekerjaan. Jadilah Gibran pulang sendirian. Langkahnya terlihat riang dan gembira.
Ternyata benar apa yang dikatakan Om Reyhan kepadanya, kalau Gibran berbuat baik, pasti Allah akan senantiasa mempertemukan Gibran dengan orang-orang yang baik juga.
Seperti Om baik yang tampan tadi.
Pikir Gibran, girang.