26. BERHENTI BEKERJA

1067 Kata
Luwi baru saja selesai memasak. Dia berniat untuk merebahkan dirinya sejenak di lantai karpet di depan tv. Waktu baru menunjukkan pukul 08.45 WIB, itu artinya waktunya untuk menjemput Gibran di sekolah masih tersisa sekitar empat puluh menit lagi. Jadi Luwi bisa bersantai-santai ria dulu di kontrakan. Luwi mulai menyalakan Tv. Dia mencari-cari chanel yang acaranya menarik. Tapi kebanyakan hanya ada berita-berita gosip selebriti dan film kartun. Dan kedua acara itu bukan acara yang dia sukai. Luwi hendak mematikan layar tv, ketika seseorang tiba-tiba membuka pintu kontrakannya. Membuat Luwi terlonjak kaget. Dan dia jadi lebih kaget lagi saat didengarnya sebuah nama seseorang yang baru saja disebut-sebut oleh salah satu pembawa acara berita gosip di stasiun tv swasta. Tapi Luwi buru-buru mematikan tv itu, kepulangan Reyhan yang tiba-tiba, menurutnya lebih penting. "Loh, Kakak sudah pulang? Tidak bekerja?" tanya Luwi pada Reyhan yang langsung merebahkan diri di sofa ruang tamunya. Laki-laki itu terlihat merenggangkan kerah kemejanya dengan membuka beberapa kancing baju atasnya. Reyhan belum sempat menjawab, tapi Luwi sudah kembali bertanya. "Mobil kakak mana? Mogok lagi?" Luwi tidak mendapati Grand Livina milik sang Kakak terparkir di luar. Luwi duduk di samping Reyhan. "Aku sudah berhenti bekerja. Mobil aku gadaikan, besok Gibrankan harus check up jantungnya ke rumah sakit, belum lagi untuk bayar uang sewa kontrakan bulan ini, uang ditabunganku sudah habis, aku juga tidak tahu gajiku bulan ini akan dibayar atau tidak soalnya kemarin aku resign dadakan. Tapi kamu tidak usah khawatir, tadi sehabis mengantar Gibran ke sekolah aku sudah menaruh lamaran ke beberapa restoran dekat sini, siapa tahu ada rejeki disana. Doakan ya, Luwi?" Luwi tertegun cukup lama. Dia memandangi wajah Kakaknya yang terlihat lelah. Sepertinya beban hidup Reyhan semakin bertambah sekarang. "Maafkan aku kak," ucap Luwi pelan, matanya mulai berair. "Maaf untuk apa? Kamu kenapa menangis?" Reyhan merengkuh tubuh luwi ke dalam pelukannya. Dan hal itu justru membuat tangis Luwi semakin pecah. "Semenjak ada aku dan Gibran hidup Kakak jadi bertambah sulit, aku ini memang benalu, kerjanya selalu merepotkan orang lain. Dulu Jodie, sekarang Kakak. Aku memang tidak berguna!" "Kamu jangan bicara begitu. Kamu dan Gibran itu keluargaku, kalian tanggung jawabku sekarang. Justru dengan adanya kalian di hidupku, aku sangat senang dan bersyukur. Aku tidak sendirian lagi. Sudah jangan menangis!" Luwi mendongak. Setitik air menetes tepat di dahinya. "Apa? Kakak sendiri menangis? Masa aku tidak boleh menangis," ucap Luwi yang masih terisak. Reyhan menyeka air matanya. Karena ulahnya kini adik dan keponakannya harus ikut menderita. Emosi sudah membuat Reyhan kehilangan kendali. Terlebih rasa sakit hatinya terhadap perkataan Hardin. Kalimat itu sulit dia lupakan. "Kakak ada masalah di kantor?" tanya Luwi lagi, dia melepas pelukannya dari sang kakak. "Tidak ada," "Lalu kenapa kakak resign?" "Aku merasa sudah tidak cocok saja bekerja disana," "Kakak berkelahi dengan sahabat Kakak?" "Sudahlah tidak usah di bahas. oh ya, kamu masak apa, aku lapar," Reyhan mengalihkan pembicaraan, dia berjalan ke dapur. Dia membuka tutup wajan di atas kompor. "Semur ayam? Sepertinya enak," ucap Reyhan seraya menghirup aroma masakan di hadapannya. Reyhan hendak mengambil piring di dalam rak, tapi sudah keduluan oleh Luwi. "Biar aku saja yang menyiapkan makan untuk Kakak. Kakak ganti baju dulu sana," ucap Luwi, tangannya sibuk menyendokkan nasi di rice cooker. "Okelah," Reyhan berjalan ke kamarnya. Dan mengganti kemejanya dengan kaus. Tiba-tiba saja Reyhan seolah teringat kembali terhadap kalimat Hardin kemarin. "Jadi sekarang apa bedanya gue sama lo? Lo yang masih diem-diem memendam perasaan lo sama istri orang!" Gigi geraham Reyhan langsung menyatu. Istri orang? Reyhan berdecih. Dia tersenyum getir. Ya, ada benarnya juga. Katrina sekarang memang adalah istri orang. Tapi, bukankah perasaan ini yang lebih dulu ada daripada perasaan laki-laki itu. Bukankah Katrina itu seharusnya mencintainya, bukan laki-laki itu. Bukankah Katrina itu seharusnya menjadi miliknya bukan milik laki-laki itu? Reyhan berjalan ke arah laci meja kamarnya dan mengambil sebuah kotak disana. Jangan berjuang melupakan atau menghapus orang yang telah merubah perasaannya terhadapmu. Karena itu justru terlihat bahwa kamu masih sangat mencintainya. Biarkan saja semuanya mengalir seperti air. Biarlah Katrina menjadi bagian terindah dari kisah masa remajamu. Biarlah Katrina mendiami sudut terdalam dihatimu, biarkan saja sampai dia merasa bosan dan menghilang dengan sendirinya. Kini yang perlu kamu lakukan adalah, berusaha menganggapnya tidak ada. Itu saja. Bisik Reyhan membatin. Reyhan keluar dan membuang kotak itu ke dalam tong sampah di depan rumahnya. Luwi yang melihat hal itu justru semakin mengerti, alasan apa yang membuat sang Kakak berhenti bekerja. Tapi dia tidak berniat untuk bertanya lagi. Luwi sadar Reyhan perlu waktu untuk memperbaiki hatinya. Sepertinya kali ini, Luwi melihat keputusasaan di sana. Di dalam diri Reyhan. "Oh ya, Luwi nanti kamu saja yang menjemput Gibran ya? Aku mau pergi," ucap Reyhan sambil menyantap nasi di piring yang telah disediakan Luwi. "Iya, Kak. Biasanya juga begitu, selalu aku yang jemput Gibran. Kakak mau pergi kemana?" "Aku mau ngamen, suntuk di rumah," "Hah? Ngamen? Serius?" mata Luwi membulat. Jauh sekali Kakaknya ini banting setir, dari seorang manajer menjadi pengamen jalanan? Reyhan tersenyum. "Ya seriuslah. Lumayan kok hasilnya. Cukuplah untuk makan dua kali sehari." "Tapikan, Kakak itu seorang pegawai kantoran, masa ngamen sih?" "Ngamen itu udah jadi bagian dari hidupku sejak kecil. Aku bisa bertahan hidup di Jakarta dan bisa kuliah itu semua dari hasil ngamen juga. Pasti kamu nggak percayakan?" "Nggak." jawab Luwi polos. "Kalau begitu besok-besok kalau Gibran libur, kita ngamen sama-sama." "Hah?" Luwi jadi melongo. "Biasa aja ekspresinya, seru kok. Dulu Katrina aja ketagihan setelah sekali aku ajak dia ngamen. Aku ngamen sama dia pernah seharian suntuk. Kehujanan, kepanasan, nahan laper sama-sama. Semua manis pahitnya hidup kita pernah melewatinya bersama-sama. Dan Katrina tidak pernah mengeluh sekalipun saat tahu pacarnya itu hanya seorang pengamen jalanan. Dia malah bilang suaraku itu bagus," Reyhan tersenyum ceria di balik kalimatnya. Namun, sedetik setelahnya senyum itu tiba-tiba sirna. Dia seolah baru terbangun dari mimpi masa lalunya bersama Katrina. Reyhan kembali menyantap makanannya setelah menyunggingkan seulas senyum tipis pada Luwi. Jujur hati Luwi menjerit mendengar ucapan Kakaknya, terlebih saat dilihatnya antusias sang Kakak ketika bercerita kisah masa lalunya dengan Katrina. Apa yang kini kamu rasakan, apa yang kini kamu simpan baik-baik di dalam hatimu. Biarlah jadi rahasia untuk dirimu sendiri. Allah maha tahu apa-apa yang ada di setiap hati manusia. Kamu hanya perlu bersabar, Kak. Percayalah tak lama lagi seseorang itu akan datang. Seseorang yang akan menyelamatkan hatimu. Seseorang yang akan mengukir kembali senyum diwajahmu yang sempat hilang. Percayalah, Kak. Allah sudah menyiapkan sebuah rahasia besar untuk kita gapai di hari esok dengan senyum kebahagiaan. Percayalah... Ucap Luwi, membatin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN