Malam ini adalah malam paling sial dalam sejarah hidup Hardin.
Malam ini dia harus rela di tatar habis-habisan oleh keluarganya dan keluarga Ustadz Maulana. Semua keluarga sudah berkumpul di ruang tamu rumahnya begitu dia baru saja sampai di rumah sehabis pulang dari kantor.
Berita dirinya dengan Angel kini menjadi trending topik di berbagai media. Majalah gosip dan infotainment. Hal itu menyulut kemarahan sang Opah. Serta beberapa pihak keluarga dari Ustadz Maulana. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa Hardin bisa melakukan hal sejauh itu.
"Opah benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuanmu, Hardin! Sungguh membuat malu keluarga! Opah tidak pernah perduli dengan kisah asmaramu dengan siapapun selama ini, selama statusmu masih lajang! Tapi sekarang, kamu itu sudah beristri! Kok bisa-bisanya sih..." Opah sampai kehabisan kata-kata. Tubuhnya terhempas ke sandaran sofa. Opah benar-benar kecewa pada Hardin.
"Asal kamu tahu ya, semua pihak keluarga Ustadz Maulana terpaksa merahasiakan hal ini dari Ustadz Maulana, karena mereka takut kalau sampai Abi tahu masalah ini, nanti penyakit jantung Abi kumat," kali ini Omah menimpali.
Hardin hanya diam dengan wajahnya yang terus tertunduk. Dia sendiri tidak tahu harus berbicara apa. Dia tidak punya alasan yang cukup kuat untuk membela diri. Karena dia sadar dirinya yang salah. Terlalu bodoh! Terlalu pengecut!
"Kamu sudah berjanji dalam ijab kabul untuk menjadi imam yang baik bagi Katrina, itu janjimu pada Allah. Tidak seharusnya kamu mempermainkannya. Ini kali kedua kamu membuat keluarga kami kecewa atas sikapmu, dan kami pastikan jika hal ini masih terus terulang sampai ketiga kalinya, kami sendiri yang akan membawa Katrina pulang ke Cimahi. Kami yang merasa, menjadi pihak pertama yang harus disalahkan karena sudah menjodohkan Katrina denganmu. Maaf Abi, kami sudah kehabisan kesabaran. Keluarga kami juga memiliki harga diri. Katrina itu hanya seorang anak yatim piatu, tolonglah, jangan buat Katrina terus menerus menderita dan jangan buat keluarga kami jadi semakin bersalah terhadapnya," jelas Mang Adnan, suami bibi Atiqah.
"Saya dan Tantri benar-benar meminta maaf atas kejadian ini dan inshaa Allah kami akan segera mengatasinya," ucap Opah kepada Keluarga Katrina. Opah sangat malu dan tidak enak hati pada mereka. Terlebih pada Katrina sendiri.
"Kami hanya butuh kepastian dari Hardin, Abi, apakah sebenarnya dia ini memang niat serius untuk berumah tangga atau hanya sekedar mempermainkan perasaan Katrina?" kali ini Bibi Atiqah yang angkat bicara. "Katrina itu baru saja kehilangan anaknya, dan sekarang dia harus kembali menelan pil pahit atas berita miring yang menimpa suaminya. Kami sendiri sebenarnya tidak mau bersuudzon pada Hardin, tapi setelah melihat sendiri foto-foto yang beredar bahkan ada juga videonya, saat Hardin melangkah masuk ke dalam kamar hotel bersama wanita itu, kami jadi ragu pada keseriusan Hardin terhadap Katrina. Awalnya kami berharap banyak Hardin bisa berubah bersama Katrina, tapi jika keadaannya seperti ini terus, kami juga tidak mau membebani Katrina lebih jauh lagi, sekarang kami akan menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Katrina, kami tidak ingin ikut campur lagi, biarkan Katrina memutuskan sendiri bagaimana kelangsungan nasib rumah tangganya dengan Hardin."
"Tidak bi, saya mohon, saya akan pastikan hal ini tidak akan terulang lagi. Saya sangat mencintai Katrina, Bi. Saya mohon beri saya kesempatan. Saya hanya dijebak oleh Angel, bi. Tolong kalian percaya dengan saya," akhirnya Hardin buka suara. Dia sungguh ketakutan.
"Semua keputusan ada pada Katrina," jawab Bibi Atiqah.
"Besok, Opah mau kita mengadakan pertemuan tertutup dengan wanita bernama Angel itu, kita musyawarahkan baik-baik apa yang sebenarnya wanita itu inginkan. Opah tidak mau masalah ini lantas berlanjut berlarut-larut. Dan jika terbukti, wanita itu memang salah, maka kita akan tempuh jalur hukum untuk menuntutnya bila dia tidak mengkonfirmasi kepada media tentang apa yang sebenarnya terjadi, "
"Dan sekarang, ada baiknya kamu meminta maaf pada istrimu. Seharian ini Katrina tidak keluar kamar setelah dia melihat berita itu di Tv, sepertinya dia juga tidak mau makan," saran Omah Tantri pada Hardin.
"Baik Omah, Hardin masuk kamar dulu, ya? Assalamualaikum,"
Hardin berjalan dengan langkah yang sangat berat menuju kamarnya di lantai dua. Seolah beban di pundaknya kian lama kian bertambah banyak. Hardin belum siap jika kenyataannya Katrina tidak mau memaafkannya. Dia takut kehilangan istrinya. Sangat takut!
Hardin menghentikan langkahnya sebelum benar-benar memutar kenop pintu kamarnya. Dia menarik nafas panjang dan menghempaskannya dengan cepat.
Hardin melangkah memasuki kamarnya. Dilihatnya Katrina sudah tidur. Meski setelah didekati Hardin tahu bahwa Katrina tidak sungguh-sungguh tertidur. Dia hanya berpura-pura tidur.
Hardin melepas kemeja kerjanya. Lalu dia merebahkan tubuhnya di samping Katrina dan membiarkan tubuhnya bertelanjang d**a. Dia memiringkan posisi tidurnya hingga tubuhnya kini berhadapan dengan tubuh sang istri. Wajah istrinya terlihat pucat. Natural tanpa sapuan make up. Padahal Katrina selalu berdandan setiap kali menunggu kepulangan Hardin dari kantor di sore hari.
Hardin merapikan anak-anak rambut yang menutupi sebagian wajah istrinya.
"Aku tahu kamu belum tidur," ucap Hardin lembut.
Katrina bergeming. Tapi dari sudut matanya Hardin dapat melihat dengan jelas ada satu titik air mata yang mengalir. Membuat hatinya terenyuh.
"Aku tahu mencintaiku itu sulit. Menyayangiku itu tidak mudah. Emosiku seringkali berubah-ubah tanpa arah. Apa-apa yang seharusnya mudah justru kubuat rumit. Tapi percayalah Trina, aku mencintaimu dengan segenap jiwaku. Aku menyayangimu dengan perasaanku yang paling utuh yang tak pernah kuberi pada siapapun. Hanya padamu, tak ada yang lain. Aku khilaf, Trina. Aku minta maaf." ucap Hardin lirih.
Tangannya hendak memegang pinggang Katrina tapi tangan katrina menahannya. Mata indah itu terbuka dan menatap ke arah Hardin. Mata katrina terlihat merah dan berair. Tapi setelahnya dia justru malah tersenyum, meski senyumnya kali ini terlihat dipaksakan.
"Shalat dulu Hardin, aku tidak apa-apa. Kamu tidak usah khawatir," ucap Katrina pelan.
"Wajahmu pucat sekali, kata Opah kamu tidak keluar makan seharian, aku ambilkan makanan ya?"
"Aku sudah makan, tadi bi Lisa yang antar ke sini. Sana shalat. Jika kamu merasa punya salah, mohon ampun pada Allah dan berjanjilah untuk tidak mengulanginya lagi. Sungguh, dosa zina itu hukumannya sangat berat, Hardin."
"Aku tidak berzina, Trina. Aku tidak sampai melakukannya. Aku ini sudah di jebak oleh Angel, aku mohon kamu mau memaafkan aku, percaya padaku. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya..." Hardin menggenggam jemari Katrina. Dia benar-benar tidak tahan jika harus melihat mata indah itu kehilangan binar cahaya terangnya.
"Jika Allah saja maha pengampun hamba-hambanya, lalu kenapa aku tidak bisa memaafkan suamiku sendiri? Aku tahu suamiku hanya seorang manusia biasa, tempatnya berbuat salah dan khilaf,"
Hardin menangis dihadapan istrinya. Kenapa dia baru menyadari sekarang kalau Katrina adalah wanita yang berjiwa besar. Dia benar benar wanita hebat. Dan Hardin jadi lebih menyesal setelah dia mengingat kalimat Reyhan sewaktu mereka berkelahi di kantor siang tadi.
Lo itu suaminya, harusnya lo bisa lebih paham sifat istri lo sendiri.
Dan pada kenyataannya Hardin memang belum bisa mengenal sosok istrinya seperti Reyhan mengenal Katrina. Dan itu artinya, perasaan yang dimiliki laki-laki itu terhadap istrinya memang jauh lebih luar biasa dari perasaan Hardin sendiri.
Kini, penyesalan itu terasa berlipat ganda.
"Aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi, Trina, aku berjanji!"
"Tidak baik berjanji jika pada akhirnya kamu akan mengingkarinya lagi. Janji itu adalah hutang Hardin, jadi biarlah waktu yang akan menjawab apakah suamiku sungguh-sungguh ingin berubah atau tidak. Aku sebagai istri akan senantiasa mendoakan apapun yang terbaik untuk suamiku."
Jika kamu harus mendefinisikan apa itu arti sebenarnya dari seorang pasangan hidup, maka kamu akan menemukannya di dalam diri Katrina. Hanya Katrina satu-satunya wanita yang bisa mengenali cara terbaik menghadapi kelabilan pasangannya, hanya Katrina satu-satunya wanita yang bisa sabar menghadapi terpaan badai yang kian meradang di dalam biduk rumah tangganya, tapi dia masih sanggup untuk tersenyum untuk kemudian memaafkannya. itulah sejatinya kalimat yang benar-benar pas untuk mendefinisikan apa itu arti pasangan hidup bagi Hardin. Itulah dia, Katrina.
Hardin merengkuh tubuh istrinya dalam dalam, lalu menciumi ubun-ubun kepala Katrina berulang kali. Dia sangat-sangat bersyukur. Malam itu, mereka menangis dalam kesunyian dan berharap semua hal buruk itu akan segera berlalu.
Allah selalu memiliki alasan atas setiap cobaan yg terjadi menimpa kehidupan seseorang dan semuanya kembali lagi pada cara masing masing orang menyikapinya. Ketika kita menghadirkan Allah dalam hati kita, maka tak akan ada satupun masalah yang tidak bisa kita selesaikan. Seperti itulah kiranya yang ada di dalam benak seorang wanita shalehah bernama Katrina Kania Ifana.
Seberapapun sakit hatinya, seberapapun ringkih perasaannya, dia tetap mencoba untuk berbakti kepada suaminya.
Dan berharap ridho Allah atas dirinya karena sudah mengutamakan perasaan suaminya, di atas segala-galanya.
Karena dia percaya, bahagia itu adanya selalu di belakang.