"Aku merindukanmu, Hardin!"
Hardin tertegun mendapat sebuah pelukan tiba-tiba dari seorang wanita dengan pakaian seminim itu.
"Lepas!" bentak Hardin. Tangannya menepis cepat ke dua tangan Angel yang melingkari lehernya.
Angel terhenyak. "Kamu ini kenapa sih? Tidak usah munafik!" ucap Angel, dia terlihat marah.
"Aku tidak mau berbelit-belit, sebenarnya ada keperluan apa kamu mencariku?" Hardin berjalan beberapa langkah, menjauhi Angel. Dia berdiri membelakangi Angel. Dia hanya tidak ingin melihat apa-apa yang tidak seharusnya dia lihat.
"Aku sudah menceraikan suamiku. Semua itu aku lakukan demi kamu. Demi kelangsungan hubungan kita,"
Hardin menarik nafas. Dia berdiri sambil berkacak pinggang. Kalimat yang dilontarkan Angel terdengar lucu ditelinganya. Hardin tersenyum kecut.
"Hubungan kita?" ucap Hardin setengah tertawa.
Angel diam. Matanya masih terus menatap punggung Hardin. Tatapannya menyiratkan berjuta perasaan yang telah lama dia pendam untuk Hardin selama ini.
"Hubungan kita sudah lama berakhir. Harusnya kamu tahu itu! Aku sudah pernah bilangkan, aku paling tidak suka dibohongi! Saat kita masih berhubungan kamu bilang kamu belum menikah, tapi apa buktinya, nyatanya kamu itu wanita yang sudah bersuami! Jadi jangan salahkan aku jika aku meninggalkanmu!" Hardin melanjutkan kalimatnya. Membongkar fakta yang telah terjadi di masa lalunya bersama Angel. Seorang model ternama yang baru-baru ini merambah dunia perfilman tanah air. Tapi rata-rata peran yang dia mainkan hanya sebagai peran figuran yang kebanyakan mengharuskannya mengenakan pakaian-pakaian minim.
"Tapi sekarang aku sudah menceraikan suamiku dan aku melakukan itu demi kamu, Hardin. Aku ingin kita seperti dulu..." ucap Angel dengan nada memohon. Pikirannya benar-benar buntu sekarang.
"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk menceraikan suamimu! Dan aku paling tidak suka jika nama baikku harus tercemar karena berita miring yang kamu sebarkan di media! Kamu mau merusak reputasiku? Hah? Dan satu hal yang perlu kamu ingat, aku sekarang sudah menikah. Aku sangat mencintai istriku. Jadi kupikir... tidak ada gunanya kamu membuang-buang waktumu disini," Hardin berbalik. Dia menatap wajah Angel yang kini mulai menangis.
"Jahat kamu, Hardin! Jadi apa artinya hubungan kita dulu? Disaat kamu dengan leluasa menikmati tubuhku! Bahkan berulang-berulang! Apa kamu menganggap semua hal itu seperti lelucon?"
"Ingat ya, aku tidak pernah memaksamu untuk tidur denganku! Kita melakukannya secara sadar dan tanpa pengaruh alkohol sedikitpun!" Hardin mulai kehilangan akal. Kenapa masalahnya jadi serumit ini sekarang?
Angel berjalan mendekat ke arah Hardin, lalu dia berbicara dengan isakan tangis yang semakin menjadi. "Tapi aku mencintaimu, Hardin," suaranya terdengar lirih. Angel kembali memeluk Hardin.
Hardin ingin melepaskan pelukan itu, tapi naluri kemanusiaannya tidak tega melihat Angel yang kini menangis terisak di depan dadanya. Bagaimanapun dia juga termasuk orang yang harus disalahkan dalam masalah ini.
Merasa tak mendapat penolakan atas pelukan yang dia lakukan, tangan Angel kini mulai menelusuri d**a bidang laki-laki itu. Dia menyentuh dagu Hardin yang kini ditumbuhi janggut tipis yang membuat wajah laki-laki itu terlihat semakin maskulin. Dan tatapannya terhenti pada sebuah bibir seksi yang terbelah di bagian bibir bawahnya. Angel menapaki bibir itu dengan jemarinya. Dia menyadari Hardin sepertinya mulai terangsang akibat sentuhannya. Nafas laki-laki itu kian naik turun dengan cepat. Hingga akhirnya Angel nekad mencium bibir Hardin. Hardin dibuatnya terperangah bukan main. Dia sungguh tak pernah membayangkan Angel akan berbuat sejauh itu.
Dan di saat yang bersamaan, pintu ruangan itu dibuka dari luar.
Reyhan tertegun menyaksikan adegan yang terjadi didepan mata kepalanya.
Hardin sontak mendorong tubuh Angel dengan cukup keras, hingga wanita itu hampir terjatuh. Matanya panik menatap ke arah Reyhan yang masih berdiri termangu di ambang pintu ruangannya.
Reyhan menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan dan Hardin tidak ingin Reyhan salah paham.
"Han? Lo... Udah masuk?" suara Hardin terdengar gugup dan bergetar.
"Kamu ini apa-apaan sih?" Angel kembali buka suara. Dia jelas tidak terima atas perlakuan Hardin terhadapnya. "Aku tahu kamu menikmatinya tadi,"
Hardin semakin dibuat tersudut atas kata-kata yang baru saja dilontarkan Angel. Dan saat dia kembali menoleh ke arah pintu, Reyhan sudah tidak ada disana. Akhirnya Hardin hanya bisa menelan salivanya sendiri.
Ah! Sial! Kenapa juga harus Reyhan yang lihat semuanya! Hardin benar-benar tak habis pikir. Hingga ingatannya tertuju pada seseorang. Seseorang yang sebelumnya dia suruh berjaga di depan pintu ruangannya.
NADIAAAA!!! HABIS KAU!!! Rutuk batin Hardin. Marah, kesal, jengkel seluruhnya menjadi satu dalam benaknya.
Hingga setelahnya perhatian Hardin kembali tersita pada wanita tak tahu diri dihadapannya saat ini. Angel!
"Aku minta sekarang kamu pergi dari sini sebelum semua karyawan yang ada di kantor ini salah paham padaku. Dan aku minta, jangan pernah kamu perlihatkan wajah kamu lagi dihadapanku! Tidak usah berharap apapun dariku karena aku tidak mencintaimu. Aku harap kamu bisa mengerti hal itu!" Hardin kalut. Dia tidak sanggup berpikir apapun lagi sekarang. Yang ada di otaknya kini adalah bagaimana caranya dia meyakinkan Reyhan bahwa apa yang tadi dilihatnya hanyalah kesalahpahaman. Hardin jelas tak ingin Reyhan berpikiran buruk tentangnya.
"Aku tidak mau pergi, sebelum kamu menyetujui satu persyaratan yang aku ajukan. Aku berjanji setelah itu, aku akan melepaskanmu dan tak akan mengganggumu lagi." Angel berkata dengan penuh keyakinan.
"Baiklah, apa persyaratannya?"
"Aku ingin menghabiskan waktu satu malam bersamamu!"
"Apa?" teriak Hardin tak percaya.
Mustahil!!!
***
Reyhan keluar dari ruangan Hardin dengan perasaan yang tidak menentu. Meski dia tak memungkiri bahwa dirinya marah pada Hardin. Tapi Reyhan tidak ingin berpikir buruk dulu. Sebelum dia benar-benar memastikan apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruangan itu. Reyhan tidak mau tertipu oleh pandangannya sendiri sehingga pikiran-pikiran buruk yang akan mendominasi. Reyhan bukan tipe laki-laki seperti itu. Dia cukup dewasa untuk menilai sesuatu tidak hanya dari sisi pandangnya saja.
Di jalan Reyhan berpapasan dengan Nadia yang berlari dengan tergesa-gesa. Dia baru saja keluar dari arah toilet.
"Pak Reyhan?" Pekik Nadia kaget. Dia melihat Reyhan seperti baru melihat hantu.
"Kamu kenapa?" tanya Reyhan bingung.
"Bapak habis darimana?" tanya Nadia yang mulai panik.
"Dari ruangan saya, ternyata Hardin sedang menerima tamu, jadi saya keluar lagi," ucap Reyhan apa adanya.
Nadia menepuk jidatnya dengan sebelah tangan. "Mampus gue!" pekiknya nelangsa.
"Kamu kenapa sih?" tanya Reyhan lagi. Meski dia sudah tidak aneh lagi melihat tingkah laku Nadia yang terkadang sering diluar ekspektasi. Tidak bisa ditebak. Spontan dan penuh kejutan.
"Tolongin saya Pak! Saya dalam masalah besar nih sekarang! Aduh! Alamat di pecat deh ini mah,"
"Kamu tenang dulu, ada apa sebenarnya?" Reyhan memegang ke dua bahu Nadia dengan ke dua tangannya. Wajah laki-laki itu menunduk untuk menyamai wajah Nadia yang tubuhnya memang jauh lebih pendek dari Reyhan.
Nadia melotot. Merasakan tubuhnya seperti di sengat oleh seribu lebah. Rasanya bergetar-getar di hati. Tapi menyenangkan. Apalagi saat wajah Bos tampan itu kini benar-benar mendekat di depan wajahnya.
Dia ini bukan manusia deh kayaknya, lebih pas dibilang malaikat. So sweet banget sih.. Mukanya... Jadi guemeess... Bisik batin Nadia. Dia nerveous.
"Begini Pak..."
Nadia baru ingin bercerita, disaat seseorang kini tengah berjalan memasuki ruangan Personalia. Seorang wanita bercadar yang datang dari arah belakang tempat Reyhan berdiri. Seseorang yang langsung membuat mata Nadia kembali melotot sempurna.
Nadia megap-megap. Seperti ikan yang diangkat dari air. Dia hendak bicara, tapi dia juga sedang nerveous karena perlakuan Reyhan. Jadilah dia kini seperti orang pengidap asma yang penyakitnya sedang kambuh.
"Itu-itu-itu... Ibu Kat-Kat-katrina... Istrinya, Pak Har-din..."
Nadia buru-buru berlari ke arah Katrina. Sebelum dia sempat membuka kenop pintu ruangan direktur utama.
"Bu! Bu! Bu! Tunggu dulu!" Nadia menahan kenop pintu ruangan itu dengan tangannya.
Reyhan yang menyadari hal itupun langsung ikutan panik. Dia ikut berlari ke arah Katrina dan Nadia.
"Ini ada apa ya? Saya mau bertemu suami saya, Kak Reyhan? Sudah mulai bekerja?" ucap Katrina.
Reyhan dan Nadia hanya saling melempar pandang.
"Pak Hardinnya sedang..."
"Hardin kebetulan sedang meninjau bagian Pabrik, Trina. Mau aku antarkan ke sana?" Reyhan langsung menyela. Dia sadar betul jika sampai Nadia yang mencari alasan yang ada bukan alasan yang bisa menyelesaikan masalah melainkan justru alasan yang bisa memunculkan masalah baru. Reyhan sudah sangat paham tulalitnya Nadia.
"Oh iya, Bu. Saya lupa, Pak Hardin sedang tidak diruangan." Nadia ikut menimpali. Dia langsung nyengir kuda.
"Mari kalau mau aku antar," ulang Reyhan, dia sadar harus bertindak cepat sebelum satu di antara dua manusia di dalam ruangan itu ada yang keluar.
Akhirnya Katrinapun menyetujuinya. Dia berjalan mengikuti langkah Reyhan di depannya. Meninggalkan Nadia yang akhirnya bisa bernafas lega. Fiuh... Selamet-selamet. Ucap batinnya tenang.
Tak lama setelah kepergian Reyhan dan Katrina, sosok Angel terlihat keluar dari ruangan Hardin. Wajahnya terlihat bahagia dan begitu bersemangat. Meski dia masih tetap terlihat galak. Nadia menatap sebal pada wanita yang sudah memarahinya dua kali hari ini. Sok cantik... Dasar! Makinya kesal.
Nadia terlalu serius memperhatikan sosok Angel sampai dia tidak sadar bosnya yang bernama Hardin kini sudah berdiri dihadapannya.
"Kamu habis darimana tadi?" ucap Hardin setengah membentak. Membuat Nadia tersentak.
"Pak Hardin?"
"Kenapa tadi Reyhan bisa masuk ke dalam ruangan saya? Kamu kemana tadi?"
"Ng.. Anu Pak, saya... Saya..." Nadia mencoba berpikir keras. Mencari alasan yang pas dari sekedar buang air besar akibat dia terlalu banyak makan sambel pete buatan Bu'de nya pagi tadi. Pedesnya nggak nahan. Tapi enak banget. Sampe Nadia makan tiga porsi dari jatah makannya yang biasa. Alhasil perutnya mendadak mulas dan tak tertahankan.
Aha... Akhirnya Nadia punya ide bagus.
"Saya tadi itu sedang mengalihkan perhatian Ibu Katrina supaya dia tidak masuk ke dalam ruangan ini. Makanya tadi saya sempat pergi beberapa menit dari depan pintu ruangan Bapak. Terus mungkin disaat saya pergi Pak Reyhan dateng deh. Hayooo.. Bapak pilih mana, Pak Reyhan yang masuk apa Ibu Katrina yang masuk?" Nadia tersenyum licik. Akhirnya dia punya alasan bagus. Pinter juga lo, Nad! Puji Nadia dalam hati. Bangga.
Kali ini gantian, wajah Bosnya yang mendadak panik.
"Jadi, Katrina tadi kesini?"
"Iya Pak. Sekarang Ibu Katrina lagi sama Pak Reyhan di Pabrik. Soalnya tadi alesannya Bapak itu lagi di Pabrik."
Hardin langsung mengambil langkah seribu. Menuju pabrik. Enak sekali Reyhan, bisa-bisanya dia mengambil kesempatan dalam kesempitan. Pikir Hardin, geram.
Dia tidak terima.