"Halo Kisya?"
"Ya, ha-halo Pak..."
"Kamu kenapa? Kamu sedang sakit?" tanya Hardin saat didengarnya suara Kisya yang agak bergetar. Seperti orang yang kaget.
"I-iya, Pak. Saya sedang kurang enak badan, Pak."
"Ya sudah, kamu ijin pulang saja kalau begitu. Saya cuma mau peringatkan lagi padamu tentang kerjasama kita dengan Mr. Kennedy, saya pikir kamu itu sudah paham kemauan klien penting kita itu seperti apa. Lain kali jangan ceroboh seperti ini lagi ya, Kisya. Jika anak buah Mr.Kennedy menghubungi lagi, langsung beritahu saya. Tidak usah pakai perantara dengan siapapun. Mr.Kennedy itu hanya mau berurusan langsung dengan saya, bukan yang lain. Dan lagi, katakan pada Dimas, masalah kode Brankas file dan dokumen rahasia perusahaan, dia belum perlu mengetahuinya jika keperluannya tidak mendesak sekali. Sudah itu saja," Hardin mengakhiri teleponnnya dengan Kisya. Dia benar-benar merasa ada yang aneh dengan gelagat Kisya akhir-akhir ini, semenjak kepindahannya ke Bandung. Ah, entahlah, Kisyakan baru saja menikah, mungkin dia sedang ada problem dalam rumah tangganya, ya, siapa tau. Hardin mencoba untuk berpositif thingking.
"Permisi, Pak Hardin?" suara Nadia terdengar dari balik pintu ruangan yang sudah dia buka separuh.
"Ada apa?"
"Ada telepon dari Mba Angel Kamila,"
Deg!!!
Hardin berpikir cukup lama, hingga akhirnya dia mengatakan sesuatu dengan suara pelan, "Katakan saja, saya tidak ada."
Selanjutnya, Nadia mengangguk, paham.
Hardin mengetuk-ngetuk jari jemarinya di atas meja kerja. Mencoba menebak-nebak ada keperluan apa Angel mencarinya? Tapi tak ditemukannya juga jawaban itu, hingga akhirnya Hardin beranjak dari kursi kerjanya menuju ruangan Nadia.
"Tadi Angel mengatakan apa saja ditelepon?" tanyanya penasaran.
"Tadi sih, dia sepertinya marah pada saya, dia bilang, KAMU JANGAN COBA-COBA UNTUK PERMAINKAN SAYA YA, KEMARIN KAMU BILANG HARDIN DIJAKARTA. TAPI SEKRETARIS HARDIN DI JAKARTA BILANG HARDIN SEDANG ADA DI BANDUNG SAAT INI. KAMU TAHUKAN SIAPA SAYA? SAYA PALING TIDAK SUKA KALAU SAMPAI ADA ORANG YANG MEMPERMAINKAN SAYA. Begitu, Pak..."
Tawa Hardin hampir pecah melihat Nadia dengan mimik mukanya yang terlihat sangat lucu saat dia memperagakan menjadi Angel tadi. Tapi hal itu berhasil Hardin tahan. Gengsi sekali harus tertawa di hadapan sekretaris bloon ini. Nanti yang ada dia malah kegeeran.
"Baiklah, besok-besok kalau sampai wanita itu menelepon apalagi mencari saya kesini, bilang saja saya tidak ada. Mengerti, Nadia?"
"Siap Pak!"
Hardin tersenyum tipis pada Nadia. Tipis sekali.
"MasyaAllah, Pak. Saya tidak bermimpikan dapet senyumnya bos besar pagi-pagi begini? Saya pikir Bapak itu bisanya cuma marah-marah saja. Ternyata masih bisa senyum juga, itu tandanya Bapak masih masuk dalam kategori pemimpin normal."
"Apa kamu bilang? Jadi secara tidak langsung kamu mau mengatakan saya ini gila?" Hardin mulai dibuat kesal kembali oleh kata-kata Nadia yang seringkali ceplas-ceplos.
"Tidak, saya tidak bilang begitu. Ih... Bapak nih baper amat jadi orang,"
Urgghhh! Hardin menggeram dalam hati. Kalau bukan wanita rasanya ingin Hardin acak-acak kepala sekretaris satu ini. Belum lagi mulutnya yang kalau bicara tidak bisa disaring dulu. Huft, Hardinpun melangkah meninggalkan Nadia. Kepalanya mulai mendidih lagi.
***
Seorang wanita bertubuh tinggi semampai, langsing dan berkulit putih dengan rambut panjang berwarna merah maroon terlihat berjalan memasuki salah satu gedung perkantoran besar di daerah Bandung.
Dia berjalan cukup tergesa-gesa. Sampai dia menabrak seseorang saat hendak masuk ke dalam lift.
Reyhan cukup kaget saat tubuhnya tiba-tiba ditubruk oleh seorang perempuan dengan pakaian yang sangat minim yang tiba-tiba main nyelonong masuk begitu saja ke dalam lift dengan setengah berlari, tanpa menyadari bahwa dari arah sampingnya juga ada orang lain yang hendak masuk ke dalam lift. Hingga akhirnya wanita itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh menimpa tubuh Reyhan yang sudah lebih dulu ada di dalam lift itu.
"Eh, maaf..." ucap wanita seksi itu sambil menyunggingkan senyumnya yang manis kepada Reyhan yang berhasil menyangga tubuh wanita itu dengan ke dua tangannya supaya tidak benar-benar jatuh.
"Terima kasih." ucapnya lagi. Masih dengan senyum yang sama.
Reyhan yang hari ini baru mulai masuk kantor jadi kikuk ketika harus dihadapkan dengan wanita cantik nan seksi seperti wanita di sampingnya sekarang. Lumayan dapet hiburan pagi-pagi. Diapun membalas senyuman manis si wanita itu dengan senyum andalannya. Dan diam-diam Reyhan mencuri pandang sesekali ke arah wajah si wanita itu yang tertutup kacamata glossy berwarna hitam.
Bukankah dia ini wanita yang tempo hari sedang bersama Dimas di depan minimarket? Pikir Reyhan membatin.
Lift berhenti di lantai dua dan seorang laki-laki setengah baya terlihat masuk ke dalam lift itu, dia langsung tersenyum sumringah mendapati sang Manager akhirnya kembali juga ke kantor, setelah tiga bulan lamanya dia cuti.
"Apa kabar, Pak Reyhan? Akhirnya kembali juga. Saya ini sempat kewalahan disini semenjak ditinggal pergi oleh Pak Reyhan," ucap laki-laki bernama Wisnu Suryo itu.
"Ah, Pak Wisnu ini suka berlebihan. Padahal Bapak yang lebih berpengalaman dari saya dalam hal mengurus perusahaan," ucap Reyhan merendah.
"Oh ya, Pak, kita ke pabrik dulu sekarang bisa? Kemarinkan sempat ada beberapa mesin di pabrik yang trouble, tapi sekarang sih sudah beres semua, cuma kemarin bagian kepala pabrik bilang ingin bertemu dengan Pak Reyhan kalau Pak Reyhan sudah kembali. Dia ingin menunjukkan kepada Bapak mengenai mesin baru yang akan kita pesan untuk menambah laju produksi, dia ingin mendengar pendapat dari Pak Reyhan langsung,"
"Oh, bisa-bisa. Kita kesana sekarang,"
"Oke, baik. Pak. Berarti kita turun lagi ya?"
Begitu lift berhenti di lantai lima, wanita seksi itu keluar dari lift dan berjalan ke arah ruangan personalia. Sementara Reyhan dan Pak Wisnu menekan tombol lift agar kembali ke bawah.
Dalam hati Reyhan masih terus berpikir ada keperluan apa wanita itu datang ke kantor pagi-pagi begini? Kalaupun dia mau melamar pekerjaan ataupun interview, mana mungkin pakaiannya seperti itu. Mustahilkan?
Di ruangan yang berbeda, wanita itu kini sedang bercakap dengan Nadia.
"Pak Hardinnya sedang tidak ada di tempat, Mba Angel," ucap Nadia gugup. Mampus, kena semprot lagi deh nih gue! Pekiknya dalam hati.
"Kamu jangan bohong ya, kalau kamu tidak mau memanggil Hardin keluar, biar saya saja yang langsung mengecek sendiri ke ruangannya!" ancam wanita yang bernama Angel itu.
Nadia panik saat tiba-tiba Angel mulai melangkahkan kakinya ke arah ruangan Direkrut Utama. Wanita berhijab itupun menahan Angel di depannya seraya merentangkan ke dua tangannya ke samping.
"Mba dilarang masuk begitu saja kalau tidak ada perintah," ucap Nadia. Aduh gimana nih, maju kena mundur kena gue! Serba salah jadinya! Apes banget sih hari ini! Nadia terus menggerutu di dalam hatinya.
Nadia sendiri sebenarnya memang kurang sreg jika harus bekerja dengan Hardin. Sebab setiap kali dia harus berurusan dengan Hardin, pasti ada saja masalah yang harus dia hadapi di kantor. Berbeda jauh jika dia bekerja dengan Reyhan. Laki-laki itu sangat baik pada Nadia, ramah, murah senyum dan yang pasti dia sangat sabar menghadapi Nadia. Itulah alasannya Nadia diam-diam menyimpan rasa pada Bosnya yang bernama Reyhan itu.
"Kamu ini apa-apaan sih? Saya mau masuk, awas nggak?" bentak Angel.
"Saya bilang nggak boleh ya nggak boleh! Kok maksa sih Mba? Nanti saya panggilin security loh," balas Nadia dengan bentakan yang sama.
Tapi sialnya Angel tidak takut dengan ancaman Nadia, diapun menyerobot pertahanan Nadia dengan menginjak kaki Nadia dengan heelsnya yang runcing. Membuat Nadia berteriak kesakitan. Lalu Angelpun masuk ke dalam ruangan itu.
Dimana seseorang yang dia cari sejak satu minggu yang lalu tengah asyik berkutat dengan layar laptopnya.
"Benarkan, ternyata kamu ada disini?" ucap Angel kemudian. Membuat laki-laki dihadapannya terkejut bukan main.
"Angel?" seru Hardin, hampir tak bersuara.
Nadia terlihat menyusul masuk. Wajahnya masih meringis.
"Maaf Pak, Mba Angel, memaksa untuk masuk Pak. Padahal sudah saya larang tadi,"
Hardin bangkit dari duduknya, dia berjalan melewati Angel yang berdiri sambil melipat tangannya di depan d**a. Mata elang wanita itu tak lepas menatap marah pada Hardin.
Hardin mendorong tubuh Nadia mengajak Nadia keluar dari ruangannya.
"Kali ini kamu saya maafkan. Dan sekarang saya perintahkan untuk kamu stanby di sini sampai saya dan Angel selesai bicara. Jangan pergi kemana-mana. Kamu jaga pintu ini jangan sampai ada siapapun yang masuk ke dalam. Ingat kalimat saya, SIAPAPUN! Mengerti?" perintah Hardin pada Nadia.
Nadia mengangguk tanda mengerti. Lalu Hardinpun kembali masuk ke dalam ruangannya. Dilihatnya Angel masih berdiri di tempat semula.
Dan saat Hardin menghampirinya, Angel justru langsung menghambur ke arah Hardin dan memeluk laki-laki itu dengan sangat kuat.
"Aku merindukanmu, Hardin!"