Hari ini Katrina sangat gembira. Bibi Atiqah dan kedua anaknya, Fatia yang berumur empat tahun dan Yusuf yang berumur sepuluh tahun memutuskan untuk menginap di rumah Hardin untuk beberapa hari.
Rumah besar ini terlihat ramai sekali. Apalagi saat Fatia terlihat gemas pada Yumna. Fatia terus menerus menciumi pipi chuby Yumna. Bahkan dia bilang pada Uminya, untuk segera memberinya adik seperti Yumna. Hingga membuat semua orang di depan ruangan tv itu tertawa.
"Fatia ini memang suka sekali dengan bayi, bahkan dia selalu bilang pada Bibinya Zaenab untuk segera mengeluarkan bayi di dalam perut Zaenab. Selama Zaenab hamil, dia terus menerus mendekati dan mengelus-elus perut Zaenab yang sudah mulai besar. Dan saat perut itu terlihat bergerak-gerak sendiri, dia malah ketakutan, dasar Fatia." cerita bibi Atiqah pada seluruh keluarga.
"Dulu, Zaenab juga pernah mengalami keguguran seperti Katrina, tapi lihat sekarang dia bahkan sudah memiliki tiga orang anak, mau empat malah. Saya saja yang lebih tua, kalah dengan Zaenab. Jadi, untuk Trina, tidak usah terlalu larut dalam kesedihan, siapa tahu nanti sekalinya diberi anak lagi bisa kembar sepuluh,"
Hardin langsung melotot.
"Kembar sepuluh? Itu bagaimana nanti menyusuinya, Bi?" ucap Hardin, matanya melirik jahil pada Katrina di sebelahnya.
Katrina cemberut. Hardin ini kalau bicara selalu sembarangan. Selalu saja membuat istrinya jadi merasa malu, meski sebenarnya Katrina terhibur dengan guyonan-guyonan suaminya itu.
"Kasihan nanti Bi, anak-anakku harus antri dulu kalau haus," lanjut Hardin lagi. Dia tertawa kecil.
"Lebih kasihan anaknya atau ibunya?" sambung Opah ikutan meledek.
"Ya jelas lebih kasihan anak-anakkulah, kalau ibunya sih, biarkan saja."
Katrina mencubit pinggang suaminya. Membuat Hardin meringis tipis. Tapi akhirnya mereka justru saling melempar senyum.
Semua orang disana tertawa melihat mereka. Hardin pun ikut senang. Malam ini dia bisa melihat senyum di wajah istrinya mulai kembali. Apalagi ada Fatia dan Yusuf di sana yang terlihat duduk mengelilingi Yumna di pangkuan Katrina. Sepertinya mereka memang sangat menyukai Yumna.
"Kasus penggelapan uang negara senilai tiga Triliun Rupiah yang dilakukan oleh ketua Partai Merah Putih, Wibowo Hadi Sastro Sudiro kini mulai memasuki babak sidang pertama. Tapi sidang dilakukan secara tertutup dan tidak ada satu awak mediapun yang boleh meliputnya. Pasalnya dari pihak jaksa penuntut tidak menginginkan hal ini menjadi konsumsi publik hingga menimbulkan kericuhan dari para pendukung partai. Dari kabar yang beredar tim kuasa hukum Partai Merah Putih menjelaskan bahwa kasus yang menjerat Ketua Umumnya adalah fitnah. Mereka baru mendapati informasi baru-baru ini. Setelah mereka kemarin-kemarin dilarang keras menemui ketua umum partai mereka sendiri. Bapak Wibowo Hadi sendiri tidak banyak memberikan konfirmasi terkait atas kasus yang menjeratnya. Hal itu yang semakin membuat publik naik pitam dan semakin menyudutkan dirinya sebagai pihak yang bersalah. Dalam sebuah kesempatan dia hanya mengucapkan sebuah kalimat pendek yang bernada pelan, sebagai berikut, "Semua masalah yang menjerat saya saat ini, saya serahkan seluruhnya pada Allah SWT. Sesungguhnya dia yang maha adil dan maha bijaksana. Terima Kasih." Kini pihak partai sudah bisa melakukan pembelaan terhadap ketua umum mereka. Dan mereka mengatakan akan memperjuangkannya sampai titik darah penghabisan. Demikian Indo News malam ini, saya Audi Akbar melaporkan langsung dari depan gedung..."
Saluran itu tiba-tiba berganti menjadi channel lain. Hardin yang menekan tombol remote tv-nya. Membuat beberapa pasang mata di ruangan itu yang terlihat fokus menyaksikan berita itu langsung menatapnya protes.
"Kok di pindah sih?" protes Katrina.
"Sejak kapan kamu suka berita tentang koruptor?" tanya Hardin acuh.
"Laki-laki itu kelihatannya baik. Kalau sampai dia itu terbukti di fitnah, sungguh dosa dari fitnah itu sangatlah besar. Semoga Allah SWT memberinya kemudahan untuk melewati masalahnya. Kasihan sekali dia," jelas Katrina panjang lebar.
"Sekali koruptor tetap saja koruptor, Sayang..."
"Apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai." Kali ini Omah terlihat menimpali.
"Laki-laki sombong dan angkuh seperti Hadi itu memang pantas mendapat hukuman," Opah ikutan bicara. Dan hal itu membuat Katrina bingung. Sepertinya mereka ini mengenal sekali sosok laki-laki bernama Wibowo Hadi itu.
"Ucapannya itu masih saja terngiang di telinga Omah sampai sekarang. Omah saja merasa sangat..."
"Sudah Omah, tidak usah dibahas." potong Hardin. Kepalanya mendadak mendidih setiap kali mengingat hal itu. Kejadian sepuluh tahun yang lalu, saat laki-laki koruptor itu dengan teganya mencaci maki ke dua orang tuanya. Kata-katanya sungguh membuat Hardin marah. Meski setelahnya dia tidak memungkiri satu hal, yaitu sebuah kesalahan terbesar dalam sejarah kehidupannya. Sebuah kesalahan yang akhir-akhir ini sangat-sangat dia sesali. Dan perasaan bersalah itu hadir sejak Hardin mulai mendekatkan dirinya pada sang maha pencipta.
Bahkan disetiap sujudnya, Hardin seringkali terbayang pada wajah gadis lugu yang telah dia renggut kesuciannya secara paksa. Sampai akhirnya gadis itu hamil. Tapi lagi dan lagi, Hardin yang saat itu masih dalam keadaan labil, dengan cara berpikirnya yang tidak panjang, justru meremehkan hal itu dan menganggapnya tidak penting. Sampai dia tega mengeluarkan kata-k********r pada gadis itu hanya sebagai bahan pelampiasan emosinya terhadap sadisnya kata-kata Ayah dari si gadis terhadap keluarganya.
Dan sampai detik ini Hardin tak pernah lagi mendengar kabar gadis itu, semenjak dia dikirim keluar negeri oleh Ayahnya yang sok berkuasa itu.
Meski jauh di dalam lubuk hatinya, Hardin selalu berdoa untuk kebahagiaan gadis itu beserta anaknya, dimanapun mereka berada sekarang. Semoga mereka baik-baik saja.
Nada dering landscape dari ponsel Hardin terdengar. Sebuah telepon masuk. Hardin mengeluarkan ponselnya dari saku celana pendeknya.
Dari Dimas.
Hardinpun beranjak ke teras rumahnya di depan kolam renang. Sebab di ruang tv sedang berisik sekali.
"Halo, Dim? Ada apa?"
"Saya cuma mau info, besok ada meeting dengan Mr.Kennedy, Pak. Kisya bilang, kode brankas file penting perusahaan hanya Pak Hardin dan Pak Reyhan yang tahu. Saya mau meminta kode itu dari Bapak, karena saya memerlukan kode untuk mengambil file dokumen mengenai perjanjian kerjasama perusahaan dengan Mr.Kennedy Pak."
"Besok ada jadwal meeting dengan Mr.Kennedy? Kenapa kamu baru beri tahu saya sekarang?" ucap Hardin yang terkejut mendengar nama Mr.Kennedy disebut. Beliau itu satu-satunya partner bisnis Hardin yang mau bekerja sama dengan perusahaannya untuk memasarkan produk-produk company group ke luar negeri. Semenjak bekerja sama dengan Mr.Kennedy perusahaan Hardin di Jakarta terus melejit dalam bidang pemasaran. Produksi mereka kian hari kian bertambah dan meluas keseluruh pelosok asia bahkan sudah mulai merambah ke eropa. Dan sepengetahuannya selama ini, Mr.Kennedy itu tidak pernah mau jika harus berurusan dengan lain orang selain Hardin sendiri.
"Saya pikir Bapak sekarang itukan sedang sibuk mengurus istri Bapak di Bandung, jadi biar saya saja sendiri yang mengurus kerjasama dengan klien, Pak."
"Memang Kisya tidak bilang bahwa Mr.Kennedy tidak mau jika pertemuannya diwakilkan siapapun kecuali saya. Dan kalaupun saya sedang berhalangan hadir, dia pasti bersedia mengundur waktu pertemuan sampai saya ada waktu. Kisya bagaimana sih? Kenapa dia tidak konfirmasi hal ini langsung kepada saya?"
"Hmm... Maaf pak, kalau saya salah. Saya tidak tahu, Pak. Kisya tidak bilang apa-apa pada saya Pak."
"Yasudah, nanti biar saya saja yang langsung menghubungi Mr.Kennedy."
Hardin menutup telepon itu dengan perasaan kesal. Bagaimana Kisya bisa seceroboh itu, jelas-jelas dia tahu bagaimana watak Mr.Kennedy. Sebab satu hal yang Hardin tahu, biasanya para pebisnis asing itu sekalinya mereka kecewa, akan sulit bagi kita membangun kembali kepercayaan mereka. Dan Hardin jelas tidak menginginkan hal itu terjadi.
Katrina menghampiri Hardin saat Hardin baru saja mengakhiri pembicaraannya di telepon.
Dia menepuk bahu suaminya lembut lalu duduk di sebelah Hardin.
"Ada masalah di kantor?" tanya Katrina, ketika dilihatnya wajah suaminya yang agak kesal.
Hardin menoleh dan tersenyum.
"Tidak ada apa-apa sayang. Yumna sudah tidur?"
"Sudah, baru aku taruh di kamarnya. Bibi Atiqah, Omah dan Opah juga sudah istirahat semua,"
"Ya sudah, kalau begitu aku juga mau istirahat. Ayo, kamu juga harus istirahat,"
Hardin menggenggam tangan Katrina dan mengajaknya bangkit dari sisi kolam renang.
"Hardin.."
"Ya, apa?"
"Kamu lelah?"
"Tidak, biasa saja."
"Oh..."
Hardin menangkap hal tak biasa dari gelagat istrinya. Seolah ingin meminta sesuatu tapi dia malu untuk mengutarakannya.
Terlebih saat sikapnya terlihat sedikit manja. Katrina terus bergelayut pada lengan Hardin sepanjang perjalanan mereka menuju kamar.
"Kamu kenapa, Trina?" tanya Hardin lagi. Mungkinkah Katrina sudah siap untuk menyudahi masa liburnya? Kalau benar begitu Hardin akan sangat senang.
Katrina menggigit bibir bawahnya. Membuat Hardin gemas.
"Tidak apa-apa. Ya sudah, katanya kamu mau istirahat? Aku mau ganti baju dulu,"
"Bajunya yang seksi ya," goda Hardin, membuat wajah Katrina tersipu.
Junior dibalik celananya mulai menegang, hanya karena dia mulai membayangi tubuh istrinya yang mungil itu terbalut baju tidur yang seksi. Juniornya ini memang terkadang tidak bisa di ajak kompromi. Sering sekali dia membuat Hardin gelisah bahkan hanya karena hal-hal sepele. Dan kalau sudah begini Hardin sendirikan yang repot.
Dan benar saja. Katrina keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidur yang dia pakai sewaktu malam pertama mereka.
"Kamu ini memang mau menarik perhatianku atau hanya sekedar meledek saja?" ucap Hardin. Dia benar-benar sudah di puncak.
Katrina tidak menjawab. Dia justru merebahkan tubuhnya di sisi lain tempat tidur. Dalam hati Katrina sebenarnya tertawa geli. Dia sangat senang menggoda suaminya.
"Kalau begini terus, masa liburmu akan kupastikan selesai malam ini?" Hardin kembali bicara. Nadanya terdengar mengancam.
Tapi lagi-lagi Katrina hanya diam seribu bahasa. Dia tidur membelakangi Hardin. Pakaian tidurnya yang pendek terlihat terangkat sebagian.
"Trina, aku bicara denganmu,"
"Trina?"
"Kamu tidur?"
"Oke kalau kamu tidak menjawab juga, aku mulai sekarang! Jangan salahkan aku ya,"
Katrina merasakan tubuh Hardin mulai menghimpitnya dari belakang. Tangan laki-laki itu mulai menelusuri pangkal paha Katrina. Menghadirkan sensasi geli yang menyenangkan.
Malam itu mereka memulainya dengan foreplay yang cukup panjang. Hingga akhirnya Hardin hendak mengakhirinya dengan rutinitas terakhir yang paling dia tunggu-tunggu, saat tangannya hendak melepas celana dalam Katrina, tiba-tiba saja tangan Katrina menahan tangannya, lalu istrinya itu berbisik di telinga Hardin.
"Aku masih halangan!" Belum selesai."
Hardin pun melongo.
Yah... Kentang... Pekiknya dalam hati.
Kesal!