17. ANGEL KAMILA

1359 Kata
Lampu hijau sudah menyala, Reyhan mulai melajukan kembali kendaraannya. Memasuki jalan Arcamanik. Dia berkendara dengan kecepatan sedang. Karena jalur jalan raya Arcamanik yang cukup padat siang itu. Reyhan masih menunggu adiknya menjawab pertanyaan yang dia ajukan, ketika mobilnya tiba-tiba mogok di tengah jalan. Untung saja mereka mengenakan sabuk pengaman jadi tubuh mereka tidak terbentur dahsboard mobil. Tapi sial bagi Gibran yang tubuhnya tiba-tiba jatuh terguling ke bawah saat mobil Reyhan tiba-tiba berhenti. Karena saat itu dia sedang dalam posisi tidur telentang di jok belakang. Bocah laki-laki itu bangun sambil meringis memegangi kepalanya yang sedikit sakit. "Kenapa sih Om? Kok tiba-tiba berhenti?" ucapnya sambil cemberut. Dia protes pada Reyhan. "Kenapa Kak? Kok berhenti?" tanya Luwi bingung. Reyhan berdecak. "Sepertinya mogok, soalnya mobil ini terlalu lama tidak dipakai, selama aku di London kemarin," Suara berisik klakson mobil di belakang mereka membuat Reyhan mau tak mau harus cepat-cepat turun dari mobil. Dia meminta bantuan pada beberapa tukang asongan dan orang-orang di sekitar untuk membantunya mendorong mobilnya ke tepi agar tidak mengganggu laju lalu lintas dibelakangnya. Akibat insiden itu jalur di sepanjang jalan Arcamanik sempat macet selama beberapa menit. Kebetulan mereka berhenti di dekat sebuah bengkel, jadi Reyhan tidak perlu repot-repot menelepon montir online. Saat itu Luwi dan Gibran sedang mampir ke minimarket terdekat untuk membeli minuman. Reyhan berdiri di sebelah montir yang baru saja membuka kap mobilnya untuk memeriksa masalah pada Grand livina putih itu. "Ini sih air radiatornya Mas, habis. Makanya mesinnya mati." ucap si montir yang mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya yang terkena asap dari mesin mobil Reyhan yang mengepul. "Liat aja sampe ngebul begitu mesinnya," "Mobil ini sudah tiga bulan tidak terpakai, Pak." "Hmm, pantes. Yaudah saya isi dulu air radiatornya. Mas duduk aja dulu, nggak lama kok." Reyhan duduk di bangku yang disediakan oleh montir tersebut, di tepi trotoar tak jauh dari bengkel si montir. Reyhan menoleh ke arah minimarket yang tadi dimasuki oleh Luwi dan Gibran. Lalu pandangannya memperhatikan sekeliling jalanan sekitar. Kondisi jalan raya yang cukup padat menimbulkan polusi udara yang jelas tidak baik bagi kesehatan. Asap-asap kendaraan itu menambah cuaca di siang ini menjadi semakin panas menyengat. Ditambah sinar matahari yang terik membuat Reyhan mengernyitkan dahinya karena silau. Reyhan menghembuskan nafasnya cepat seraya mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah. Peluh di dahinya terlihat menetes. Dia membuka kemeja luarnya dan menyisakan kaus press body putih yang terlihat pas membalut tubuhnya yang tidak gemuk, tapi juga tidak kurus. Namun otot-otot di tangannya terlihat jelas. Meski tubuhnya tidak seatletis tubuh Hardin, tapi sebagai seorang laki-laki Reyhan juga seringkali ikut gabung dengan Hardin untuk nge-gym di waktu senggang yang dia miliki. Tak jauh dari tempat Reyhan berdiri sekarang, dia melihat sebuah Honda Jazz merah berhenti di depan minimarket. Lalu keluar seorang wanita dengan pakaian yang sangat seksi dari jok penumpang bagian depan. Dari ekspresinya wanita itu terlihat sangat marah. Dan tak lama kemudian seorang laki-laki keluar dari bagian kemudi mobil itu. Dan ketika Reyhan memperhatikan dengan seksama, sepertinya laki-laki itu tidak asing. Dia seperti pernah melihat laki-laki itu, tapi dimana? Reyhan terus mengingat-ingat. Bukankah dia itu asisten barunya Hardin di Jakarta? Siapa namanya? Oh, ya... Dimas. Reyhanpun mengingatnya. Tapi, sedang apa dia di Bandung? Bukankah seharusnya dia sekarang di Jakarta? Luwi dan Gibran baru saja keluar dari minimarket. Tatapan Luwi tak henti melihat ke arah dua sejoli di depan honda jazz merah yang terparkir di depan minimarket. "Gue bisa jelasin semuanya. Aldo itu masih sayang banget sama lo Angel! Kok tega-teganya sih lo ceraikan dia?" ucap Laki-laki bertubuh tegap dengan kepala pelontosnya yang tangannya kini memegangi tangan si wanita, tapi langsung di tepis kasar oleh si wanita. Luwi hanya tersenyum tipis seraya geleng-geleng kepala. Jaman sekarang ini, banyak sekali orang-orang yang tidak tahu malu, membicarakan masalah keluarga di tempat umum. Pikir Luwi, heran. Dia berlalu dari hadapan dua sejoli itu dan menyusul Reyhan di depan. "Ini, Kak. Minum dulu, hauskan? Kalau cuaca panas begini enaknya minum yang dingin-dingin," Luwi menyodorkan sebotol minuman dingin pada Reyhan. Pandangan Reyhan langsung beralih pada sebotol minuman dingin didepan wajahnya. Sepertinya sangat menggiurkan. Reyhanpun meminum minuman dingin itu dalam satu tenggakan. Kebetulan dia haus sekali. Setelah itu tatapan Reyhan kembali pada Dimas dan wanita itu. Dan kalau Reyhan tidak salah ingat sepertinya wanita itu juga tidak asing. Hanya saja ingatan Reyhan kali ini sepertinya kurang mendukung. "Nih udah kelar Mas, coba dinyalain dulu mesinnya," panggilan sang montir yang mengatakan sudah selesai dengan pekerjaannya langsung mengalihkan perhatian Reyhan. Siang itu, Reyhan, Luwi dan Gibran pun melanjutkan perjalanan mereka menuju sebuah sekolah favorit di daerah Cicadas, Bandung. Dan di dalam mobil Luwi bisa bernafas lega ketika Reyhan sepertinya sudah melupakan pertanyaannya mengenai laki-laki di masa lalunya itu. Luwi cukup tahu diri. Hidup Reyhan sudah cukup disulitkan oleh kehadiran mereka berdua, jadi mana mungkin sekarang Luwi harus membuat sang Kakak jadi bertambah repot untuk sekedar mencari laki-laki yang sudah menyakiti Luwi dan mematahkan hatinya. Meski Luwi tak menampik satu hal, besar harapannya kalau suatu hari nanti dia kembali dipertemukan dengan laki-laki di masa lalunya itu. Laki-laki pertama yang membuatnya jatuh cinta dan patah hati secara bersamaan. Jadi biarlah, Allah SWT sendiri yang mengaturnya nanti... Pikir batin Luwi. ***** Hari ini Hardin mulai kembali masuk kantor, setelah kemarin Katrina sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Hardin sengaja meminta Bibi Atiqah dan anak-anaknya tinggal di rumahnya untuk beberapa hari. Jika rumah itu ramai, mungkin Katrina bisa sedikit melupakan perasaan atas kehilangan calon anak mereka. Terlebih wanita itu tak hentinya meminta maaf pada Hardin karena merasa bersalah telah mengecewakan suaminya. Hardin sendiri tidak memungkiri hal itu, dia sangat-sangat terpukul saat mengetahui Istrinya mengalami keguguran. Padahal Hardin sudah sering bermimpi dia dan Katrina bisa segera memiliki momongan. Tentu mereka akan menjadi pasangan yang paling bahagia di dunia. Tapi apalah daya jika Allah tidak berkenan. Mungkin Hardin hanya perlu lebih bersabar lagi. Dia percaya semua akan indah pada waktunya. Dan saat ini, Hardin hanya ingin Katrina bisa melewati masa berdukanya untuk kemudian memulai kehidupannya kembali seperti sedia kala. Menjadi sosok Katrina yang sangat Hardin rindukan. Hardin mulai melangkah menuju ruangannya, ralat, maksudnya ruangan Reyhan yang dulu pernah menjadi ruangannya sebelum kepindahannya ke Jakarta. "Loh, Pak Hardin? Ngapain Bapak kesini? Bukannya seharusnya Bapak itu sekarang tugas di Jakarta?" ucap sebuah suara cempreng yang terdengar nyelekit di telinga Hardin. Nadia. Sekretarisnya Reyhan di Bandung, yang dulu adalah sekretaris Hardin juga. Hardin melenguh tertahan. Matanya mendelik ke atas. Hardin pikir Reyhan sudah memecat gadis ini. Ternyata dia masih bekerja di sini. Pikir batin Hardin, geram. "Ngapain? Kamu tahukan ini perusahaan milik siapa?" ucap Hardin sedikit nyolot. Matanya melotot pada Nadia. "Milik Bapak." ucap Nadia dengan wajah polosnya. "Nah sekarang masalahnya dimana? Mau saya di Jakarta atau di sini, ya terserah saya dong!" Nadia ini adalah gadis berhijab yang sudah cukup lama bekerja di kantornya di Bandung. Kalau bukan karena dia adalah anak dari rekan Opahnya, sudah lama Hardin ingin memecatnya. Karena selama bekerja dengannya Hardin kerap dibuat kesal. Nadia ini berbeda jauh dengan Kisya, sekretarisnya di Jakarta yang pintar dan cekatan dalam bekerja. Nadia ini cenderung ceroboh dan agak tulalit. Telmi. Lemot dan apalah itu, yang jelas Hardin sama sekali tidak menyukainya. Meski Hardin tidak memungkiri satu hal yang menjadi satu-satunya kelebihan gadis ini, dia cantik. "Maaf Pak, sayakan cuma tanya. Gitu aja langsung sewot. Nanti cepet tua loh Pak." Hardin makin dibuatnya jengkel. Hingga akhirnya dia memilih untuk hengkang dari tempat itu. Tapi belum sempat Hardin membuka pintu ruangannya, suara Nadia kembali terdengar memanggil namanya. "Oh iya Pak, Hardin. Saya baru ingat, beberapa hari yang lalu ada seorang wanita yang mencari Bapak kesini. Cantik sekali Pak. Dan waktu saya ingat-ingat wajahnya itu mirip dengan model majalah dewasa yang pernah saya lihat. Biasanya di majalah itu dia foto hanya menggunakan bikini, malah ada yang pernah hampir topless, Pak. Saya saja sampai kaget waktu dia kesini cari Bapak. Terus saya bilang kalau Bapak sekarang sedang di Jakarta. Pakaiannya waktu ke sini itu seksi sekali, Pak. Sampai..." "Bisa lebih dipersingkat?" potong Hardin. Dia mulai gerah dengan ocehan sekretarisnya yang satu ini, yang kalau sudah bicara seperti tidak punya rem. "Siapa namanya?" lanjut Hardin. Sabar.. Sabar Hardin.. "Namanya, Angel Kamila, Pak." Untuk apa dia mencariku? Tanya Hardin membatin dan mulai melangkah masuk ke dalam ruangannya. Perasaannya mendadak tidak enak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN