15. KEGUGURAN

1344 Kata
Reyhan sengaja memilih rumah sakit Santosa Bandung sebagai alternatif pengobatan untuk Gibran. Karena rumah sakit Bandung satu ini dikenal memiliki layanan standar internasional yang tak hanya bekerjasama dengan instansi lokal, tapi juga institusi kesehatan luar negeri. Dan salah satu peralatan canggih di sini adalah MSCT Scan-64 Slice, yang bisa mendeteksi penyakit jantung sejak dini. Reyhan berharap penyakit jantung Gibran bisa sembuh jika Gibran menjalani pengobatan rutin di sini. Meski kemungkinan untuk sembuh dari penyakit jantung bawaan sangatlah kecil, tapi Reyhan tidak mau patah semangat sebelum berjuang. Mereka baru saja menerima nomor antrian untuk pengobatan jantung Gibran. Sementara untuk luka memar di punggung Luwi sudah tidak terlalu sakit. Jadi Luwi meminta Reyhan untuk tidak perlu mengkhawatirkan dirinya. Luwi cukup tahu diri untuk tidak lebih merepotkan sang Kakak. Reyhan sudah mengeluarkan banyak biaya untuk membayar pengobatan Gibran, belum lagi biaya hidup dirinya dan Gibran yang kini menjadi tanggungan Reyhan sepenuhnya. Hal itu sudah cukup menyulitkan Reyhan, meski Luwi tahu Reyhan sama sekali tidak merasa terbebani dengan kehadiran mereka, tapi tetap saja Luwi merasa tidak enak hati. Luwi merasa bahwa kehadiran dirinya dan Gibran di dalam hidup Reyhan tak bedanya dengan benalu yang menghinggapi pohon supaya dapat bertahan hidup. Reyhan, Luwi dan Gibran sedang membeli cemilan di kantin rumah sakit ketika seorang wanita bercadar berdiri di sebelah Reyhan. Wanita itu sepertinya ingin membeli sesuatu. Hal itu menyita perhatian Reyhan. Ditambah dia sepertinya mengenal wanita itu. "Bibi Atiqah?" sapa Reyhan. Atiqah menoleh dan tersenyum di balik cadarnya. "Nak Reyhan?" "Assalammualaikum, Bi?" "Waalaikumsalam, loh katanya kamu sedang berada di London?" "Sudah pulang Bi, dua hari yang lalu baru sampai. Oh ya, kenalkan ini Luwi, adik saya dan ini Gibran anak Luwi, keponakan saya," "MasyaAllah... Tampan sekali kamu Gibran?" Bibi Atiqah terlihat mengelus pipi Gibran. Lalu dia bersalaman dengan Luwi. "Bibi sedang apa disini, siapa yang sakit?" tanya Reyhan. "Katrina... Dia keguguran." ucap bibi Atiqah ragu-ragu. Reyhan terkejut. Mendadak dia jadi khawatir. Pasti rasanya sangat menyakitkan bagi seorang calon ibu ketika harus mengetahui dia telah kehilangan sang calon bayi. Reyhan harus memastikan bagaimana kondisi Katrina saat ini. Bibi Atiqah sedang membayar barang yang baru saja dia beli saat Reyhan kembali bicara. "Boleh saya menjenguk Katrina, Bi?" "Tentu boleh, Nak Reyhan. Ayo, mari ikut," Reyhan, Luwi dan Gibran mengikuti langkah Bibi Atiqah di belakang. Tak lama kemudian mereka sampai disebuah ruangan rawat kelas VIP. Bibi Atiqah menahan Reyhan sebentar diluar dan hanya mempersilahkan Luwi dan Gibran untuk masuk terlebih dahulu. Sebab Katrina tadi sedang di periksa tim medis, sehingga mengharuskannya membuka cadar. Reyhan pun menunggu di luar pintu masuk. Di dalam ruangan itu Luwi melihat seorang perempuan tertidur di atas ranjang rumah sakit, dia sedang di periksa oleh beberapa perawat yang juga kesemuanya adalah seorang perempuan. Luwi melihat wajah perempuan itu. Sepertinya tidak asing. Astaga! Diakan wanita yang ada di foto itu? Foto-foto yang kemarin tanpa sengaja dia temukan di dalam laci kamar Reyhan. Dan itu artinya... Wanita itu sudah menikah? Mendadak Luwi menjadi sedih. Ternyata wanita yang dicintai oleh Kakaknya itu sudah menikah. Kasihan sekali Kak Reyhan... Pikirnya membatin. "Trina, pakai cadarmu, di luar ada Nak Reyhan ingin menjenguk. Dan mereka ini keluarga Reyhan, ini Luwi, adiknya Reyhan dan itu Gibran anaknya Luwi," jelas Atiqah pada Katrina. Wajah Katrina masih terlihat pucat. Dia tersenyum pada Luwi dan Gibran sebelum memakai cadarnya. Luwi melihat jelas jejak-jejak air mata di pipi wanita bernama Katrina itu. Pasti dia sangat terpukul karena sudah kehilangan calon bayinya. Bibi Atiqah terlihat memanggil Reyhan di pintu masuk setelah tim medis baru saja meninggalkan ruangan rawat Katrina. Reyhan berjalan gontai memasuki ruangan itu. Entah mengapa langkahnya kian berat. Tidaklah mudah bagi Reyhan untuk melihat Katrina dalam keadaan seperti sekarang. Saat dia harus mendapati tatapan mata indah itu, kian memancarkan beribu kepedihan. Katrina pasti sangat kehilangan. "Bagaimana keadaanmu, Trina?" tanya Reyhan yang mengambil posisi berdiri di samping Katrina. Katrina hanya menunduk, tatapannya kosong. "Baik, kak." ucapnya pelan. "Tak ada seorang wanitapun yang bisa baik-baik saja di saat dia kehilangan janinnya," kali ini Luwi menyahut. Dia melangkah mendekati Katrina. Bagaimanapun Luwi juga seorang wanita, meskipun dia belum pernah merasakan yang namanya keguguran tapi dia tahu kurang lebihnya perasaan itu. Dan yang pasti rasanya sangat menyakitkan. Katrina menoleh ke arah Luwi. Dia tersenyum tipis. "Kalian kapan pulang ke Indonesia?" tanya Katrina kemudian. Katrina sadar, tidak seharusnya dia larut dalam kesedihan. Allah SWT memberinya cobaan semata-mata untuk membuatnya lebih kuat dan tegar menghadapi hari esok. Mau bagaimanapun, dia harus ikhlas. Seorang anak itu adalah titipan, jadi dia tidak boleh sedih apalagi marah jika sewaktu-waktu sang pencipta mengambilnya. Dia yang lebih berhak atas segala hal yang ada di dunia ini. "Dua hari yang lalu," jawab Reyhan. "Oh ya, Hardin kemana? Dia tidak disini menemanimu?" Deg!!! Hardin? Ekspresi wajah Luwi mendadak gelisah. Dia reflek menoleh ke arah Reyhan. Nafasnya mulai naik turun. Luwi yakin dia tidak salah dengar. Sebuah nama yang disebut oleh kakaknya tadi, itu adalah nama yang sama dengan laki-laki yang pernah menjadi bagian dalam masa lalunya. Dan kini, nama itu berhasil membuat mood Luwi berantakan. "Hardin sedang di panggil dokter kandungan tadi, sebentar lagi juga dia kembali," sahut Bibi Atiqah dari sudut ruangan. "Kak, Luwi dan Gibran ke bagian medical check up jantung ya, takut nomor antrian Gibran dipanggil," ucap Luwi, dia baru ingat bahwa dia dan Gibran seharusnya berada di bagian check up jantung. Karena mereka mendapat angka antrian lima nomor pertama. "Baiklah, kamu kesana duluan, nanti aku susul," Luwi dan Gibran pergi setelah dia berpamitan pada Katrina dan Bibi Atiqah. Selang beberapa detik setelah kepergian Luwi, Hardin masuk ke dalam ruangan rawat Katrina dari arah yang berlawanan. Dia cukup terkejut mendapati Reyhan yang berada di dalam ruangan itu. "Loh Reyhan? Lo udah balik dari London?" ucap Hardin. Dia langsung berpelukan sejenak dengan Reyhan. "Lusa kemarin sampai," Hardin melangkah ke sisi lain ranjang tempat tidur Katrina. Berhadapan dengan tempat Reyhan berdiri. Dia duduk di sisi ranjang, tepat di sebelah Katrina. Dekat sekali. "Sorry ya, gue belum bisa masuk kantor, soalnya ada beberapa hal yang masih harus gue urus." ucap Reyhan lagi. Meski sebenarnya dia sendiri tidak enak jika harus lebih lama lagi mengambil cuti. Padahal Hardin sama sekali tidak ambil pusing masalah itu. Toh Reyhankan sudah di beri wewenang oleh Opahnya sendiri untuk mengurus Perusahaan keluarga mereka di Bandung. Jadi, selama perusahaan itu masih dalam keadaan baik-baik saja, Hardin tidak perlu cemas. "Masih kaku aja, lo. Santai ajalah." "Hmm... Gue turut berduka cita ya," ucap Reyhan ragu. Hardin tersenyum simpul. "Mungkin Allah SWT belum percaya untuk memberi gue sama Katrina momongan. Iyakan Trina? Dia ini wanita yang sangat tegar. Justru gue yang sempet ngedown pas tau Trina keguguran," "Maaf Hardin, aku sudah membuatmu kecewa," Hardin tersenyum dan membelai kepala Istrinya. Lalu dia berbicara dengan nada genit, "Untuk apa minta maaf, kan kita bisa buat lagi?" Hardin terkekeh di akhir kalimatnya. Katrina reflek memukul bahu suaminya yang dianggapnya tidak tahu malu. Matanya memelototi Hardin yang masih cengengesan. Dia jadi tidak enak hati dengan Reyhan. Sementara Hardin justru malah sengaja melakukannya, apalagi dihadapan Reyhan. Dia merasakan adanya kepuasan tersendiri jika dia menunjukkan kemesraannya dengan Katrina dihadapan Reyhan. Kedengarannya jahat sekali ya? Tapi itulah dia, sebagai seorang laki-laki Hardin jelas masih melihat adanya benih-benih cinta dalam mata Reyhan ketika dia sedang menatap Katrina. Dan Hardin tidak menyukai hal itu. Reyhan menarik nafas dan menghembuskannya dengan cepat. Dadanya tiba-tiba sesak. Sepertinya sudah waktunya dia untuk pamit. "Ng, aku pamit dulu ya, aku masih harus mengurus pemeriksaan Gibran," ucap Reyhan. "Trina aku pamit, ya?" Reyhan kembali menatap Katrina. "Iya Kak, terima kasih atas kunjungannya." Katrina menyambut tatapan Reyhan meski hanya sesaat. "Jadi kapan kira-kira lo bisa masuk kantor?" sela Hardin. Dia jengah melihat Reyhan dan Katrina yang saling bertatapan dihadapannya. Meski hal itu hanya sepersekian detik, Hardin tetap tidak rela. "Mungkin tiga hari dari sekarang," "Oke, gue tunggu di Kantor." Reyhanpun pergi setelah itu. Hardin menoleh ke arah Katrina, ternyata istrinya kini sedang menatap kepergian Reyhan. Bahkan setelah bayangan Reyhan telah menghilang dibalik dinding rumah sakit. Apa-apaan? Hardin memaki dalam hati. "Aku disini sayang..." ucap Hardin seraya memalingkan wajah Katrina ke arahnya. Katrina hanya tersenyum dari balik cadarnya. Tanpa sedikitpun menyadari. Bahwa suaminya sedang cemburu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN