Sore harinya, sepulang dari lapas cipinang dan mampir sebentar di restoran cepat saji untuk makan siang. Reyhan langsung melajukan Grand Livinanya menuju Raffles hills, di kawasan Cibubur.
Sudah satu bulan terakhir Hardin dan Katrina pindah ke Rafless, ke rumah orang tua Hardin. Sejak beberapa teror yang diterima Katrina di apartemen. Hal itu membuat Hardin sangat khawatir. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk pindah ke Raffles. Dan sejak tinggal di sana, sampai saat ini Hardin belum kembali bercerita kepada Reyhan mengenai teror yang di alami Katrina. Dan hal itu membuat hati Reyhan lega. Mudah-mudahan saja di sana Katrina bisa lebih tenang dan aman.
Bagaimanapun Katrina terlahir di sana, jadi para tetangga lama jelas sudah mengenalnya dengan baik. Katrina tidak akan merasa kesepian bila ditinggal bekerja oleh Hardin.
Reyhan sudah memencet bel berkali-kali. Tapi tidak nampak adanya tanda-tanda kehidupan di dalam rumah besar itu.
Sepi sekali... Pikir Reyhan. Mendadak dia khawatir. Apa mungkin terjadi sesuatu dengan Katrina? Sebab Reyhan tidak menemukan mobil Hardin terparkir di garasi. Apa mungkin jam segini Hardin belum pulang kantor?
Reyhan mencoba untuk mengontak Hardin. Tapi sampai lima kali dia menanggil, tak kunjung ada jawaban.
"Mungkin orangnya sedang keluar kali, Kak?" ucap Luwi.
"Kamu tunggu disini sebentar ya? Aku mau tanyakan ke tetangga depan dulu,"
Reyhan mulai bertanya pada security yang berjaga di rumah yang berhadapan dengan rumah Hardin.
Mereka cukup lama bercakap sampai akhirnya Reyhan kembali.
"Orangnya sudah pindah ke Bandung tadi pagi." ucap Reyhan setengah kecewa. Padahal dia berharap bisa bertemu dengan Katrina.
"Istrinyakan sedang hamil, sementara mereka disini hanya tinggal berdua. Dia khawatir pada istrinya bila ditinggal bekerja sendirian. Kalau di bandung ada omah dan opahnya yang bisa menjaga istrinya bila dia bekerja," Reyhan kembali menjelaskan begitu mereka sudah berada di dalam mobil.
"Wah... Beruntung sekali istrinya, memiliki suami yang begitu perhatian, pasti sahabat Kakak itu adalah laki-laki yang sangat baik ya, Kak?" ucap Luwi kagum. Dia tersenyum menatap ruas jalanan di hadapannya.
Reyhan tersenyum tipis. "Ya, begitulah," ucapnya cuek. Reyhan jadi mencibir dalam hati. Semua orang yang belum benar-benar mengenal sosok Hardin, pasti akan selalu memuji laki-laki itu dengan segala kesempurnaan yang dia miliki. Padahal dibalik itu semua, siapa yang menyangka kalau Hardin itu tak lebih dari seorang laki-laki penggila seks yang hidupnya hanya dia habiskan untuk bersenang-senang dengan banyak wanita. Meski Reyhan tidak menampik satu hal, yaitu tentang perubahan drastis pada sosok Hardin saat ini. Dan itulah hebatnya cinta, bisa merubah segala yang tidak baik menjadi lebih baik.
Sikap Hardin kini memang sudah jauh berbeda dengan sikapnya yang dulu, dan itu semua, berkat Katrina.
***
"Mungkin untuk sementara waktu ini saya akan menetap disini sampai kondisi Katrina membaik. Atau mungkin bisa sampai dia melahirkan. Jadi saya serahkan urusan pekerjaan di Jakarta padamu, ya Dimas?" jelas Hardin pada asisten pribadinya yang baru beberapa bulan belakangan bekerja dengannya di Jakarta. Kini mereka sedang duduk di ruang tamu rumah Hardin di Podomoro Park Buah Batu Bandung.
Dimas adalah laki-laki yang cerdas dan pintar. Mungkin bisa dibilang keahliannya dalam mengurus perusahaan tidak berbeda jauh dengan Reyhan. Dimas adalah sarjana Ekonomi di fakultas ekonomi UGM. Dengan beasiswa Fulbright, Dimas melanjutkan pendidikan master Policy Economics di University of Illinois at Urbana-Champaign yang hanya diselesaikannya selama satu tahun. Pengalaman dari Dimas ini menegaskan bahwa bekal pendidikan pasti akan menunjang karir seseorang di masa yang akan datang. Itulah sebabnya Hardin sangat mempercayai kemajuan perusahaannya di Jakarta di tangan Dimas. Sebab kemampuan Dimas dalam berbisnis jelas tidak perlu diragukan lagi.
"Baik, Pak." jawab Dimas singkat. Hari ini dia sengaja mampir ke Bandung untuk meminta Hardin menandatangani beberapa berkas penting.
"Sebelumnya, saya biasa mempercayakan masalah kantor saya dengan karyawan saya yang bernama Reyhan, hanya saja sekarang dia sedang berada di London untuk suatu urusan."
"Percayakan saja pada saya, Pak. Saya akan urus semua pekerjaan di Jakarta dengan baik, Bapak tidak perlu khawatir." ucap Dimas yakin.
Hardin tertawa. "Ini yang saya suka dari kamu, kepercayaan diri kamu dan semangat kerja kamu yang tinggi. Saya yakin, ditangan kamu perusahaan pasti akan semakin maju. Ayo, mari diminum dulu tehnya," Hardin menyesap secangkir teh di depannya. Dan saat dia hendak menaruh kembali cangkir teh itu, tiba-tiba dia mendengar suara teriakan Katrina dari dalam kamarnya.
Hardinpun langsung bangkit dari hadapan Dimas dan berlari menuju kamarnya di lantai dua.
"Ada apa Trina? Kamu kenapa?" Hardin menghambur ke arah istrinya yang sedang duduk di tepi ranjang tempat tidurnya. Tangan Katrina terlihat gemetaran, lalu Hardin menemukan ponsel milik Katrina terjatuh di lantai.
Katrina seperti orang shock. Seperti orang yang baru saja melihat hantu. Matanya kini mulai berair.
Dia menatap lama ke arah Hardin dan langsung menangis sambil memeluk tubuh suaminya.
"Aku takut, orang itu... Laki-laki itu..." ucapnya di tengah isak tangisnya.
"Kamu tenang dulu, bicara pelan-pelan, oke?" Hardin mengusap lembut punggung Katrina berharap istrinya bisa sedikit lebih tenang.
"Dia menelepon lagi tadi. Dan dia bilang..." Katrina melepas pelukannya. Dia menatap wajah Hardin lekat-lekat.
"Dia mau membunuhmu... Dia mau membunuhmu Hardin...!"
Hardin jelas sangat kaget. Namun dia mencoba untuk tetap tenang. Dia tidak mau istrinya jadi tambah khawatir. Tapi ucapan Katrina selanjutnya justru membuatnya lebih dirundung cemas.
"Selain itu, Dia juga bilang, sudah sangat lama dia menanti-nantikan kamu memiliki seorang istri, dia bilang, dia sudah tidak sabar ingin menikmati tubuhku... Aku takut Hardin, kita harus cepat-cepat lapor polisi," Katrina terlihat sangat frustasi hingga dia kembali merasakan sakit di bagian perutnya.
"Ah... Perutku... Perutku sakit sekali Hardin..." Katrina meringis sambil memegangi perutnya dan meremas kaos Hardin dengan sangat kuat.
Membuat Hardin panik.
Dan menjadi tambah panik saat Hardin melihat darah yang mengalir di bawah kaki Katrina.
"Sakit sekali, Hardin..." Katrina terus berteriak. Tubuhnya telentang di atas tempat tidur.
Omah dan Opah kebetulan sedang tidak ada dirumah. Sedang menghadiri acara pernikahan cucu sahabat Opah dan Omah di daerah Cileunyi.
Akhirnya Hardin menggendong Katrina di depan dadanya dan membawanya masuk ke dalam mobil. Untung ada Dimas saat itu. Laki-laki itu yang membantu Hardin mengemudi ke rumah sakit.
"Sabar, Trina. Kamu harus kuat, kita sedang dalam perjalanan ke rumah sakit sekarang. Dimas, tolong lebih cepat lagi mengemudinya." perintah Hardin.
"Baik, Pak."
Wajah Katrina yang saat itu tidak memakai cadar jelas menarik perhatian Dimas. Dia diam-diam mencuri pandang melalui kaca spion di atas kepalanya pada wajah istri sang Bos yang terlihat pucat. Meski hal itu menurutnya tidak mengurangi kecantikan wanita itu sedikitpun. Diam-diam Dimas tersenyum tipis di balik kemudinya.
Hardin tidak bisa berpikir dalam keadaan seperti ini. Bahkan dia tidak menyadari istrinya dia bawa keluar tanpa memakai khimar dan cadar. Sementara Katrina sendiri terlihat sudah mulai kehilangan kesadaran.
Astaga! Pekik Hardin dalam hati. Mengapa dia sampai sebodoh ini tidak memakaikan khimar Katrina dulu tadi! Rutuk Hardin, menyesal.
Dia sempat melirik ke arah Dimas yang sepertinya terlihat fokus menyetir. Hardin jelas tidak ingin wajah istrinya menjadi konsumsi publik sekarang. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlanjur. Yang terpenting sekarang adalah Katrina harus cepat-cepat mendapat pertolongan. Hardin tidak mau apa yang terjadi menimpa adiknya Anggia, kini harus terjadi menimpa istri tercintanya. Hardin tidak bisa hidup tanpa Katrina.
"Sayang, bangun, kamu masih sadarkan?" ucap Hardin seraya mengusap-usap kepala Katrina yang bersandar di depan dadanya.
Katrina tidak menjawab.
"Trina, bangun? Jangan buat aku takut," Hardin semakin frustasi. Dia mendekap kepala Katrina kuat-kuat.
Sepertinya Istrinya sudah kehilangan kesadaran.
Katrina pingsan.
Ya Allah... Selamatkan istriku...
Ucapnya membatin.
Hardin menangis.