Dewa masih belum mengendurkan ciumannya dibibir Nesa, yang awalnya hanya berniat menghentikan tawa gadis itu berubah menjadi lumatan yang begitu manis. ia seakan lupa ia sedang dimana, bibir Nesa benar-benar candu baginya, dengan mengecapnya saja sudah membuat fokusnya kabur. Dewa tersadar saat merasakan kuku Nesa menggengam erat dadanya. "ahk...!" Pekiknya pelan, ia sebenarnya tak merasakan begitu sakit karena kuku Nesa. hanya saja ia kaget tadi. "Maaf Dewa" sesal Nesa, ia menunduk dalam, tapi Dewa masih bisa melihat bibir Nesa yang bengkak karena ciumannya. "seharusnya aku yang minta maaf" ucapnya lembut. Ia tersenyum tepat diwajah Nesa. seandainya Nesa dapat melihat ia pasti tahu rasa cinta Dewa yang terpancar jelas dimatanya. Kreekk.. krekkk.. terdengar suara deritan pintu, membuat

