Rumah Sakit

1274 Kata
Pulang dari kota Batu ibuku terkena usus buntu jadi harus segera dioperasi. Ibuku dirawat di rumah sakit milik pemerintah. Dalam satu ruangan terdapat delapan orang pasien, maklum ibuku berada  ruang kelas tiga. Setelah operasi ibuku dipindahkan ke ruang pemulihan. Hanya ayah yang menemani ibu karena aku ada try out dan abangku harus bekerja. Di rumah aku dan abang hanya ditemani mbah kakung dan mbah putri dari ibu yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku. Jam lima pagi ayah menelpon untuk membawakan kaus untuk ibu. Untungnya jarak rumah dengan rumah sakit cukup dekat jadi aku tidak terlalu takut jika naik motor sendirian. Jika aku membangunkan abang bisa-bisa aku ditendang olehnya. Mbah putri membawakan bekal untuk sarapan ayah, mbah putri sudah bangun dari tadi. Aku merapatkan jaket, berusaha menghalau dingin. Parkiran rumah sakit masih sepi saat aku sampai, petugas parkirnya tertidur di loket jadi aku harus membangunkannya terlebih dahulu. Hanya ada beberapa sepeda motor yang terpakir. “Hihihihi” Nyaris saja aku menjatuhkan rantang karena mendengar suara kuntilanak dari atas pohon tidak jauh dariku. Saar aku melihat ke arahnya, kuntilanak itu menatapku tajam dari atas pohon. "Mau ke ruang apa dik?" "Ke ruang pemulihan pak." Aku menoleh ke belakang tapi tidak ada orang di belakangku. Buru-buru aku menuju ruang tempat ibuku dirawat, aku berusaha untuk tidak menoleh kesekitar. Ini rumah sakit tempat dimana kelahiran dan kematian bersinggungan jadi sudah pasti banyak penunggunya. Ayah tidur di luar ruangan karena didalam tidak diperbolehkan untuk tidur pendamping pasien. Aku menyerahkan rantang titipan mbah putri ke ayah. "Bantuin ibu pakai baju. Ayah mau ke masjid dulu." Aku masuk ke ruangan ibu sudah terbangun tapi kondisinya masih lemah pasca operasi. Di hidungnya terpasang selang jadi aku harus berhati-hati saat memakaikan baju. Di ruangan ini hanya ada ibu dan seorang yang sepertinya baru selesai melahirkan. "Ayahmu kemana?" "Ke masjid bu. Kenapa?" "Panggilkan suster di ruang sebelah. Infusnya habis." "Iya bu." Ruang suster berdekatan dengan dengan ruang pemulihan. Beberapa suster masih terjaga dan mengobrol santai. Setelah menyampaikan maksudku aku kembali ke ruangan. Suster yang mengganti infus ibuku beberapa kali melirik ke arah kaca pembatas antara ruang pemulihan dan ruang perawat. "Kenapa Sus? Kok melihat kesana mulu." "Nggak dik cuma keinget cerita pembimbing." Suster ini  mahasiswi keperawatan yang sedang praktek. "Cerita apa?" Mumpung ibu tertidur aku bisa tanya macam-macam. "Bukanya mau nakutin ya dik, tapi kata senior mbak ada sosok yang melihat kita dari dinding kaca di sebelah sana. Katanya sih wujudnya mengerikan gitu." Suster menunjuk ke arah dinding kaca yang dimaksud. Yee.. itu namanya nakutin mbak, aku mendengus sebal. Dari tadi aku merasakan tarikan dari dinding kaca yang ditunjuk suster. Setelah selesai mengganti infus suster itu pamit kembali ke ruangannya. Aku masih terus menatap dinding kaca itu, ada sesuatu yang mengganjal. Kaca pembatas antara ruang perawat dan ruang pemulihan dibuat buram separuh jadi kita tidak bisa melihat aktivitas di ruang sebelah. Saat aku mengedipkan mata muncul bayangan hitam di dinding kaca membentuk siluet seseorang. Aku menoleh sekitar memastikan tidak ada orang lain. Bayangan itu masih ada dan semakin jelas. Sosok perempuan pucat dengan wajah pucat dan rambut berantakan menembus kaca pembatas, tapi hanya sebagian tubuhnya saja. Sekujur tubuhnya basah dan menggigil. Dia menunjukku, suaranya bergetar dan lirih. Baru aku sadari dia hanya memiliki satu tangan, tangannya yang lain terkoyak menyisakan lengan bagian atasnya. Kakiku terasa kaku dan tidak bisa bergerak. Aku hanya bisa berdoa dalam hati berharap dia cepat pergi. Semakin lama perempuan itu makin mendekat. Rintihan terdengar jelas di telingaku. Aku mencium bau seperti daging busuk yang direndam berhari-hari. Dia menyeret tubuhnya mendekatiku. Aku berusaha menutupku hidungku, baunya membuatku pusing. Tangannya hampir menjangkau tubuhku, aku bisa melihat keseluruhan sosoknya dengan jelas. Tubuhnya hanya separuh, pinggang ke bawah tidak ada. Pintu ruangan terbuka, ayah sudah kembali. Sosok perempuan itu langsung menghilang, aku juga tidak lagi mencium bau busuk. Aku hanya bisa tertunduk di ranjang sebelah. Belum pernah aku melihat penampakan sejelas itu. Setelah kejadian itu aku masih takut kembali ke rumah sakit. *** Teman-temanku ingin menjenguk ibu. Sepulang sekolah kami langsung menuju rumah sakit. Beberapa kali aku harus menundukkan pandangan jika ada penampakan di lorong rumah. Penampakan disini tetap membuatku takut. Risa saja langsung menggenggam tanganku jika ada sosok yang berenergi negatif. Tapi memang dasarnya punya rasa penasaran tingkat tinggi Bagas dan Saiful malah mengajak berkeliling rumah sakit setelah menjenguk ibu. Ibu sudah dipindahkan ke ruang peratawatan yang berada di lantai satu gedung di pojok kanan. Jadi dari sini terlihat jelas kamar mayat yang letaknya di belakang gedung, terpisah dari gedung lainya. "Naik dulu ke lantai atas yuk. Lihat pemandangan, dari pada lihat kamar mayat." Yuni menyindir Bagas dan Saiful. Tanpa banyak protes aku dan Risa langsung mengiyakan ajakan Yuni. "Payah kalian." Bagas cemberut. "Kalau tidak mau ikut sana pergi ke kamar mayat sendiri." Risa menjulurkan lidahnya. Akhirnya Bagas dan Saiful mengikuti kami pergi ke lantai atas. Gedung ini berlantai tiga dan lantai paling atas masih dalam tahap pembangunan. Akses menuju lantai tiga yang tidak ada pengamanan memudahkan kami  menerobos lantai atas. Tapi sekarang sudah ditutup sejak ada pasien yang bunuh diri dengan cara melompat dari lantai tiga gedung ini. Di atas hanya ada puing-puing sisa pembangunan tahap pertama. Pemandangan sekitar terlihat jelas tapi kami harus berhati-hati agar tidak menginjak paku yang berceceran. "Ayo turun. Aku kebelet nih." Saiful merapatkan kedua kakinya menahan kencing. "Kenapa tidak dari tadi sih." Aku menjewer telinga Saiful. "Aduduh…  Dari pada aku ngompol disini." "Yaudah deh ayo turun. Disini lama-lama dingin." Saiful langsung berlari ke bawah meninggalkan kami. Kebetulan toilet ada di dekat tangga yang kami gunakan untuk naik tadi. Sambil menunggu Saiful di toilet kami bersenda gurau di tikungan tangga. Ada ranjang pasien yang dibiarkan begitu saja di sini. Mungkin karena tempat ini jarang dilewati. "Itu darah ya?" Risa menyikutku. Dia menggerakkan dagunya menunjuk ke ranjang. Ada bercak bewarna merah kehitaman di pinggir ranjang dan ada darah yang menetes dari  bawah ranjang. "Sepertinya iya. Itu ada juga yang netes di bawah kan?" Aku ingin memastikan apa yang kulihat. "Tidak ada." Risa menatapku penuh arti. Sudah dapat dipastikan hanya aku yang melihatnya. Saat aku melihat lagi ke arah ranjang ada perempuan yang berlumuran darah duduk di ranjang dan melihat ke arahku. Dari kakinya darah terus mengalir hingga menggenang di bawah. Dia menunjukku. "To..long bayiku" Rintihannya membuatku menutup telinga rapat-rapat. "Ayo turun" Risa langsung menarikku turun disusul yang lain sementara Saiful masih tertinggal di kamar mandi. Energi yang dikeluarkan perempuan tadi benar-benar negatif. Mungkin Risa merasa tertekan dengan energinya. Perempuan itu sepertinya diliputi kesedihan yang mendalam karena kegugururan dan menyimpan dendam pada seseeorang. Itu membuatnya diliputi energi negatif. "Hoi kok aku di tinggalin sih." Saiful berteriak dari atas. Serempak kami menoleh. "Pul itu…" Bagas menunjuk ke sebelah Saiful. Saiful menoleh dan terkesiap dia langsung berlari menuruni tangga dan bersembunyi di belakangku. Aku menoleh ke yang lain, mereka semua bisa melihat perempuan berdarah yang kini berdiri di atas tangga. Kami sama-sama terpaku dan tidak bisa bergerak. Darah terus mengalir melewati tangga dan membasahi kaki kami. Sepasang tangan memelukku dari belakang. Aku  tersadar dan segera menarik yang lain menjauh dari tangga itu. Mereka seperti terhipnotis saat aku tarik, aku membawa mereka ke masjid. Ketika sampai di masjid mereka tersadar dari lamunan. "Itu kenapa?" Yuni masih terlihat linglung. "Rasanya jantung mau copot." Bagas meluruskan kakinya dan bersender di tiang masjid. "Pengen muntah jadinya." Saiful memegangi perutnya, mungkin dia mual karena melihat perempuan itu dari jarak dekat. "Makanya jangan sembrono ini tuh rumah sakit. Udah yuk pulang perasaanku tidak enak." Risa berdiri dan berulang kali melihat ke tikungan tangga tadi. Dinding kaca yang transparan membuat kami bisa melihatnya dari sini. Saat aku melihat ke sana, perempuan itu berdiri melihat kami dari atas sana. Buru-buru aku mengiyakan ajakan Risa dan segera pergi dari rumah sakit ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN