Setelah liburan selama dua minggu kami mulai masuk seperti biasa. Naik ke kelas sembilan jadwal pelajaran kami semakin padat. Pagi ada kelas tambahan untuk persiapan ujian nasional, sepulanng sekolah masih ada kelas tambahan lagi khusus yang nilailnya di bawah rata-rata. Aku sendiri tidak terlalu memusingkan soal pelajaran, semua materi hanya masuk telinga kanan lalu keluar telinga kiri. Tapi jangan ditiru ya! Meski begini setiap ujian aku selalu lolos tanpa remidial. Hehehe.
Hari ini seperti biasanya setelah pulang sekolah kami berkumpul di rumah Bagas, motor kami juga terparkir di sini. Kebutulan Ibu Bagas membuat rujak buah. Kami duduk di teras rumah samping, rumah ini sudah lama kosong karena kakak pertama Bagas kerja di luar pulau. Tiga hari sekali ibu Bagas selalu membersihkannya agar tidak terbengkalai dan menimbulkan kesan horor.
Beberapa kali aku mencuri pandang ke jendela samping. Rasanya ada menarikku untuk melihat kesana.
Yuni merapat ke arahku. "Kenapa sih Ning dari tadi lihat kesana mulu? Pasti ada sesuatu nih."
"Kepo kamu." Aku tersenyum melihat reaksi Yuni, kebiasaan ini anak. Kalau aku melihat ke suatu tempat pasti langsung berpikir yang tidak-tidak.
“Ada setan pasti.” Kata Saiful.
"Ya mungkin karena ada penghuni ghaibnya kan sudah lama kosong. Ibu tiap malam sering lihat ada perempuan di jendela itu." Ibu Bagas ikut menimpali.
"Makanya tiap malam ibu teriak-teriak ketakutan." Bagas malah meledek ibunya sendiri.
Aku hanya tertawa geli menanggapinya. Perempuan alias kuntilanak itu menampakkan wujudnya di jendela. Wajahnya yang rata menurutku sangat lucu bukan menakutkan. Krupuk sambal yang aku makan sampai menyembur.
"Issh jorok kamu Ning!" Saiful melempar timun yang belum dipotong ke arahku.
"Habisnya gara-gara ngomongin hantu dianya jadi munculkan. Tuh dia tidak punya muka lho, mengitip kita dari jendela."
Sontak Saiful dan Bagas yang paling dekat dengan jendela langsung berpindah tempat. Jendela mulai bergetar pelan, kuntilanak itu menempelkan tangan keriputnya di jendela.
"Dia marah nih Ning. Hayoo tanggung jawab." Risa menudingku. Padahal dia sendiri juga menahan tawa melihat reaksi yang lain.
"Salah sendiri ngomongin hantu. Dia pengen kenalan katanya." Aku semakin menakuti mereka. Teman-temanku itu penakut sekaligus gampang penasaran.
"Kamu nggak takut nduk?" Ibu Bagas menatapku heran.
"Kenapa takut bu. Wajahnya lucu gitu." Kuntilanak itu menghilang dan muncul lagi di sebelah kiriku. "Nih mbak kuntinya ada di sebelahku."
Risa yang ada di sebelah kiriku menyingkir, dia tidak nyaman dengan energi dari kuntilanak itu. Aku sendiri masih bisa mengatasinya.
"Dia mau apa Nduk?" Ibu Bagas malah mendekatiku sementara yang lain menjauh.
Aku menatap kuntilanak itu sejenak, mencoba berkomunikasi dengannya. Kalau dengan hantu yang seperti ini aku berani, tapi lain cerita jika yang aku hadapi seperti Aki si Genderuwo penunggu gamelan aku butuh bantuan Risa atau mbahkung.
"Aku hanya ingin menempati rumah ini. Sebagai gantinya aku akan menjaga rumah ini dari mereka yang berniat jahat." Suara kuntilanak itu menggema dikepalaku. Aku harus menggeleng beberapa kali untuk meredakan pusing.
Risa menyentuh pundakku."Jangan dipaksa."
"Aku bisa kok." Aku tersenyum meyakinkan Risa. "Mbak Kunti cuma mau tinggal di rumah ini, sebagai gantinya dia akan menjaganya dari mereka yang berniat jahat."
"Bilang ke dia jangan muncul di depan ibu, bisa jantungan nanti ibu. Kalau mau gangguin, gangguin Bagas aja." Ibu melirik Bagas yang bersembunyi di belakang Saiful.
"Ahh ibu."
Kami semua tertawa melihat ekspresi Bagas yang merajuk seperti anak kecil pada ibunya. Sementara kuntilanak itu mengangguk padaku kemudian menghilang.
Tidak semua kuntilanak itu jahil, ada juga yang punya sifat baik.