Liburan kenaikan kelas tinggal lima hari lagi, aku memutuskan untuk pergi jalan-jalan. Orang tuaku pergi ke Malang menjenguk nenek yang sakit, sementara abangku sibuk main game di warnet. Kebetulan Damar mengajakku keluar yang kusambut dengan senang hati. Damar lebih tua tiga tahun dariku dia sekarang naik ke kelas dua belas SMK. Kami sering bertemu karena memiliki hobi yang sama. Photograpy. Lewat hobi kami jadi akrab dan akhirnya dia memintaku untuk menjadi pacarnya. Awalnya aku malu tapi lama kelaman aku luluh dengan sikabnya. Meski sampai sekarang dia belum tahu soal kemampuan anehku.
Suara klakson motor terdengar di depan rumah, aku langsung membuka pintu. Damar sudah menyodorkan helmnya.
"Ayo keburu panas nanti."
"Iya-iya."
Kami naik motor menuju wisata Kampung Coklat di Kademangan. Karena masih musim liburan jalanan cukup ramai. Beberapa kali kami berpapasan dengan bis pariwisata. Debu dari kendaraan yang lewat membuat Damar terbatuk hebat.
"Kak mending kita nepi dulu.." Aku menepuk punggungnya. Darman menepikan motor motornya di tempat yang teduh. Damar masih terus batuk ditambah dia seperti akan muntah.
"Kita pulang aja ya kak. Aku khawatir sama kondisi kakak." Damar langsung menggenggam tanganku dan menggeleng kuat.
"Aku sehat kok. Sedikit lagi juga sudah sampai. Jangan terlalu khawatir. Oke." Damar tersenyum hangat menyembunyikan rasa sakit yang melandanya. Aku bisa melihat dadannya bersinar merah.
"Tapi kak."
"Percaya sama aku. Hari ini kita saatnya bersenang-senang." Akhirnya aku luluh juga dengan permintaanya.
Kami melanjutkan perjalanan ke kampung coklat. Beberapa kali kami harus menepi untuk menghindari truk besar. Aku masih bisa melihat d**a Damar yang bersinar merah meski sudah agak redup. Dia ini sakit apa sih?
Damar memakirkan motornya dekat pintu masuk agar mudah menemukannya. Setelah membeli tiket masuk kami langsung menuju tempat penjualan minuman coklat dan membeli dua gelas coklat hangat. Untuk sejenak aku melupakan kekhawatiranku, Damar mengalihkan perhatianku dengan mengajakku bermain di kolam terapi ikan. Karena banyak pengunjung yang memenuhi kolam kami duduk berdekatan. Posisiku yang dekat dengannya membuatku jadi salah tingkah sendiri. Damar tersenyum melihat pipiku bersemu.
" Lucunya." Dia mencubit pipiku.
"Apaan sih."Aku memukul bahunya pelan.
Damar terus tertawa, sampai ponsel disakunya bergetar. Sejenak raut mukanya berubah serius.
"Kenapa?"
"Ibu sms kalau pulang jangan kesiangan. Trus minta dibeliin mangga muda di pasar. Kamu nggak apa-apa perginya cuma sebentar?"
"Nggak apa-apa kok. Kita pulang aja sekarang biar ke pasarnya nggak terlalu siang. Nanti aku deh yang pilihin mangganya." Aku berusaha menyembunyikan kekecewaanku. Aku tau betul Damar ini selalu patuh dengan ibunya, maklum dia satu-satunya anak laki-laki dari empat bersaudara dan dia anak bungsu.
"Makasih ya udah mau ngertiin." Damar menepuk kepalaku pelan, aku tersenyum menanggapinya.
Di perjalanan pulang Damar lebih banyak diam, tadi aku sempat membelikannya masker untuk berjaga-jaga jika batuknya parah lagi. Di pasar aku yang memilih mangga yang akan dibeli, aku sudah tau kesukaan ibunya kami sudah berkenalan. Ibunya Damar seorang ibu yang lembut dan jarang sekali marah.
Rumah Damar terletak di perumahan yang cukup ramai. Saat memakirkan motor di garasi kami bertemu dengan kakak ketiga Damar. Mbak Indah.
"Uuwiih Damar bawa cewek ke rumah.." Mbak Indah langsung merangkulku heboh. Aku jarang bertemu dengannya karena mbak Indah ini kuliah di luar kota.
"Dia sering main kerumah. Mbak aja yang gak tau." Damar menarikku dari pelukan mbak Indah.
"Ngegas banget adikku satu ini. Buruan nikah aja deh biar cepat halal." Aku menunduk malu mendengar kata nikah.
"Udah pergi sana. Dasar mak lampir. Jadi malukan dianya." Damar menggadengku masuk rumah. Mbak Indah masih terus berteriak menggodaku.
Di ruang tamu Ibunya Damar duduk sambil merajut syal. Beliau tersenyum melihatku diletakkannya hasil rajutan di meja.
"Ibu apa kabar?" Aku mencium tanganya dam memberikan sekantung mangga muda pesanannya.
"Baik nduk. Jadi Damar keluar sama kamu, kalau tau begitu ibu tidak minta dia cepat pulang." Beliau menarikku untuk duduk di dekatnya.
"Nggak apa-apa kok bu. Tumben Ibu minta dibeliin mangga muda."
"Bukan buat ibu, tapi mbak Ayu ngidam mangga."
"Mbak Ayu ada di sini?" Damar langsung cemberut mendengar mbak Ayu yang minta dibelikan mangga. Mungkin dia sebal karena gara-gara permintaan kakaknya dia harus cepat pulang.
"Mbaknya datang tuh seneng bukan cemberut." Dari belakang Mbak Ayu menjewer telinga Damar.
"Issh apaan sih mbak. Kenapa nggak minta mas David yang beliin." Damar mengelus telinganya yang dijewer mbak Ayu.
"Mas David lagi dinas di Jakarta seminggu jadi mbak sementara nginep disini. Yuk Ning bantuin mbak bikin rujak. Mar pinjem pacarmu bentar." Mbak Ayu langsung menarikku ke dapur tanpa menunggu jawaban dariku.
"Awas aja kalau minta aneh-aneh lagi." Damar berteriak dari ruang tamu.
Mbak Ayu memintaku mengupas mangga sementara dia menyiapkan sambal rujak. Dari cerita Damar mbak Ayu sudah menikah selama lima tahun dan baru sekarang dikaruniai anak. Usia kehamilannya sudah tujuh bulan. Mbak Ayu ini orang cerewet beda dengan mas David suaminya yang pendiam.
Samar aku mendengar ada suara anak kecil berlarian disekitar dapur. Padahal hanya ada aku dan mbak Ayu di dapur. Saat aku menoleh ke samping ada seorang anak kecil perempuan usianya sekitar tiga tahun duduk di wastafel. Dia tidak memakai baju.
"Au." Tanpa sengaja tanganku tergores pisau, aku kaget dia tersenyum dan menampakkan giginya yang hitam dan runcing.
"Hati-hati dong Ning. Jangan kebanyakan melamun. Nanti Damar ngira aku nyiksa pacarnya. Ini ada plester." Mbak Ayu ini meski cerewet tapi perhatian, meski aku baru mengenalnya sebentar dia sudah menganggapku adiknya sendiri.
"Hehehe iya mbak." Aku masih melirik ke arah anak kecil itu. Dia melompat turun dan menarik daster yang dipakai mbak Ayu.
"Ibu." Anak kecil itu bergumam pelan tapi aku masih bisa mendengarnya. Nyaris aku menggores tanganku lagi, dia memanggil mbak Ayu ibu?
Aku menunduk untuk melihat wajahnya lebih jelas. Sekilas wajahnya memang mirip mbak Ayu. Dia terus memanggil mbak Ayu, ibu. Beberapa kemungkinan merasuki pikiranku.
"Ehm.. Mbak Ayu boleh nanya nggak?"
"Mau tanya apa?"
"Maaf nih sebelumnya. Mbak Ayu pernah... Keguguran?" Aku ragu untuk bertanya tapi rasa penasaran terus menggangguku.
Mbak Ayu langsung menghentikan aktivitasnya. Matanya melebar mendengar pertanyaanku, dia langsung mencengkram pundakku. "Darimana kamu tahu? Ibu dan Damar saja tidak tahu soal ini. Kenapa kamu?"
Aku kaget dengan reaksi mbak Ayu untung Damar atau ibu tidak mendengar kegaduhan di dapur. "Mbak Ayu pasti nggak percaya kalau aku kasih tau."
Cengkraman di pundakku mengendur, mbak Ayu menatapku nanar. Khawatir dengan kondisinya aku mendudukkan mbak Ayu di kursi meja makan.
"Tau nggak Ning. Sudah empat orang yang menanyakan hal itu. Mereka bilang ada anak kecil yang ngikutin mbak. Berarti kamu bisa? Jadi dia beneran anak mbak?" Mbak Ayu menatapku dengan takut.
Aku mengangguk, kugenggam tangan mbak Ayu menguatkannya. "Anak perempuan usianya sekitar sekitar tiga tahun dan dia nggak pakai baju."
Genggaman tangan mbak Ayu semakin kuat, air matanya mulai menetes. "Mbak merasa bersalah sama dia Ning. Mbak seolah lupa sama dia. Sekarang mbak harus bagaimana?"
"Setiap mbak sholat doakan dia. Mbak juga bisa ngasih sumbangan baju ke anak-anak yang seumuran dengan anak mbak yang sudah nggak ada. Kasian mbak dia nggak pake baju. Ingetin mas David juga soal ini. Mbak Ayu jangan nangis terus ya?"
Anak kecil itu duduk dipangkuan mbak Ayu, mengelus perut buncit ibunya. "Adik."Dia tersenyum manis ke arahku.
"Dia sekarang dimana Ning?" Aku meletakkan tangan mbak Ayu diperutnya yang buncit
"Dia disini nungguin adiknya."
Mbak Ayu mengelus perutnya. "Makasih sayang udah nemenin adik. Makasih juga Ning udah ngasih tau mbak."
"Iya mbak sama-sama. Emb.. mbak jangan ngasih tau Damar ya?"
"Kenapa Ning? Harusnya kamu lebih terbuka dengan Damar, bukannya kalian pacaran udah lama." mbak Ayu menatapku heran.
"Damar sendiri nggak terbuka sama aku. Sebenarnya Damar itu sakit apa sih mbak?"
Mbak Ayu terkejut mendengar pertanyaanku. "Bocah itu." Tangan mbak Ayu menggenggamku balik. "Biar Damar yang ngasih tau. Mungkin sekarang dia belum siap."
Dalam hati aku kecewa. Sebenarnya Damar sakit apa? Kenapa dia nggak mau cerita.
Mengerti kekecewaanku mbak Ayu memelukku dan berbisik. "Mungkin dia takut kamu pergi meninggalkanya."