Pantai Tambakrejo

1207 Kata
Pada akhirnya liburan kenaikan kelas kami manfaatkan dengan berkujung ke pantai Tambakrejo. Meski sudah beberapa kali ke sana kami tidak pernah bosan. Setidaknya kami pergi ke tempat yang normal bukan wisata mistis. Hahaha. " Neng ayo berangkat keburu panas yang lain udah nungguin tuhh." "Oke." Aku meraih tas kesayanganku di kursi dan segera menyusul Risa ke depan. Di halaman sudah ada teman-temaku yang lain. Mereka tengah bersiap di atas motor masing-masing. "Oiii. Wahyuning! lelet amat. Sini boncengan sama aku." "Sabar." Tanpa diminta dua kali aku langsung menuruti perkataan Saiful. Saat aku sudah naik Saiful langsung menstarter motornya. "Pantai kami datang!" Yuni berteriak dengan hebohnya. Dasar lebay. Jalan menuju pantai yang akan kami tuju berkelok-kelok dan banyak turunan tajam. Di sisi jalan terkadang terdapat jurang yang cukup curam. Jalan yang sebagian rusak membuat kami harus ektra hati-hati. Apalagi saat berpapasan dengan truk besar kami akan mengalan dan menepi. Saat melewati turunan tajam motor yang aku tumpangi menabrak seorang ibu dan anaknya yang tengah menyebrang jalan. Akibatnya mereka terguling di jalan. "Puul! liat jalan yang bener, orangnya ketabrak tuh. Cepet puter balik, kita lihat kodisi ibu anak itu!" Aku panik dan memukul helm Saiful terus–menerus. "Woi kau ngigo ya. Siapa yang nabrak orang, jalan sepi gini. Udah jangan ganggu orang nyetir jalan tikungan nih ntar nabrak tebing." Aku langsung terdiam mendengar kata-kata Saiful. Reflek aku menoleh ke belakang dan benar hanya jalan sepi yang terlihat. Ibu dan anak itu tidak ada padahal jelas-jelas tadi mereka terguling di jalanan. *** Kami memilih parkiran yang dekat dengan pantai. Kawanku yang lain langsung berlari ke pantai dan melepas kaos, para lelaki tentunya. Aku memilih menunggu di salah satu warung pinggir pantai. Malas melakukan apapun. Penjualnya sepasang suami istri yang cukup ramah. "Mau pesan apa mbak?" Bapak itu bertanya dengan logat jawa kental. "Es degan." "Sebentar ya." Tak lama kemudian pesananku datang. Di tepi pantai mereka bermain seperti anak kecil dan hampir semua sudah basah kuyub. Bagas melambaikan tangan dari jauh. Memintaku untuk bergabung, aku hanya menggeleng takut nanti basah. Karena aku terus menolak Risa datang menghampiri. "Kamu masih kepikiran soal yang tadi?" "...." "Tadi Saiful cerita katanya kamu liat ada ibu anak nabrak motornya di turunan tajam. Tapi Saiful tidak melihat ada orang nabrak motornya." "Mungkin aku cuma halusinasi." Tanganku terus mengaduk es degan berusaha mengalihkan perhatian. "Mbaknya pasti digangguian di turunan bekas kecelakaan itu ya?" Ibu penjual itu ikut nimbrung. "Maksudnya bu?" Risa menyenggol pelan kakiku memberi kode. "Itu lho turunan yang dulu ada kejadian bis terguling. Aduh saya sampai miris saat melihat evakuasi korban. Penumpangnya sebagian anak kecil dek. Banyak korban jiwa juga. Sampai sekarang sering orang digangguin waktu lewat situ." Sial.. Jadi yang tadi itu. "Oh gitu, yaudah bu kami permisi dulu mau main ke pasir putih. Ini kembalian buat ibu aja." Risa menarikku pergi menjauh, untung es ku sudah habis. "Makasih dek." *** Kami menyempatkan untuk datang ke pasir putih yang bersebelahan dengan pantai tambak rejo. Untuk menuju pasir putih harus melewati sungai air payau yang kebetulan sedang surut dan mendaki melewati bukit kapur. Sebenarnya ada cara lain untuk menuju pasir putih dengan menyewa kapal untuk pergi menyeberang ke samping bukit, tapi sayangnya kapal sewanya sudah penuh lagipula sewanya cukup mahal. Kami memilih untuk melewati sungai. Kedalamannya hanya sampai lutut orang dewasa. Aku melepas sepatu sebelum menyeberang. Dasar sungai yang penuh batu tajam membuatku harus hati-hati. "Aw!" Aku buru-buru ke seberang saat merasakan kaki kananku menginjak sesuatu. Ada karang kecil yang menusuk telapak kakiku. Lukanya cukup lebar dan banyak keluar darah. Bagas mengeluarkan air mineral dari tasnya dan membersihkan lukaku. Risa mengambil alih perban di tangan Yuni dan mengobati lukaku dalam diam sambil sesekali melirik ke belakangku. Punggungku mulai terasa panas pasti ada sesuatu makanya Risa melirik kesana. Tekanan udara di sekitar mulai menurun, pasti banyak yang mendekat karena mencium bau darah. Aku merasakan ada yang menyentuh lukaku. "Masih bisa lanjutkan Neng? Ntar aku papah deh. Sini tasmu aku aja yang bawa." Saiful menarik tasku dan membantuku berdiri. "Makasih. Aku tidak apa-apa tenang saja, ini juga udah bisa jalan kok." "Wahyuning kamu jalan sama aku aja di tengah yang lain jaga di depan sama belakang. Kalau ada apa - apa bisa dicegah." Mereka mulai paham apa yang sebenarnya terjadi saat melihat perubahan ekspresi Risa. Terlihat dari sorot matanya yang makin tajam. Jika Risa sudah seperti itu pasti ada sesuatu yang mengintai kami. Bukit kapur yang kami lewati memiliki medan yang cukup terjal di beberapa jalan. Saiful dan Bagas berusaha menyingkirkan semak dan batu yang menghalangi jakan. Kakiku yang masih sakit menghambat jalanku. Risa sesekali membantuku melewati jalan terjal. "Mereka sudah mencicipi darahmu." Risa mengatakannya sambil tetap melihat lurus ke depan. "Maksudmu?" Aku langsung menoleh ke arahnya. "Aku hanya bisa menahan sebentar tapi setelah itu entahlah." Risa tidak menjelaskan lebih jauh dan terdiam. Kami beristirahat sebentar di puncak bukit, pemandangan dari atas bukit sangat indah. Hamparan lautan biru terlihat jelas dari sini. Perhatianku tertuju pada pusaran air yang berputar pelan. Ada tiga pusaran air. Semakin dilihat makin memabukkan. Pandanganku tak bisa lepas dari sana. "Wahyuning!! " "Eh.. Kenapa?" Mereka semua mengelilingiku yang berada dipelukan Bagas. Tunggu, bukannya tadi aku bersandar di pohon? "Kamu yang kenapa. Lari gitu aja, kalau Saiful sama Bagas telat narik, kamu udah jatuh ke tebing dan langsung terjun bebas ke laut!" Yuni berteriak hampir menangis. Aku menoleh ke Risa, dia hanya diam dari raut wajahnya dia seperti merasa bersalah. Ada sesuatu yang menahan kaki kananku. Perban yang melilit lukaku seperti ditarik-tarik. Sosok mirip kurcaci, seluruh tubuhnya terbakar dan air liurnya yang berwarna hitam menetes kemana-mana. m******t kakiku yang terluka. Reflek aku menggerakkan kakiku karena jijik. "Argh.. Lepas!" "Neng, istigfar neng." Risa mencekram pundakku erat samar aku mendengar lantunan ayat Al-Quran dan pandanganku mulai mengabur, aku dibuat buta. Aku merasakan tubuhku terangkat dan digendong di punggung seseorang. Jalan yang terjal dan menurun membuatku nyaris terjatuh dari gendongan beberapa kali. Rasanya waktu berjalan lebih lama dari biasanya. Antara sadar tidak sadar aku merasa ada sekelompok prajurit jawa membawa tombak mengelilingiku. Aku tak bisa melihat mereka dengan jelas tapi entah kenapa aku merasa mereka seperti menjagaku dari sesuatu karena sejak tadi aku mendengar desisan ular  beberapa kali. Tubuhku sudah didudukkan entah di mana dan aku hanya diam tidak bisa bergerak sama sekali. Setelah itu kesadaranku benar-benar hilang. *** Saat aku membuka mata aku sudah berada di rumah Risa dan kakeknya duduk di sampingku. Beliau mengelus kepalaku dan beranjak pergi memanggil yang lain. Risa langsung memelukku erat, aku masih belum sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi. “Aku kenapa Ris?” Risa terlihat ragu ingin mengatakannya. Kakek Risa kembali bersama teman-temanku yang lain. “Sudah ceritakan saja. Di masa depan dia akan sering menemui hal seperti ini. Setidaknya dia bisa menghadapinya.” Kakek Risa meyakinkan Risa yang masih ragu. “Aku minta kamu setelah ini kamu lebih berhati-hati. Karena kamu disukai oleh penghuni pantai, aku tidak bisa menjelaskan wujudnya. Dia ingin membawamu untuk tinggal bersamanya.” “Tapi kenapa aku?” “Kamu yang paling tahu jawabannya. Mulai hari ini kamu harus lebih berhati-hati. Dia akan mendatangimu lagi saat kamu mengetahui jari dirimu yang sebenarnya” Aku terdiam, berusaha mencerna apa yang Risa jelaskan. Saiful mengantarku pulang ke rumah. Aku tidak menceritakan kejadian yang aku alami pada orang tuaku. Mereka hanya akan binggung dan melarangku pergi bermain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN