Kuburan Gantung

969 Kata
Setelah kejadian itu aku tidak masuk selama satu minggu dan saat aku masuk teman sekelas langsung menodongku dengan pertanyaan mereka. Aku sendiri tidak ingat jelas bagaimana kejadiannya, Azizah berkata sekolah menutupi kejadian yang sebenarnya dan hanya beberapa yang tahu. Aku lega dengan begitu kehidupanku di sekolah sedikit lebih tenang. Bayangkan jika kejadian ini sampai bocor, pasti melelahkan menghadapi orang-orang yang penasaran. Tidak masuk sekolah membuatku ketinggalan pelajaran, untuk itu aku belajar bersama anggota ekstra gamelan. Kami berkumpul di rumah Bagas yang ada di jalan Melati kota Blitar. Meski kami berbeda kelas, materi pelajaran kami tidak jauh berbeda. Apalagi ada Risa yang murid kelas unggulan sehingga ada yang mengajari kami. Tapi sesi belajar hanya berlangsung satu jam, selebihnya kami malah bermain kartu dan makan camilan. "Daripada bengong jalan-jalan ke kuburan gantung yuk?" Bagas mulai mengusulkan ide gilanya. "Yakin? Bukannya itu tempat keramat? Jangan aneh-aneh."  Aku sangat setuju dengan Yuni. "Aku penasaran banget malah." Aku menjitak kepala Saiful. "Malah kepo. Ingat temanmu ini bisa lihat setan!" "Laa kan lumayan. Siapa tahu kita bisa nemu foto penampakan. Iya kan Gas?" "Yoi ma bro." Bagas membalas rangkulan Saiful. "Bedebah." Risa malah tertawa geli melihat reaksiku. Pada akhirnya kami pergi ke kuburan gantung. Aku benar-benar kalah suara, apalagi letak kuburan gantung tidak jauh dari pemukiman tempat tinggal Bagas. Hanya tinggal berjalan kaki melewati pematang sawah, kami sudah sampai di kuburan gantung. Makam gantung atau lebih dikenal dengan Pesanggrahan Djojodigdan berada di Jalan Melati No. 43 Kota Blitar. Jangan bayangkan ada sebuah makam yang menggantung. Makamnya  dibangun di atas lantai pondasi setinggi 50 cm sehingga tidak menyentuh tanah langsung. Jasad Eyang Djojodigdo dimasukkan ke dalam peti besi dan disangga empat tiang yang juga terbuat dari besi baru dikuburkan yang digantung adalah baju perang dan peralatan pribadi beliau yang ditempatkan di atap atau cungkup tepat di atas makam beliau. Tapi tidak sembarangan orang bisa melihatnya, hanya orang yang memiliki mata ketiga saja yang mampu melihat benda tersebut. Di dekat area pemakaman ada sebuah lahan yang sepertinya akan dijadikan perumahan. Aku hanya duduk di dekat parit tidak berani mendekati kuburan gantung. Dari sini saja aku bisa merasakan tekanan yang lumayan kuat. Bagas dan Saiful malah mendekati makam gantung. Sementara Yuni dan Risa melihat-lihat perumahan yang sedang dibangun itu. "Neng buruan ikut." Bagas menarik tanganku. "Eh apaan sih." Bagas menarikku mendekatiku kuburan gantung. Sekarang  jarakku dengan kuburan gantung hanya terpisah parit dan tembok setinggi pinggangku. Selain makam Eyang Djojodigdo ada juga makam lain di sekitarnya, setahuku yang dikuburkan di sini adalah keluarga beliau. "Kamu nyium bau amis darah gak?" "Ng… gak.." Aku terpaku pada kuburan gantung, aura ungu dan biru menyelimuti kuburan itu rasa pusing langsung melanda bagian belakang kepalaku. "Yakin kamu nggak nyium sesuatu?" Saiful malah terus mendesakku. Samar aku melihat ada dua harimau besar di dekat kuburan seolah meminta kami pergi. "Udahan aja yuk. Kesorean nanti." Setelah aku tarik paksa akhirnya Bagas dan Saiful mau meninggalkan kuburan gantung. Tanpa sengaja Bagas terpeleset dan jatuh ke parit. "s****n!!" Bagas mengumpat keras. "BAGAS!" Spontan aku menutup mulut Bagas Di belakang terdengar suara auman harimau. "Neng... Itu." Ternyata Bagas juga mendengarnya. Saiful mencolek pundakku, tangannya gemetar. Kami bertiga saling pandang dan tanpa mengatakan apapun kami langsung berlari secepat mungkin meninggalkan tempat itu. Yuni dan Risa terheran melihat kami berlari, apalagi Bagas basah kuyub. "Kalian kenapa?" Yuni menunjuk kami terheran. "Gara-gara dia nih." Aku memukul pundak Bagas sekeras mungkin. "Ma.. af.." Bagas malah tertawa sambil mengatur nafas. Pada akhirnya kami sepakat untuk segera pulang. Di tengah perjalan Risa menarikku untuk berjalan paling belakang. Dia memberi kode untuk melihat tangan kanannya. Saat aku melihatnya ada sebuah batu kecil berwarna hitam di telapak tangan Risa. Kepalaku seperti dipukul dari belakang, sekelilingku berubah. Banyak orang berpakaian jawa kuno berjalan menembusku. Mereka berlalu-lalang di jalan, di kanan kiri terdapat rumah kayu sederhana. Orang-orang itu mulai menyingkir dari jalanan. Di ujung jalan terlihat pasukan kerajaan berjalan ke arahku. Seorang lelaki menaiki kuda berada paling depan memimpin pasukan itu. Pasukan itu berhenti di hadapanku. Lelaki berkuda itu turun dan menghampiriku, dari baju yang dikenakan sepertinya dia seorang patih. Aku langsung teringat Eyang Djojodigdo yang dulunya seorang patih Blitar. Tapi entah kenapa aku merasa yang di depanku ini bukan beliau. Lelaki itu hanya diam di depanku dan menunjuk ke telapak tangannya. Dia tersenyum simpul dan melambaikan tangannya menyuruhku pergi. Badanku tertarik ke belakang. Sekitarku kembali berubah seperti semula. "Neng dipanggil dari tadi juga. Kebiasaan ngelamun deh, ntar kesambet lhoo." Yuni berkacak pinggang di depan. "Eh apa?" Aku masih kebingungan. "Udah ayo buruan." Risa menarik tanganku. Sampai di rumah Bagas, Risa langsung menarikku ke teras depan. Sementara yang lain makan di dalam. "Dia ini siapa? Kok Aku nggak bisa nerawang dia." Risa menunjukkan telapak tangannya. Batu kecil itu sudah masuk ke telapak tangannya. Aku hanya tersenyum, paham dengan penglihatan tadi. "Dia baik kok. Dia pengen ikut kamu. Kalau nggak percaya coba tanya kakekmu. Memang kamu nemu dimana?" "Di pohon yang ditanam dekat perumahan tadi. Ada darah yang menetes ke tanganku terus berubah jadi batu itu." "Sudah tidak apa-apa kok." "Ris. Neng. Buruan makan." Bagas muncul dari dalam rumah. "Oke." Sambil makan kami membahas soal kejadian tadi mulai dari Bagas yang tercebur parit, suara auman harimau sampai batu kecil yang ditemukan Risa. Auman tadi maksudnya peringatan agar tidak bertingkah kelewatan di sana. Beruntung kami hanya mendengar suara saja, kalau melihat wujudnya mungkin kami akan ketakutan dan diam di tempat. Aku menjewer telinga Bagas karena ulahnya membuat kami terlibat masalahn. Sementara  batu yang ditemukan Risa, dia akan bertanya pada kakeknya untuk lebih jelasnya. Kakek Risa dikenal sebagai 'orang pintar' beliau yang membimbing Risa. Obrolan kembali berganti dengan rencana liburan semester nanti. Libur dua minggu harus benar-benar kami manfaatkan, karena setelah naik ke kelas sembilan kami akan sibuk. Aku sedikit ragu dengan rencana liburan akan berjalan mulus, pasti akan ada sesuatu. Apalagi teman-temanku ini selalu memilih ke tempat yang tidak biasa. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN