Di tengah pelajaran matematika aku masih memikirkan peringatan Aki. Apa benar di kamar mandi sekolah ada penghuninya? Aku tahu kamar mandi itu bagaikan rumah untuk mereka, tapi aku belum pernah melihat ada sosok yang diceritakan Aki di kamar mandi sekolah.
"Neng anterin ke kamar mandi ya?" Azizah teman sebangku menyenggol lenganku.
"Males ah." Aku masih menulis rumus di papan tulis yang sudah tertinggal banyak karena melamun terus. Aku sedang memikirkan penghuni kamar mandi dan Azizah malah mengajakku ke sana.
"Pokoknya temenin. Titik!" Azizah berdiri untuk meminta izin pada pak Komar dan menarikku keluar. Nih anak bener-bener deh.
Kamar mandi SMP ku terletak di dekat mushola. Dari tujuh kamar mandi hanya tiga yang bisa digunakan. Sebagian bak penampungan bocor dan pintunya jebol. Dinding bagian dalam dipenuhi dengan komik hasil karya tangan-tangan kreatif.
Azizah memilih kamar mandi paling ujung. Aku menunggunya sambil bersender di tembok. Diam-diam aku mengecek ponsel yang aku selipkan di rok, SMP ku melarang muridnya membawa ponsel (aku termasuk siswa yang sering melanggar peraturan. Hehehe). Ada sms dari Risa, isinya meminta anggota ekstra gamelan berkumpul setelah pulang sekolah.
Aku menggedor pintu kamar mandi karena setelah lima menit Azizah belum keluar juga.
"Sebentar lagi. Sabar." Tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka, Azizah muncul dengan muka pucat. Buru-buru aku menyelipkan kembali ponselku.
"Neng, itu di dalam ada yang nangis." Azizah reflek bersembunyi di belakangku.
Haduh sudah kepala pusing malah ketemu beginian, peringatan Aki memang benar. Aku langsung menarik Azizah pergi dari sana. Sekilas aku melihat seorang gadis berdiri di pojok kamar mandi, memakai rok hitam selutut dan baju merah darah. Kami langsung berlari saat suara tangisan itu kembali terdengar.Saat sampai di kelas aku langsung meraih botol minum di meja. Untung pak Komar tidak bertanya kenapa tadi kami berlarian ke kelas. Pelajaran masih berlangsung, pak Komar menjelaskan soal di papan tulis. Murid yang duduk di belakang mulai kasak-kusuk. Beberapa ada yang menutup hidungnya.
"Amis, bau darah."
"Iya ini bau darah."
"Hueek bau banget."
Celotehan mulai terdengar keras. Bau amis darah mulai menyebar ke seluruh kelas. Aku dan Azizah langsung berpandangan.
"Ini siapa yang datang bulan? Kok bau amis darah." Bahkan pak Komar juga menciumnya.
"Bukan pak. Kalau datang bulan gak sampai bau amis seperti ini." Grace menyanggah.
Pusing di kepalaku semakin terasa. Tubuhku mulai berkerigat dingin. Sepertinya gadis itu mengikuti sampai ke kelas. Aku menepuk pundak Azizah. "Jah keluar sekarang."
Belum sempat Azizah menjawab. Wahyu yang duduk di belakang sendirian berteriak kencang diikuti murid yang lain dan semua orang langung keluar kelas. Aku yang berada paling dekat dengan pintu malah keluar paling akhir.
Pintu langsung menutup keras setelah semua orang keluar.
"Tadi itu apaan?" Wahyu terlihat sangat kaget. Alasan Wahyu berteriak adalah karena gadis itu duduk tepat di sebelahnya, bahkan murid lain juga melihatnya. Gadis itu sudah kelewatan.
"Gimana ini pak?"
"Hasim panggil pak Mujib dan pak Saiful." Pak Komar menyerah setelah berulang kali membuka pintu tapi tidak berhasil. Hasim langsung berlari menuju ruang BK.
Azizah menarikku menjauh. "Neng dia ngikutin kita ya?"
"Lebih tepatnya dia mengikutiku." Aku menghela nafas sejenak. "Kondisiku sedang lemah, jadi dia lebih gampang merasukiku."
"Ini masih kamu kan Neng?" Azizah mencubit pipiku.
Langsungku tepis tangannya. "Enak saja. Aku masih sadar."
Hasim datang bersama pak Mujib dan pak Saiful. Setelah berbicara dengan pak Komar, pak Mujib melihatku sekilas. Beliau pasti langsung tahu. Ketiga guru itu kembali membuka pintu, hasilnya pintu tetap tidak bisa terbuka. Kejadian ini mulai menarik perhatian kelas lain. Sebagian mengintip lewat jendela dan bergerombol di sekitar kelasku. Bahkan ada yang terang-terangan menunjukku, pasti masalah gosib aku yang punya indra keenam.
"Allahuakbar!!" Pak Mujib berteriak lantang pintu langsung terbuka. Kelas kosong, tidak ada keberadaan gadis itu. Pak Mujib menoleh ke arahku, beliau menatapku penuh arti.
Aku mulai merasakan ada yang aneh di belakangku. Panas. Suara di sekitarku mulai terdengar semakin jelas. Rasanya seperti masuk ke dalam air. Tengkukku seperti ada yang menekan. Seseorang menarik tanganku, aku tidak tau siapa yang menarikku pandanganku memburam. Terdengar suara tangisan seorang gadis, suaranya membuat telingaku sakit. Sekuat tenaga aku mencoba untuk tetap sadar. Berulang kali aku beristigfar. Tangisan itu bertambah kencang. Tanpa bisa aku tahan lagi, aku menangis sesegukan kepalaku semakin terasa berat.
Aku merasa tubuhku dibaringkan dan ada seseorang yang menyentuh dahiku. Samar aku melihat gadis tadi, darah mengalir di kakinya. Baju yang dipakainya berwarna putih tapi tertutupi oleh darah sehingga menutupi warna aslinya. Sebagian wajahnya penuh luka lebam. Setelah itu aku tidak ingat apa-apa.
***
Ini cerita dari Azizah.
Saat pak Mujib menoleh padaku, beliau memanggilku berulang kali tapi aku tidak menyahut. Aku hanya diam dan mengelus tengkukku. Ketika beliau mendekatiku, beliau mendengarku terus mengucapkan istigfar berulang kali. Paham dengan keadaanku Pak Saiful langsung menarik tanganku dan merangkulku. Beliau menuntunku ke mushola agar tidak menarik perhatian murid lain dan membuat keadaan semakin ricuh.
Sampai di teras mushola aku langsung menangis sesegukan dan tubuhku mulai limbung. Pak Saiful akhirnya menggendongku masuk ke mushola.Pak Mujib menyentuh dahiku dan mulai melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Setelah aku agak tenang pak Mujib bertanya pada gadis yang merasukiku. Azizah bilang jika gadis yang merasukiku adalah korban p*********n yang mayatnya dibuang di sawah yang letaknya cukup jauh dari sekolah. Dia meminta tolong untuk menguburkan mayatnya dengan layak dan memberi tahu keluarganya.
Sekolah merahasiakan hal ini dari murid lainnya agar tidak menimbulkan kepanikan.
***
Begitu membuka mata sudah ada Risa dan Yuni di sampingku. Aku mencoba bangun tapi nyeri di d**a memaksaku untuk berbaring lagi .
"Jangan dipaksa Neng. Nafasmu masih berat." Risa membantuku berbaring.
"Kalau sudah mendingan kamu istirahat di rumah Bagas dulu aja. Pak Sai sudah ngasih izin." Yuni kembali menyelimutiku.
Sepertinya aku ada di UKS. Baruku sadari ada selang oksigen yang terpasang di hidungku. Hari yang melelahkan.