SD : Masa dimana aku masih terlalu polos untuk menyadari keberadaan mereka
Aku masih berkutat dengan jahitan boneka di tanganku. Masih banyak yang harus dijahit sementara tugas ini harus dikumpulkan lusa. Sebenarnya tugas ini dilakukan secara berkelompok tapi temanku yang lain sedang sholat dzuhur di gazebo. SD tempatku bersekolah memang sekolah islam.
Mendapat menstruasi saat masih kelas empat SD membuatku harus rela di kelas sendirian saat waktu sholat tiba. Makanya aku mengisi waktu dengan mengerjakan jahitan. Apalagi kelasku berada di lantai dua yang cukup sepi. Gedung sekolahku cukup besar untuk sebuah gedung SD.
Tap.. tap.. tap..
Perhatianku teralihkan saat ada suara langkah kaki dan diikuti dengan suara gemerincing kunci. Aku menoleh ke sekeliling tidak ada siapapun disini. Aku meninggalkan boneka yang telah selesai dijahit di atas meja. Rasa penasaran membuatku mendekati asal suara yang masih terus terdengar.
Angin dingin menyambutku ketika membuka pintu kelas.
Dari ujung lorong, satpam sekolahku Pak Yo berjalan ke arahku. Beliau memakai topi menutupi sebagian wajahnya. Cara jalannya yang tertatih membuatku mendekat untuk membantu. Tapi pak Yo melambaikan tangannya menolak bantuanku.
"Kenapa pak kakinya?"
Pak Yo hanya menggeleng dan tersenyum samar ke arahku, kemudian berjalan melewatiku. Bau harum melati tercium saat pak Yo lewat. Aku terus memperhatikan pak Yo hingga berbelok di turunan tangga. Bau melati seketika hilang.
Aku merasa ada yang mengganjal, jadi aku melihat ke tangga apakah pak Yo benar-benar turun. Kosong tidak ada siapapun, saat aku turun juga tidak ada orang. Aku kembali ke atas, mungkin pak Yo tidak turun tapi berbelok ke kelas lain. Tapi saat aku kembali tidak ada orang selain diriku, di kelasku juga kosong.
Lalu kemana perginya pak Yo?
"Ning, bonekanya sudah selesai belum?" Devi menepuk bahuku dari belakang, membuatku terkejut.
"Sudah kok. Tinggal nempel hiasannya." Aku menunjuk boneka yang sudah selesai di meja.
"Ayo sini aku bantuin. Bentar lagi yang lain nyusul kok."
"Oh iya." Aku kembali berkutat dengan boneka dan melupakan kejadian tadi.
***
Setelah seminggu akhirnya menstruasiku sudah selesai. Mendapat menstruasi saat masa kecil memang sangat tidak nyaman, usiaku saat itu masih 9 tahun. Padahal teman-teman sekelas belum ada yang mendapat menstruasi. Ibuku pernah memeriksakan kondisiku karena takut ada kelainan. Tapi kata dokter hal ini bisa terjadi karena hormone di otak sudah aktif duluan dan saat aku lahir berat badanku rendah.
Seperti biasa setelah jam pelajaran terakhir waktunya sholat dzuhur. Sebelum sholat biasanya kami akan membentuk kelompok untuk mengaji bersama. Baru setelah itu sholat dzuhur berjamaah dan Pak Yo selalu menjadi imam sholat. Aku memilih barisan sholat paling belakang karena tidak terlalu berhimpitan. .
Tunggu... Aku jadi teringat akan sesuatu.
Jika pak Yo selalu menjadi imam sholat. Lalu siapa yang bertemu denganku di lantai dua kemarin?
***
Aku tidak terlalu mengingat masa kecilku. Ini karena saat masih kecil aku mengalami kejadian yang membuatku trauma sampai sekarang. Tindakan bullying dan perlakuan tidak mengenakan dari orang sekitarku.
Dari kecil aku memang berbeda dengan anak-anak sebayaku. Apalagi penampilan fisikku yang kecil dan gigiku yang tidak rata menjadikan aku sebagai sasaran bullying. Tidak ada yang mau duduk sebangku denganku. Saat sholat berjamaah tidak ada yang mau berada dalam satu baris denganku. Aku selalu berusaha agar diperlakukan sama dengan anak yang lain. Tapi tetap saja aku tersingkir dan jadi bahan olokan.
Karena hal itu aku tumbuh menjadi anak yang pendiam dan memendam masalah sendiri. Aku hanya berdiam diri perpustakaan saat istirahat dan baru bersosialisasi saat ada tugas kelompok. Para guru sering menasehatiku untuk lebih banyak tersenyum dan lebih membaur. Di mata para guru masalahku hanya sekedar masalah anak-anak pada umumnya.
Pengalaman yang aku lalui membuatku ingin melupakan masa kecilku, jadi aku tidak akan banyak menceritakannya. Cerita selanjutnya akan bercerita tentang masa sekolah menengah pertama.