Setelah kepergian Jack yang mengingatkan Axel untuk makan siang, tak lama datanglah sang sekretaris masuk ke dalam ruangannya.
"Maaf Tuan, ada tamu dari perusahaan Pradipta," ucap Faris.
"Maksudmu perusahaan dari Revan?" tanya Axel lagi memastikan ucapan sang sekretaris barusan.
Ya, benar Tuan. Kali ini mereka mengutus sekretarisnya datang menemui Tuan untuk membuat kerja sama dan agar kita mau membantu perusahaan mereka," terang Faris.
"Persilahkan mereka masuk." Sebuah lengkungan terbit di bibir Axel.
Tampak Axel duduk di kursinya dengan gaya yang sombong. Kini utusan perusahan Pradipta telah masuk ke ruangannya. Dan Axel memanggil Jack, dia pun setuju akan membantu perusahaan Pradipta dengan berbagai macam syarat yang Axel lontarkan. Salah satu di antaranya adalah 15% saham perusahaan atas namanya, jika tak mau pun, dia tak akan berinvestasi disana.
Dengan terpaksa akhirnya perusahaan Pradipta pun menyetujui syarat tersebut karena hanya perusahan Enriawan lah yang mau membantu mereka.
Axel tersenyum penuh kemenangan, perlahan rencananya telah berhasil.
"Ini baru awal, aku akan membuat kalian bertekuk lutut dan memohon padaku. Kalian harus membayar mahal atas apa yang sudah kalian perbuat kepada Tuan Bagas," lirih Axel.
Tak terasa waktu bergulir dengan begitu cepat. Jarum jam telah menunjukkan pukul 4 sore, dan sudah waktunya Axel pulang dari kantor. Sampai di rumah manik matanya melihat Disya yang tengah menonton tv. Axel pun melewatinya dan segera masuk ke dalam kamarnya.
Kini Alan sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang sembari membaca buku. Ya, membaca buku adalah salah satu kebiasaan Axel dari dulu sebelum tidur. Tiba-tiba lampu pun padam.
Segera mungkin Axel bangun dan mengambil ponselnya yang dia letakkan di atas nakas dekat ranjangnya. Menggunakan ponselnya yang di jadikan senter untuk mencari lilin dan menyalakannya.
Axel berjalan keluar dan memanggil pelayan.
"Apa yang terjadi? Kenapa lampunya bisa mati?" tanya Axel penasaran.
"Maaf Tuan, tadi terjadi konsleting dan baru bisa di perbaiki besok pagi karena tukangnya sedang berada di luar kota," jawab Pak Kardi selaki pelayanan yang ada di rumah Disya.
"Baiklah kalau begitu, jangan lupa nyalakan lilin di berbagai tempat agar tak terlalu gelap," titah Axel pada Pak Kardi. Kemudian dia berjalan ke arah kamar Disya.
"Disya ...," panggil Axel sembari mengetuk pintu kamar nya.
"Axel ... A- aku takut!" Terdengar suara Disya yang begitu ketakutan dari dalam.
Tanpa menunggu lama, Axel pun melangkah masuk ke dalam kamar tersebut. Manik matanya menelisik seluruh ruangan, mencari sosok Disya yang sedang ketakutan. Ternyata Disya tengah duduk meringkuk di atas ranjang miliknya.
"A- aku takut Axel ...." Ucapnya lagi dengan tangan dingin dan gemetar.
"Tenanglah, ada aku disini. Kamu tak perlu takut lagi," ucap Axel berusaha menenangkan Disya dengan memeluk erat tubuh istrinya itu. Dia tahu betul bahwa Disya saat ini merasa ketakutan.
Sementara Disya pun membalas pelukan Axel, dia juga memeluk erat tubuh kekar lelaki yang menjadi suaminya itu.
"Ayo," ajak Axel.
"Kemana?" Disya mengerutkan dahinya menatap heran Axel.
"Lebih baik kita tidur di kamarku saja karena lampunya akan mati hingga besok pagi, atau mungkin kau mau tidur sendiri disini?" tanya Axel.
"T- tidak! Aku takut, aku ikut denganmu saja," jawab Disya cepat yang masih mengeratkan pelukannya.
Perlahan mereka berdua berjalan keluar menuju kamar Axel.
"Tidurlah, aku akan menjagamu. Kau tak perlu takut lagi, ada aku disini," ucap Axel yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. Tangan kekarnya terukir mengambil sebuah bantal dan selimut, akan tidur di sofa. Lelaki itu tak mungkin tidur satu ranjang dengan Disya, mengingat bagaimana sang istri yang begitu menolak dirinya sebagai seorang suami. Bahkan dengan sadar Disya menganggap Axel hanya sekedar teman, tak lebih dari itu.
Tiba-tiba Disya menahan lengan Axel dengan wajah sendunya.
"K- kau tidur disini saja," lirih Disya membuat Axel terdiam mematung dengan ucapan Disya barusan. Sungguh Axel masih belum ngeh dengan apa yang dia dengar.
"Aku takut. Waktu dulu Papa biasa memelukku jika aku merasa takut. Mau kah kau memelukku dan mengusap kepalaku hingga aku tertidur," pinta Disya lirih.
Untuk sejenak Axel masih terdiam membisu, dia berusaha meresapi setiap kata yang terlontar dari bibir Disya. Sebelum akhirnya dia pun mengangguk mengiyakan keinginan Disya.
Axel kembali meletakkan bantal dan selimutnya.Perlahan dia naik ke atas ranjang dan memeluk Disya.
"Kemari lah, aku kan memelukmu. Dan sekarang tidurlah dengan nyenyak," ucap Axel.
Tangan besarnya mengusap lembut kepala Disya hingga tak Alma kemudian Disya tertidur pulas.
Kepalanya berbantalkan lengan kekar Axel dan dia memeluk erat tubuh kekar suaminya itu. Tampak Disya yang menyembunyikan kepalanya di d**a bidang suaminya. Tanpa Disya sadari bahwa posisinya saat itu telah membuatnya merasa nyaman dan takut lagi.
Sedangkan jantung Axel berpacu kian kencang seolah ingin keluar dari sarangnya. Dadanya begitu berdebar, dengan apa yang di lakukan Disya saat ini. Sungguh Axel tak bisa menahan gelenyar aneh di dalam hatinya itu.
Ada perasaan bahagia yang menyusup di relung hatinya. Di sibakkannya rambut Disya yang menutupi wajahnya ke belakang teling. Cukup lama Axel memandangi wajah cantik istrinya itu.
Terlihat jelas alisnya yang begitu tebal, buku mata lentik, pipinya sedikit tirus dan bibirnya berwarna merah muda. Hal itu membuat Axel ingin sekali mencecap bibir mungil itu. Benar-benar menggoda iman Axel pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. Perlahan dia memajukan wajahnya, kini jarak mereka semakin dekat. Tapi, detik selanjutnya dia menghentikannya dan lagi ... lelaki itu teringat akan ucapan Disya.
"Kita hanya sebatas teman, ingat itu!"
Axel tersenyum getir dan memundurkan kembali wajahnya. Terlihat jelas gurat kekecewaan di raut wajahnya, sebelum akhirnya Axel pun ikut memejamkan matanya. Tak lama dia juga ikut tertidur pulas dengan memeluk tubuh Disya.
🌷🌷🌷
Pagi pun tiba, terdengar suara kicauan burung dari luar jendela. Dan hal itu sukses membangunkan Disya dari tidur lelapnya. Disya terkejut ketika dia sadar ada benda berat yang ada di atas perutnya.
Perlahan dia membuka bola matanya dan di pandanginya jelas-jelas wajah Axel yang ada di depan matanya. Lelaki itu masih tertidur pulas, dan Disya masih terus memperhatikan wajah suaminya. Tampak tenang, rahang yang kokoh, alisnya begitu tebal, hidungnya yang mancung dan juga bibirnya yang tipis.
"Kalau sedang tidur begini dan di pandangi dari jarak dekat seperti ini, ternyata dia tampan juga," gumam Disya yang atk henti-hentinya menatap wajah lelaki tersebut.
Disya masih enggan untuk turun, rasanya begitu sangat nyaman berada di dalam pelukan Axel. Hingga Axel mulai sedikit bergerak dan mulai membuka matanya. Dengan cepat Disya berpura-pura tidur agar Axel tak tahu jika dia memandangi wajahnya.
'Baru bangun tidur saja sudah cantik.'
.
.
.
🌷Bersambung🌷