Axel tiba di rumahnya setelah perjalanan yang cukup lama. Jalanan macet sehingga dia tiba di rumah sekitar pukul 10 malam.
Ya sedari tadi lelaki itu menyibukkan diri di kantor bergelut dengan berbagai macam berkas dan pekerjaan yang harus dia selesaikan saat itu juga. Bukan karena tanpa alasan Axel melakukan itu, semua dia lakukan hanya tak ingin amarahnya kembali meluap saat bertemu dengan Disya yang super manja dan keras kepala.
Dengan langkah lebar Axel segera naik ke lantai 2 menuju kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian santai. Beberapa menit kemudian Axel keluar dari kamar mandi dengan baju santainya, lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tiba-tiba dia teringat akan Disya. Sontak Axel beranjak dan berjalan keluar menuju kamar Disya.
Kini Axel telah berada di depan pintu kamar Disya, ingin sekali lelaki itu membuka pintu tersebut. Namun dia kembali teringat dengan ucapan Disya tadi pagi membuat dia mengurungkan niatnya. Axel pun berbalik, lagi lagi langkahnya terhenti dengan segala macam pikiran yang berputar di kepalanya.
'Aku harus memastikan dia tidur baru aku kembali ke kamar.'
Sebelum akhirnya Axel pun memutuskan untuk membuka pintu kamar yang ternyata tidak di kunci oleh Disya. Axel berjalan masuk ke dalam dan ingin memastikan Disya sudah tidur.
Manik matanya menangkap Disya yang tengah meringkuk di atas ranjang. Perlahan Axel menarik selimut dan menutupi tubuh Disya. Bersamaan dengan itu dia tak sengaja menyentuh tangan Disya.
"Panas ...." Axel terkejut mengetahui suhu tubuh Disya yang begitu panas. Tampak Axel memegang dahinya , panas, ternyata Disya sedang demam. Secepat kilat Axel turun ke lantai bawah untuk mengambil air hangat dan air putih hangat. Dia akan mengompres Disya dan menyuruhnya untuk meminum obat.
Tak lama Axel kembali ke kamar, dia mengompres Disya dengan telaten. Sudah setengah jam Axel berada disana namun panasnya tak kunjung turun. Bahkan Disya sempat mengigau Papa nya. Axel pun berjalan keluar untuk mencari kotak obat dan mengambil obat demam. Segera mungkin Axel memasukkan obat ke dalam mulut Disya dan meminumkannya air hangat, Disya pun kembali tertidur. Sedangkan Axel masih terus mengompresnya hingga panasnya mulai turun. Axel masih saja mengompresnya semalaman. Hingga tanpa sadar dia tertidur di samping Disya dengan posisi duduk.
Tak lama Disya terbangun dan saat membuka matanya dia melihat Axel yang tertidur di tepat di sebelahnya. Tampak jelas raut wajah Axel, alisnya yang tebal, rahang yang tegas dan wajahnya yang terlihat tampan. Baru kali ini Disya menyadari jika Axel tampan. Cukup lama Disya memandangi wajah lelaki yang kini menjadi suaminya itu.
Detik selanjutnya mata Axel terbuka, Disya buru-buru mengalihkan pandangannya. Disya malu jika sampai Axel tahu dia memandangi wajahnya.
"Kau sudah bangun? Apa masih demam?" tanya Axel sembari tangannya terulur menyentuh dahi Disya. Namun tak ada jawaban dari Disya yang masih terdiam membisu.
"Alhamdullilah sudah tidak demam lagi," ucap Axel. Dia pun segera beranjak dari tempatnya dan akan kembali ke kamarnya.
"Axel, terimakasih," ucap Disya.
Langkah Axel terhenti sejenak, lalu melangkah meninggalkan kamar Disya tanpa menjawab ucapan Disya.
Kini Axel telah berada di kamarnya, segera mungkin dia membersihkan diri dan berganti pakaian kerjanya. Saat akan memakai dasinya, tiba-tiba dia teringat kejadian semalam. Axel pun melamun ....
Tanpa Axel sadari, Disya masuk ke dalam kamarnya dan mendapati Axel yang melamun. Dengan pelan Disya mengambil dasi dan memakaikannya di leher Axel. Hal itu membuat Axel tersadar dari lamunannya.
"Aku bisa sendiri," ucap Axel sembari menarik dasi yang di pegang Disya. Namun Disya sama sekali tak melepaskannya. Disya terus berusaha untuk memakaikannya tapi Axel juga bersikeras tidak mau.
"Kau sedang sakit, aku bisa sendiri," ucap Axel.
Disya diam tak menanggapi ucapan Axel hingga dia selesai memakaikannya dasi. Manik mata Axel tak henti-hentinya memperhatikan wajah Disya. Jarak mereka yang begitu dekat mempermudah mempermudah Axel memandang wajah istrinya. Cantik kata yang tepat menggambarkan wajah Disya. Walau terlihat pucat tak mengurangi kecantikannya.
"Sudah selesai," ucap Disya yang membuyarkan lamunan Axel. Hal itu membuat Axel salah tingkah.
"Terimakasih," ucap Axel cepat.
"Terimakasih sudah merawat ku tadi malam," ucap Disya.
"Itu sudah tugasku, tidak perlu berterimakasih," jawab Axel.
"Maaf ... maaf atas ucapanku kemarin yang menyakiti hatimu dan maaf jika aku bersikap kasar padamu. Aku benar-benar minta maaf padamu," ucap Axel tulus.
"Aku juga minta maaf jika berkata kasar padamu. Bagaimana kalau kita mulai menjadi teman," tawar Disya.
"Teman?" Axel berkerut alis terheran dengan ucapan Disya barusan.
"Ya benar, kita bisa jadi teman karena aku aku tak bisa membuka hatiku untukmu. Aku mencintai orang lain dan kau pun tahu itu. Aku ingin kita berteman. Kau juga bisa mencari pacar, aku sama sekali tak melarang mu. Dan setelah 2 tahun pernikahan kita, kita akan berpisah Dan kau akan mendapatkan setengah dari harta kekayaan Papa," ucap Disya.
Detik itu juga Axel merasakan sakit tak berdarah bak seperti tertancap ribuan anak panah yang melesat menembus jantungnya. Dadanya begitu sesak mendengar ucapan Disya. Sungguh dia tak menyangka bahwa disya bisa bicara seperti itu padanya.
"Di depan orang kita tetap terlihat seperti pasangan suami istri pada umumnya. Dan aku akan menyiapkan segala keperluanmu, bagaimana?" tanya Disya.
"Aku setuju. Tapi aku tak perlu repot-repot mengurus semua kebutuhanku. Aku bisa sendiri," ucap Axel berlalu meninggalkan Disya sendiri.
Sementara Disya hanya terdiam mematung memandang kepergian Axel.
🌷🌷🌷
Axel berangkat ke kantor dengan perasaan yang lesu. Rasa sakit itu masih menyelimuti dirinya mengingat ucapan Disya tadi. "Teman"
Ya kata itu yang terus berputar di kepalanya.
"Dia hanya menganggap aku teman." Ucapnya berulangkali.
"Pagi Pak," sapa para karyawan yang bertemu Axel di jalan. Axel pun hanya mengangguk jawab salam mereka. Sedangkan Jack sudah mengikuti langkahnya di belakang. Begitu sampai di ruangannya, Axel langsung menanyakan kegiatan dan schedulenya hari ini. Jack tampak sedikit heran melihat sikap Axel, tapi dia masih belum berani bertanya.
kIni Axel di sibukkan dengan segala aktivitasnya. Hingga menjelang makan siang pun dia tidak keluar. Sementara Jack semakin khawatir, dan memutuskan masuk ke dalam ruangan sahabatnya itu. Jack membawa dua kitak makan siang untuknya dan Axel.
"Axel, sebaiknya kita makan dulu. Ini sudah jam setengah 2, dan kamu belum makan siang. Ini aku belikan sekalian," tawar Jack.
"Kamu makan aja dulu, aku nanti saja. Masih nanggung ini," jawab Axel yang masih fokus dengan berkas yang ada di hadapannya.
"Kamu kenapa sih Axel?" tanya Jack lagi.
.
.
.
🌷Bersambung🌷