"Apa yang kau lakukan disini? Cepat masuk, udara disini sangat dingin," ucap Axel.
"Bukan urusanmu," jawab Disya ketus.
Detik itu juga emosi Axel pun naik saat mendengar apa yang di katakan Disya.
"Jelas ini menjadi urusan ku karena kau istriku. Cepat turun ke bawah, aku tunggu di ruang makan," titah Axel dan berbalik akn meninggalkan Disya.
"Aku nggak mau makan, lebih baik kau makanlah sendiri," jawab Disya cepat dan menghentikan langkah Axel dan segera berbalik berjalan mendekati Disya denah tatapan elangnya.
"Ingat jangan seperti anak kecil yang hanya bisa merepotkan ku saja. Cepat turun atau aku seret ke bawah," kecam Axel.
"Aku sudah bilang bukan, aku tak mau. jangan memaksaku!" bentak Disya yang sudah merasa kesal pada Axel.
Dengan langkah lebar Axel berjalan ke arah Disya dan menggendong tubuh Disya di pundaknya bak seperti karung beras. Tak banyak bicara dia langsung membawa Disya ke lantai bawah. Sedangkan Disya terus meronta, memaki dan memukul tubuh Axel. Namun Axel sama sekali tak menghiraukan itu, dia terus membawa Disya ke ruang makan. Kini Axel telah sampai di lantai bawah sebelum akhirnya lelaki itu menurunkannya secara kasar hingga Disya terduduk di lantai.
"Kau ...," teriak Disya dan segera beranjak.
"Cepat makan atau aku yang akan menyuapimu!" titah Axel.
"Aku tidak mau!" Disya terus berteriak, menolak perintah Axel.
Dengan cekatan Axel mengambil nasi dan lauk, lalu dia berjalan mendekat ke arah Disya. Meletakkan piring dan nasi di atas meja. Dan kini tampak Disya yang sudah duduk di atas meja makan.
Sementara Disya pun masih terdiam sama sekali tak menyentuh makanan tersebut. Hal itu membuat Axel semakin marah. Selanjutnya Axel mengambil sendok dan memasukkannya ke dalam mulutnya kemudian dia mendekat ke arah Disya. Melihat pergerakan Axel, secepat kilat Disya menutup mulutnya dengan tangannya.
"Aku bisa makan sendiri," ucap Disya cepat.
Axel pun tersenyum penuh kemenangan.
"Cepat habiskan, aku tunggu disini," tegas Axel. Disya pun tak henti-hentinya menggerutu sambil memakan makanannya karena dia takut dengan Axel. Axel juga mengambil makanan untuknya dan memakannya. Mereka makan dalam diam, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir keduanya. Suasana berubah jadi hening, hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring.
"Ternyata seperti ini caranya, agar dia mau menurut. Dia sangat lucu dan menggemaskan sekali saya dia ketakutan tadi," ucap Axel dalam hati yang sekilas melirik ker arah Disya. Sontak sebuah lengkungan indah yang terbit di bibirnya ketika mengingat hal itu.
Tak lama makan malam pun telah usai, baik Axel dan Disya telah kembali ke kamar mereka masing-masing.
Tiba di dalam kamar, Axel segera mandi dan merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya. Tekadnya sudah bulat untuk memperjuangkan pernikahan itu, tak lama lelaki itu tertidur pulas.
Pagi pun tiba, seperti biasa Axel turun ke bawah dengan berpakaian rapi. Namun lelaki itu belum memakai dasinya. Dia berjalan menuruni anak tangga mencari Disya di ruang makan. Tapi sosok yang dia cari tak ada disana.
"Bi, mana Disya?" tanya Axel.
"Nona Disya belum turun Tuan," jawab Bi Ina.
Segera mungkin dia berbalik kembali ke lantai atas menuju kamar Disya. Cukup lama dia mengetuk pintu itu namun hasilnya nihil, sama sekali tak ada jawaban dari sang empu. Perlahan dia membuka pintu dan berjalan masuk ke dalam, bersamaan Disya yang baru keluar dari kamar mandi. Tampak Disya yang sudah berpakaian lengkap, hanya saja rambutnya yang masih di bungkus handuk karena basah. Ha itu membuat Axel terpesona melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
"Ada apa kau masuk ke kamarku? Lain kali ketuk pintu dulu, jangan masuk sembarangan. Apa kau tidak tahu sopan santun," ketus Disya dengan sorot tajam menatap ke arah Axel.
Axel berjalan mendekat ke arah Disya.
"Dengar baik-baik, aku sudah mengetuk pintu berulang kali tapi tak ada jawaban."
"Cepat pakaikan, mulai hari ini dan seterusnya tugasmu memakaikan dasiku," ucap Axel sembari menyodorkan dasi yang ada di tangannya.
Tak banyak bicara Disya pun segera mengambil dasi itu dan memakaikannya.
"Aku bisa memakaikannya di luar, tanpa harus masuk ke dalam kamarku," ucap Disya.
"Kenapa memangnya kalau aku masuk. Ingat, kamu adalah istriku. Aku berhak atas dirimu, apalagi hanya masuk ke dalam kamar ini. Asal kau tahu aku bisa saja melakukan hal lebih padamu karena itu adalah hak ku," ucap Axel penuh penekanan pada kata hak membuat wajah Disya berubah menjadi merah padam.
"Jangan pernah berpikir untuk menyentuhku!" bentak Disya sembari menutupi dirinya dengan menyilangkan tangannya di dadanya.
"Kalau aku mau gimana?" ucap Axel dengan senyum yang sulit di artikan.
Perlahan Axel maju dan membuat Disya merasa ketakutan.
"Jangan pernah lupa kalau aku adalah suamimu, dan aku berhak melakukan apa saja padamu. Dan kau tak bisa berbuat apapun," ucap Axel lagi tepat di depan wajah Disya. Hangat nafas Axel menyentuh kulit mulus Disya. Setelah berbicara, Axel berlalu meninggalkan Disya yang masih bengong dan syok akan tindakan Axel tadi.
Sementara Axel terus melangkahkan kakinya turun ke bawah mengambil tas dan kunci mobilnya. Dia berjalan keluar dan masuk ke dalam mobil. Lelaki itu melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Terlihat jelas terpancar sebuah amarah yang masih menyelimuti dirinya. Tak lama Axel menghentikan mobilnya di tepi jalan dan memukul kemudi setirnya dengan kuat.
"Aaaarrgh ...," teriak Axel frustasi.
Sungguh Axel merasa tersinggung dengan ucapan Disya.
Setelah lama berdiam diri, Axel kembali melajukan mobilnya. Emosinya pun kian mereda membuat Axel kembali ke kantor dan melanjutkan aktivitasnya.
"Pagi Pak," ucap Jack formal yang barusaja masuk ke dalam ruangan Axel.
"Ada apa?" tanya Axel yang masih sibuk dengan beberapa berkas di atas meja.
"Perusahaan keluarga Pradipta mengalami kesulitan keuangan karena proyek mereka yang berada di Bali mengalami kerugian yang sangat besar. Kini mereka sedang mencari donatur untuk membantu mengatasi masalah mereka," ucap Jack panjang lebar.
"Segera hubungi rekam bisnis kita, dan hasut mereka agar tidak mau berinvestasi ke perusahaan mereka. Hingga akhirnya mereka datang ke perusahaan kita dan mengemis bantuan. Setalah itu baru bisa menguasai perusahaan dan menghancurkannya," ucap Axel.
"Baik Pak, siap laksanakan," jawab Jack.
Jack pun segera berlalu keluar meninggalkan ruangan Axel. Dan melaksanakan apa yang di perintahkan bosnya itu.
"Permainan baru akan segera di mulai. Kita lihat bagaimana kau akan mengemis padaku," ucap Axel sembari duduk menyenderkan tubuhnya di atas kursi kebesarannya.
ð·ð·ð·
"Panas ...."
.
.
.
ð·Bersambungð·