Bingung

1227 Kata
FLASHBACK ON Begitu tahu jika Axel pergi ke Bangkok, Disya pun memutuskan untuk pergi keluar rumah. Dia mengajak sahabatnya yang tak lain Tika bertemu di kafe biasa mereka nongkrong. "Gimana pernikahan kamu dengan es balok?" tanya Tika. Disya menghela nafas beratnya lalu menghembuskannya secara perlahan. "Ya, seperti yang kamu lihat, datar. Bahkan aku tak pernah bertegur sapa dengannya," jujur Disya. Terlihat jelas raut wajahnya yang begitu malas ketika membahas Axel. "Jangan bilang ...." "Apa! Stop berpikiran yang aneh-aneh deh, aku dan Axel tidur di kamar yang berbeda. Kami menikah karena Papa, kamu sendiri tahu bukan gimana dingin dan datarnya Axel. Sejak dulu dia berbicara seperlunya." Segera mungkin Disya memotong ucapan Tika. "Dasar pasangan aneh! Lalu kenapa kalian tidak berpisah saja, toh Papa kamu sudah tidak ada," ucap Tika. Apa yang di katakan Tika memang benar adanya, untuk apa juga dia mempertahankan rumah tangganya ini sedangkan Papa nya saja sudah tiada. Lebih baik dia segera bercerai dengan Axel. Ya, begitulah pemikiran Disya saat itu. Disisi lain Disya pun berniat ingin menemui Revan, dan menanyakan alasannya pergi di hari pernikahan mereka. Sungguh Disya masih penasaran akan hal itu yang terus terngiang di benaknya. "Kok bengong?" Tika melambaikan tangannya tepat di wajah Disya. "Eh enggak. Mmm ... benar juga apa yang kamu bilang. Aku akan pikirkan saranmu itu." ucap Disya yang berusaha tersadar dari lamunannya. " Nah gitu dong. Udah ah jangan sedih lagi, nanti cantiknya hilang," goda Tika berusaha menghibur sahabatnya itu. "Oh iya, gimana kalau hari ini kita pergi shopping sepuasnya. Kita kan udah lama nggak shopping, yuk ah," ajak Tika. Sementara Disya masih berpikir sejenak. "Ayo dong, please ...." Melihat Disya masih terdiam, Tika pun bersuara lagi membujuk Disya agar mau pergi shopping bersamanya. Sebelum akhirnya Disya pun mengangguk mengiyakan ajakan Tika. Hingga Axel datang dan membawa pulang paksa Disya. FLASHBACK OFF "Hei, kok bengong sih? Aku pulang aja deh kalau gitu." Tika merajuk karena merasa tak di anggap kehadirannya oleh Disya yang masih terdiam dengan pandangan kosong. "Sudah Tika, tapi Axel tidak menyetujuinya." Raut wajah Disya berubah jadi sedih saat mengingat Axel menolak ajakannya untuk bercerai. "Ya udah kalau gitu kamu aja yang gugat cerai dia, bereskan?" "Tapi ... kalau aku menceraikan Axel sekarang semua harta Papa akan di sumbangkan ke panti asuhan," ucap Disya sedih. "Ya udah deh kamu nikmati aja nasibmu menikah dengan es balok kayak gitu. Eh tapi tunggu ... sebenernya si Axel itu ganteng juga loh," ucap Tika sembari membayangkan wajah tampan Axel. "Buat kamu aja kalau mau," timpal Disya. "Sayangnya sih Axel nggak mau. Lagian aku akan ikut beku jika berada di dekatnya," ucap Tika lagi. Dulu Tika mamang menyukai Axel. Bahkan tak jarang dia sering menginap demi mendapatkan hati a Axel. Tapi sayang usahanya sia-sia, Axel sama sekali tak meliriknya hingga akhirnya dia menyerah dan tak mengejar Axel uang terlalu sulit untuk dia gapai. Kini keduanya terduduk lesu, hanyut dengan pikiran mereka masing-masing. 🌷🌷🌷 Di lain tempat tampak Axel yang baru saja sampai di kantor setelah meeting dengan klien. Kini dia duduk sambil meregangkan ototnya dan menarik nafas berat. Seketika bayangan Disya muncul yang memakaikannya dasi masih menari-nari di kepalanya. Ini baru kali pertamanya dalam hidupnya Axel di pakaikan dasi. Dan kini wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya itu memakaikan dasi untuknya. Tanpa Axel sadari ada sepasang mata yang terus memperhatikannya yang tampak bengong dan melamun. Tak lain adalah Jack diam-diam memandang Axel yang telah berada di dalam ruangan Axel. Tapi lelaki itu tak menyadari akan kedatangan sahabatnya. "Axel ...." Jack bersuara agak meninggi tepat di telinga Axel. Hal itu membuat Axel terlonjak kaget dan segera menolehkan kepalanya ke arah Jack. "Kamu ngelamunin apaan sih. Sejak tadi aku perhatiin kamu bengong aja," tanya Jack merasa kesal karena Axel tak menyadari akan kehadirannya. "Tidak ada," jawab Axel cepat. Lelaki itu begitu enggan untuk menceritakannya pada Jack. Dan dia tahu pasti ujung-ujungnya Jack akan mengejeknya habis-habisan. Axel pun tak mau hal itu terjadi sehingga dia memilih diam tak bersua. "Pasti kamu kepikiran sama istrimu di rumah, iya kan?" tebak Jack yang seolah bisa membaca pikiran Axel. "Oh iya, bagaimana reaksinya saat kamu kasih gelang?" lanjut Jack penasaran. Axel pun masih terdiam membisu tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Jack. "Jangan bilang kamu belum memberikannya." Jack matanya menatap Axel. "Ya, kamu benar. Aku belum memberikannya." Axel mengangguk sebagai tanda jawabannya. "Kami bertengkar kemarin dan dia meminta bercerai dariku." Axel tertunduk lesu dengan raut wajah sedihnya. "Lalu apa yang kamu lakukan selanjutnya?" tanya Jack yang semakin penasaran. "Entahlah aku juga bingung." Axel mengangkat bahunya. "Kamu nggak boleh pisah dengan Disya. Ingat janji kamu pada almarhum Papa nya." Jack mengingatkan kembali Axel perihal janjinya. "Aku masih ingat kok. Dan aku masih bisa menjaganya walau aku bukan suaminya." "Lalu kamu mau ngapain? Mau jadi sosok pahlawan saat dia nanti nangis-nangis karena di tinggal lagi atau di sakiti lagi? Apa kamu mau di balik lagi dengan Revan, atau lelaki lain yang hanya menginginkan hartanya saja? Kamu tega? Kalau gitu sama aja kamu dengan Revan," ucap Jack emosi. "Terus aku harus gimana? Dia sendiri yang meminta berpisah. Aku sendiri tak bisa memaksanya, terlebih aku sudah mengatakan bahwa aku akan menceritakannya setelah 2 tahun, saat dia telah mewarisi semua seluruh kekayaan almarhum Papa nya," ucap Axel lirih. Jack menghela nafas beratnya. "Terserah kamu deh, aku sebagai sahabat sudah mengingatkan. Jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari, menangis setelah kehilangan dia." Segera mungkin Jack berlalu keluar dari ruangan Axel. Sementara Axel masih terduduk diam berusaha mencerna setiap kata yang di ucapkan oleh Jack. Axel menengadah memandang langit-langit. 'Benar apa yang di katakan Jack. Aku harus menjaga Disya, melindunginya hingga akhir hayatku. Walaupun dia manja, juga cengeng tapi tetap saja dia adalah istriku. Dia milikku, dan aku akan tetap mempertahankannya.' Axel Axel mengeluarkan gelang yang dia beli kemarin dari sakunya. Di pandanginya gelang itu dan menarik nafas lelah. Tadi pagi dia ingin memberikannya pada Disya, tapi lagi lagi dia tak memiliki keberanian. Kini Axel menyibukkan diri dengan beberapa berkas yang ada di meja kerjanya. Hingga tak terasa sudah larut malam, Axel baru pulang dari kantor. Pekerjaan yang begitu menumpuk dan menguras tenaga dan pikirannya membuatnya merasa sangat lelah. 🌷🌷🌷 Mobil Axel telah tiba di halaman rumah, dia turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam. Tampak suasana rumah begitu sepi, di tambah ini sudah jam sepuluh malam mungkin semuanya sudah tidur. "Dimana Disya Bi?" tanya Axel pada Bi Ina yang membukakan pintu rumah untuknya. "Non Disya ada di kamarnya Tuan. Apa Tuan mau makan malam, biar Bibi siapkan." Bukannya menjawab justru Axel kembali melontarkan sebuah pertanyaan pada Bi Ina. "Apa Disya sudah makan Bi?" "Non Disya belum makan Tuan. Sejak tadi sore setelah Non Tika pulang, Non Disya terus mengurung diri di dalam kamar," jawab Bi Ina merasa takut. Pasalnya dia tahu bahwa Axel kurang menyukai sahabat dari Nona mudanya itu. "Siapkan makan malam, saya akan makan bersama Disya," jawab Axel berlalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Disya. Berulang kali dia mengetuk pintu kamar Disya namun tak ada jawaban sama sekali dari sang empu. Perlahan Axel membuka pintu kamar itu, manik matanya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Sosok yang dia cari tak ada di dalam sana, segera mungkin Axel berjalan masuk ke dalam tapi tetap saja Disya tak ada. Langkah kakinya berjalan menuju ke arah balkon, dan benar saja tampak Disya yang tengah duduk melamun disana. "Apa yang kau lakukan disini? Cepat masuk, udara disini sangat dingin." . . . 🌷Bersambung🌷
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN