"Tapi, bahkan kami tak pernah saling menyapa. Lalu bagaimana aku ...." Axel tak mampu lagi meneruskan ucapannya.
"Nak, wanita itu makhluk yang sangat lemah dan perasa. Berikan dia perhatian, dan sandaran, Bunda yakin kamu pasti bisa."
"Kamu suaminya, jadilah teman, sahabat, dan juga pelindungnya. Dia sangat sangat membutuhkanmu. Buatlah dia merasa aman dan nyaman bersamamu. Sekarang pulanglah dan segera peluk erat dia, baut dia merasa tenang, dan selalu tersenyum di sampingmu.
"Ingat pesan Bunda, jangan pernah berpikir untuk bercerai. Allah sangat membenci perceraian." Bu Fatimah kembali mengingatkan Axel dan di angguki kepala oleh Axel sebagai jawabannya.
Axel berjalan keluar setelah menjabat tangan Bu Fatimah. Dia pun segera melajukan mobilnya kembali ke rumah.
Ya, benar apa yang di katakan oleh Fatimah bahwa saat ini Disya sedang rapuh dan butuh dukungan.
Sungguh Axel menyesali perbuatannya karena bertindak kasar pada Disya tadi. Seketika ingatannya kembali pada Disya yang terus menolak dan meronta tapi dia tetap tak menghiraukannya. Tiba-tiba rasa bersalah dan menjalar ke dalam hatinya.
Kini mobil Axel tiba di depan rumah, dia segera turun dan berjalan masuk ke dalam. Dengan langkah lebar Axel berjalan menuju lantai atas dimana kar Disya berada. Di bukanya pintu kamar, manik matanya menyapu pandang ke seluruh ruangan tersebut. Tapi sosok yang dia cari tak ada di dalam sana. Kemudian di tutupnya kembali pintu itu, seketika pikiran buruk menyerangnya.
Kini dia berjalan menuju kamar Bagas, biasanya Disya berada disana jika tidak ada di kamarnya.
Perlahan dia membuka pintu kamar, terlihat jelas sebuah pemandangan yang begitu menyayat hatinya, membuat dia semakin merasa bersalah.
Tampak Disya yang tengah tertidur sembari bersandar di di headboard ranjang tepatnya berada di tepi. Tangannya memeluk erat foto Bagas.
Axel pun berjalan masuk ke dalam. Di sibakkan nya anak rambut yang menutupi wajah Disya.
Dapat Axel lihat dengan jelas bagaimana raut wajah Disya saat ini yang begitu sembab, pasti dia habis menangis. Tangan besarnya terulur mengambil foto Bagas secara perlahan dan meletakkan kembali di atas nakas.
Dengan hati-hati Axel mengangkat tubuh Disya membawanya kembali ke kamarnya. Dia membaringkan tubuh Disya di atas ranjang dan menyelimutinya. Cukup lama Axel duduk di tepi ranjang sembari menatap lekat wajah Disya.
"Maafkan aku," lirih Axel kemudian berlalu keluar dari kamar Disya.
Axel berjalan memasuki kamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Kini dia tengah duduk di atas ranjang, sembari membaca buku.
Tiba-tiba dia teringat akan sebuah gelang yang dia beli untuk Disya dan lelaki itu mengambilnya.
"Bagaimana caranya untuk memberikan hadiah ini? Bagaimana kalau dia tidak menyukainya dan menolaknya?"Terlihat jelas raut wajah Axel yang begitu bingung dan menimbang-nimbang gelang yang ada di tangannya.
Malam pun semakin larut, Axel segera meletakkan gelangnya di atas nakas. Kemudian di lebih memilih tidur. Besok pagi dia akan memikirkan, bagaimana caranya agar gelang itu sampai di Disya.
🌷🌷🌷
Pagi pun tiba, tampak Axel yang barusaja keluar dari kamarnya. Dia berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan untuk segera sarapan. Hari ini Axel ada rapat penting dengan klien dari luar negeri. Dengan terburu-buru Axel mengambil sarapan, sementara dasinya pun masih di letakkan di leher belum terpasang.
Sedangkan Disya yang duduk di ruang makan tersebut, sekilas melirik Axel kemudian kembali menunduk. Suasana begitu hening tak ada satupun yang berbicara, a***y terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. Mereka sarapan dalam diam.
Detik selanjutnya Disya kembali melirik Axel yang berusaha memasang dasinya tapi entah karena terburu-buru atau apa, dia sulit sekali memasangnya.
Disya masih tetap melirik Axel, memperhatikan lelaki itu yang begitu kesulitan. Perlahan Disya beranjak dari tempatnya, berjalan mendekati Axel. Lelaki itu pun masih sibuk dengan dasinya hingga tak menyadari Disya yang sudah berada di hadapannya.
Tanpa bicara Disya segera mengambil dasi yang di pegang Axel. Perlahan dia memasangkannya di leher Axel. Seketika Axel terdiam membisu melihat Disya memakaikan dasinya, sungguh benar-benar di luar dugaannya.
Tak butuh waktu lama bagi Disya memasangkan dasi tersebut karena dia sudah terbiasa memasangkan dasi Papa nya setiap hari. Jadi tak sulit baginya memasangkan dasi untuk Axel. Setelah selesai dia pun berbalik, Disya berjalan meninggalkan Axel yang masih bergeming.
"Terimakasih," ucap Axel beberapa saat setelah sadar dari lamunannya. Namun Disya tetap berjalan tanpa menjawab ucapan Axel.
Sudut bibir Axel tertarik ke atas membentuk sebuah lengkungan yang indah. Hatinya merasa berbunga-bunga dengan perhatian kecil Disya padanya.
Setelah selesai sarapan, Axel segera beranjak dan pergi ke kantor. Sedangkan Disya kini tengah duduk di ruang tamu menonton tv. Jauh di dalam lubuk hatinya, sebenarnya dia ingin sekali mengucapkan terimakasih karena Axel yang membawanya ke kamar tadi malam. Tapi entah kenapa bibirnya begitu keluh dan sulit untuk mengatakannya.
Surabaya tercekat di tenggorokan, dan saat melihat Axel kesulitan Disya merasa iba dan membantunya.
Sekilas Ingan Disya kembali pada beberapa puluh menit yang lalu saat dia memakaikan dasi Axel. Peristiwa kecil itu bagaikan slide foto yang terus muncul dan masih terbayang jelas di matanya. Entah kenapa bayangan Axel tak mau hilang, padahal itu hanya hak kecil dan Disya sudah terbiasa memakaikan Papa nya dasi. Tapi untuk kali ini rasanya begitu beda tak seperti biasanya.
Disya yang meras boring, akhirnya dia mengambil ponsel yang tak jauh dari tempatnya. Dan segera menghubungi
Tika sahabatnya.
"Ya, Disya ...," ucap Tika begitu telponnya di angkat.
"Kamu sibuk nggak, ke rumah aku ya ... aku tunggu sekarang," ucap Disya.
"Eh, mmm ... Axel ada di rumah nggak? Soalnya aku takut kalau ada dia." Tika mengungkapkan unek-uneknya perihal rasa takut pada Axel, lelaki yang telah menjadi suami Disya.
"Nggak, dia udah berangkat kok," jawab Disya.
"Baiklah aku akan kesana." Akhirnya Tika mengiyakan keinginan sahabatnya itu.
Tak berselang lama Tika tiba di rumah Disya. Dengan segera dia masuk ke dalam.
"Disya ... kamu beneran nggak apa-apa? Aku khawatir banget sama kamu. Maaf waktu itu aku tak bisa membantumu karna aku sendiri merasa takut ada Axel."
"Jujur aku takut banget kamu di apa-apain sama si Axel. Kamu nggak di siksa sama dia kan, dia nggak aniaya kamu kan, terus di ikat dan ...." Tika bergidik ngeri membayangkannya membuat dia tak bisa melanjutkan kembali ucapannya.
"Ih apaan sih kamu tidak, kebanyakan halu sih jadi begini bukan. Aku nggak apa-apa kok. Kamu bisa lihat sendiri kalau Axel nggak ngapa-ngapain aku kok. Hanya saja dia mengurung aku di rumah. Dia sama sekali tak mengijinkan aku keluar rumah," terang Disya.
"Ya udah kalau nggak apa. Oh iya, lalu bagaimana rencana perceraian kamu. Apa sudah di bicarakan?"
.
.
.
🌷Bersambung🌷