Amarah Axel

1081 Kata
"Buka! Cepat buka!" teriak Disya ada Axel. "Buka ...." Teriaknya lagi dengan penuh amarah. Sedangkan Axel masih tetap diam dengan sorot mata elang menatap Disya. Seolah dia ingin sekali menerkam mangsanya detik itu juga. Di sisi lain sebenarnya Disya emas takut tapi dia segera menepisnya dengan terus berontak dan melawan. "Ingat satu hal, kau itu hanya sekedar pelayan. Dan selamanya akan tetapi jadi pelayan! Tak akan ada yang berubah apapun dari statusmu itu meski kita sudah menikah, camkan itu!" ucap Disya dengan ketus "Cepat buka!" Titahnya lagi. Detik itu juga wajah Axel berubah menjadi merah padam ketika mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Disya. Segera mungkin Axel turun dari mobil, lalu membuka pintu Disya dan menariknya turun dengan keras. Axel mencengkeram kuat lengan Disya hingga dia meringis kesakitan. Tak berhenti di situ, lelaki itu pun menarik paksa Disya membuat langkahnya terseok-seok karena Axel berjalan dengan cepat. Sementara Disya terus meronta berusaha lepas dari cengkeraman kuat tangan besar Axel. Begitu sampai di dalam rumah, Axel pun melepaskan genggamannya dan melemparkan Alya ke atas sofa. Dengan d**a yang bergemuruh Axel memandang wajah Disya dengan sorot mata yang berapi-api. Terpancar sebuah kilatan amarah yang ada di dalam sana. Hal itu membuat Disya merasa takut dan bergerak mundur di sofa. "Kau bilang apa? Pelayan? Ya, aku memang pelayan. Dan asal aku tahu, pelayan ini adalah suamimu. Mau tidak mau kau harus mengakui fakta itu," teriak Axel meluapkan segala amarah yang membuncah di dalam hatinya. Lelaki itu masih memandang Disya dengan tatapan penuh amarah. Dadanya naik turun membuktikan bahwa lelaki itu tengah murka atas segala sikap dan ucapan Disya padanya. Jujur Axel begitu kecewa dengan sikap Disya yang seperti itu. Axel tahu betul Disya terpaksa menikah dengannya, tapi tak perlu juga dia mengatakan hal yang sangat menyakiti hati dan perasaannya. Tanpa Disya mengatakannya, Axel cukup sadar diri dengan posisinya yang hanya sekedar pelayan dan menjadi pengganti Revan demi membalas budi atas kebaikan Bagas selama ini padanya. Disya hanya menunduk ketakutan melihat reaksi Axel yang begitu murka. "Kenapa diam? Mana kesombonganmu tadi, hah?" tanya Axel dengan nada suara yang sudah mulai meninggi. Tak ada jawaban ataupun balasan dari Disya. Gadis itu masih terdiam membisu, lidahnya begitu keluh tak bisa mengatakan hal apapun. "Mulai detik ini kemanapun kau pergi harus dengan seijin ku. Ingat itu baik-baik!" tegas Axel memperingati Disya. Seketika Disya mendongakkan wajahnya menatap Axel. "Kenapa kita tidak bercerai saja? Kau tenang saja aku akan memberikan sebagian harta Papa padamu, jika kau mau bercerai denganku." Dengan penuh keberanian Disya mengungkapkan segala unek-uneknya yang tekan lama bersarang di benaknya. Ya, untuk saat ini Disya hanya ingin bercerai dengan Axel. Dia sama sekali tak mencintai lelaki pilihan Papa nya, dia merasa tersiksa dengan keadaan hidupnya saat ini. Axel masih tetap memandang wajah Disya. "Aku akan menceraikan mu setelah kau berusia 25 tahun. Dan masalah perusahan Papamu ... kau tenang saja, aku tak akan mengambilnya walau sepeserpun. Jika kita bercerai sekarang maka seluruh harta kekayaanmu akan di berikan kepada panti asuhan. Jika kau mau, silahkan ajukan perceraian sekarang juga," ucap Axel berlalu begitu saja meninggalkan Disya seorang diri yang masih terdiam membeku. Detik itu juga air mata lolos begitu saja tanpa permisi membasahi pipi mulusnya. Manik matanya terus menatap punggung Axel yang kian menjauh hingga tak terlihat lagi. 'Bagaimana bisa aku melewati 2 tahun ini bersama lelaki yang begitu dingin dan kejam sepertinya.' Disya 🌷🌷🌷 Disinilah Axel berada, di sebuah ruangan yang begitu luas. Dia menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang berada di kamarnya. Amarahnya belum cukup reda, terlihat jelas dari sorot matanya yang masih begitu tajam dengan rahang mengeras. Jika dia mengingat Disya sontak emosinya kembali tersulut. Disya benar-benar membuatnya kesal, Axel pun membuang benda yang ada di hadapannya. Axel segera beranjak dari tempatnya, mengambil kunci mobil dan berjalan keluar dari kamar. Lelaki itu memasuki mobil, lalu melajukan nya dengan sangat kencang hingga tak terasa sudah tiba di panti asuhan. Dia berusaha mencari ketenangan disana. 🌷🌷🌷 Sementara Disya berjalan memasuki kamar Papa nya dengan langkah gontai. Air mata mengalir deras membasahi wajahnya. Disya mengadukan seluruh masalah dan kekesalannya pada Papa nya. "Pa, kenapa Papa tega meninggalkanku sendiri?" "Disya tak punya siapa-siapa lagi kecuali Papa. Disya mau ikut Papa saja." Ucapnya di sela Isak tangisnya sembari memeluk bingkai foto Bagas. 🌷🌷🌷 Di lain tempat, Axel turun dan berjalan masuk ke dalam. Kedua netranya menatap sekeliling ruangan itu, di lihatnya panti asuhan itu masih tetap sama seperti dulu. Tak ada sedikitpun perubahan, teduh dan penuh kehangatan. Tampak anak-anak sedang bermain di taman, kemudian Axel melangkahkan kakinya masuk menuju ruangan Bu Aini pengurus panti. "Axel," sapa Bu aini menyambut kedatangan Axel. "Bunda ada Bu?" tanya Axel. "Bunda ada di ruangannya. Dia kurang sehat," ucap Bu Aini. Dengan langkah lebar Axel berjalan ke ruangan Bu Fatimah setelah mengucapkan terimakasih pada Bu Aini. "Gimana Akbar Bunda?" tanya Axel begitu membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan. Kini lelaki itu tengah duduk di atas sofa yang panjang. "Axel ...." Bola mata wanita paruh baya itu membulat sempurna ketika melihat kedatangan Axel. Baru kemarin Axel datang mengunjunginya, lalu sekarang sudah kembali pasti ada sesuatu. Ya, begitulah yang di pikirkan oleh Bu Fatimah saat ini perihal kedatangan Axel. "Bunda sehat nak, gimana kabar kamu?" tanya Bu Fatimah sembari menatap lekat wajah Axel. Terlihat jelas wajahnya yang begitu sendu, dan matanya pun memancarkan kesedihan yang tak bisa di bohongi membuat wanita paruh baya itu semakin yakin bahwa Axel sedang ada masalah. "Axel cuma kangen Bunda. Apa Axel tak boleh dtang kesini, kok Bunda kaget seperti itu," bohong Axel. Dia terpaksa berkata seperti itu karena tak ingin membebani Bu Fatimah yang telah dia anggap sebagai Ibu kandungnya. "Nak, Bunda tahu siapa kamu ... jadi tak perlu lagi menutupinya dari Bunda. Kamu tak bisa berbohong. Pasti kamu sedang ada masalah bukan? Katakan ada apa Nak?" tanya Bunda Fatimah hati-hati takut menyinggung Axel karena dia tahu betul Axel sangat sensitif. "Axel hanya bingung saja Bunda," ucap Axel menunduk. "Katakan apa yang membuatmu bingung, Nak?" Axel pun akhirnya menceritakan semuanya pada Bunda Fatimah perihal pertengkarannya dengan Disya dan keinginan Disya untuk bercerai dengannya. Mendengar itu, Bunda Fatimah tersenyum sembari mengusap lembut kepala Axel. "Itu hal biasa dalam rumah tangga. Kamu harus berusaha lebih keras lagi untuk memahaminya. Kamu tahu sendiri kan kalau Disya barusaja kehilangan orang-orang yang dia percayai. Tunangannya meninggalkannya di hari pernikahannya, dan kini Papa nya meninggal dunia. Kau harus lebih bisa memahaminya, harus lebih bersabar, dia sangat membutuhkan dukunganmu," ucap Bu Fatimah menasihati Axel. "Tapi, bahkan kami tak pernah saling menyapa. Lalu bagaimana aku ...." . . . 🌷Bersambung🌷
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN