Masih POV Axel
Sejak kecil aku sudah mengenalnya. Dia periang, manja, dan sangat menyayangi Papa nya. Aku tahu Ibu nya telah meninggal, sejak itulah Tuan Bagas memanjakannya.
Mau tidak mau akhirnya aku menerimanya. Dengan suara lantang dan satu tarikan nafas, aku menyebut namanya dalam ikatan suci pernikahan.
"Aku terima nikah dan kawinnya Disya Enriawan dengan mas kawin tersebut, tunai."
Aku sendiri pun tak menyangka bahwa aku mampu mengucapkannya dengan lantang.
Hingga akhirnya kini kami menjadi suami istri. Tapi kami seperti orang asing, dimana Disya dengan keangkuhannya, dan aku dengan keegoisanku. Aku begitu kecewa saat Disya mengatakan bahwa aku hanya lah seorang pengganti. Mendengar itu hatiku merasa tercubit di buatnya. Setiap kata yang keluar dari bibir Disya begitu pedas dan menyayat hatiku. Aku pun juga tak menginginkan pernikahan ini, tanpa dia katakan aku juga tahu bagaimana posisiku.
Sungguh hatiku begitu sakit mendengar ucapannya, padahal disini aku lah yang menjadi korban atas kepergian Revan. Seharusnya aku lah yang marah kepadanya, tetapi semua terbalik justru Disya lah yang sangat murka.
Takdir berkata lain, tak lama setelah pernikahan kami Tuan Bagas meninggal karena sakit jantungnya yang kronis. Dia memintaku agar berjanji satu hal padanya, dimana aku harus menjaga Disya apapun yang terjadi. Dan surat wasiat itu menjebak ku dalam pernikahan ini. Aku merasa bingung harus bagaimana melewati 2 tahun pernikahan ini bersama orang yang hatinya masih milik orang lain.
Sesuai janjiku pada Tuan Bagas, aku segera mencari keberadaan Revan. Hingga akhirnya aku berhasil menemukannya dan menghajarnya sebagai hadiah atas perbuatan yang dia lakukan pada keluarga Enriawan. Aku mendatanginya, meluapkan segala kekesalan dan amarahku yang telah membuncah. Tak hentinya aku menghajarnya hingga dia hingga dia menyerah dan tak berdaya. Bagaimanapun juga ini terjadi karena ulahnya.
Kini yang mengganjal di pikiranku, bagaimana aku akan melewati hari-hariku bersama dengan Disya. Apakah dia bisa menerima pernikahan ini dan mengakui ku sebagai suaminya, atau lebih baik aku lepaskan saja dia. Aku tetap menjaganya meskipun tak harus mendampinginya.
POV End
"Nih, di minum dulu. Biar wajahmu nggak pahit seperti kopi ini." Jack memberikan sebuah cup cofe menyadarkan Axel yang masih terdiam di tempatnya.
"Thanks," ucap Axel sembari menerima kopi yang di berikan Jack untuknya.
Axel menarik nafas dalam, mengeluarkan secara perlahan. Lelaki itu kembali terdiam, seolah begitu banyak beban ribuan ton yang ada di dalam kepalanya.
'Sedari kecil aku sudah tidak memiliki keluarga. Aku tidak tahu bagaimana kasih sayang orangtua, hidupku sangat keras. Apa aku bisa membuat Disya bahagia.' Axel
"Axel," panggil Jack lagi sembari mengguncang bahu sahabatnya itu.
Secepat kilat Axel menolehkan wajahnya menatap ke arah Jack. Tampak tatapan mata dan raut wajahnya seolah mewakili perasaannya.
"Jalan-jalan yok, apa kamu nggak pengen beli oleh-oleh untu Disya? Kamu kan suaminya, setidaknya belikan lah dia oleh-oleh," ucap Jack menasihati Axel.
"Aku nggak tahu mau beli apa, dan aku juga tidak tahu apa kesukaannya. Udahlah lupakan saja, toh dia bisa membelinya sendiri," tolak Axel dengan raut wajah sendunya.
"Aissh, aku itu bagaimanakah ... jelas rasanya begitu beda jika kau yang membelikannya. Itulah yang di namakan perhatian, yuk ah kita keluar." Sekeras mungkin Jack membujuk Axel. Kini Jack sudah berdiri membuat Axel terpaksa mengikuti kemauannya.
"Oh iya, apa yang akan kau belikan untuk Disya?" tanya Jack.
"Sudah ku bilang aku tidak tahu, dan bukannya kau sendiri yang menyuruhku. Lalu kenapa kau masih tanya padaku?" tanya Axel balik.
"Baiklah, akan aku bantu kau mencarikan oleh-oleh untuknya. Mmm ... bagaimana kalau kita belikan baju, tas, atau perhiasan?" tawar Jack sambil terus berjalan sembari melihat-lihat souvenir yang cocok. Mereka kini berkeliling mall.
"Dia sudah memiliki semuanya." Axel terus berjalan sembari melihat-lihat souvenir.
Tiba-tiba manik matanya berhenti dan tertuju pada sebuah gelang putih sederhana namun terkesan cantik dan elegan.
"Aku ambil ini," ucap Axel ada pelayan, kemudian menyerahkan kartu kreditnya. Dengan segera pelayan membungkusnya dan mengembalikan kartu kredit Axel setelah dia memproses pembayarannya.
🌷🌷🌷
Axel dan Jack sudah kembali ke Jakarta. Dan Jack sudah mulai malaksanakan rencana mereka untuk mengakuisi perusahaan Revan secara perlahan karena Axel ingin perusahaan Revan jatuh miskin. Terlilit hutang, dan bangkrut hingga mereka lebih baik mati daripada hidup penuh dengan penderitaan dan malu.
Kini Axel telah sampai di rumahnya, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Rumah tampak begitu sepi seolah tak ada penghuninya. Dia tahu betul pasti Disya ada di kamarnya, tapi entah kenapa hati kecilnya mengatakan lain. Tiba-tiba Bi Ina lewat dan Axel memanggilnya.
"Bi Ina, dimana Disya?" tanya Axel.
"Non Disya lagi keluar dengan temannya, Non Tika," jawab Bi Ina.
"Kemana dia pergi?" tanya Axel sembari berkerut alis.
"Maaf saya tidak tahu Tuan, Non Disya nggak ada bilang sama Bibi," ucap Bi Ina.
"Terimakasih Bu," jawab Axel.
Dengan langkah lebar Axel berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Disya. Axel segera masuk karena pintu kamar tidak terkunci.
Kini Axel tengah duduk di atas ranjang dengan tatapan lurus ke arah pintu balkon.
"Aku memiliki istri tapi seperti tidak memilikinya," gumam Axel frustasi. Seketika dia teringat akan ucapan Jack untuk mempertahankan rumah tangganya.
'Aku sudah menikah dengannya, aku adalah suaminya. Jadi bagaimanapun juga aku berhak atas dirinya. Ya benar Jack, aku harus mempertahankan rumah tanggaku dengan caraku.' Axel
Lelaki itu masih terdiam dengan segala pikiran yang memenuhi isi kepalanya.
'Suami? Istri yang pergi tanpa ijin suami. Apa pernah dia menganggap mu sebagai suami?' Axel
Dengan segera mungkin Axel mengambil ponselnya dan menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Disya. Tak butuh waktu lama m, anak buah Axel pun segera menghubunginya kembali memberitahukan posisi Disya berada saat ini. Dimana Disya dan Tika sedang shopping di mall. Secepat kilat Axel meraih kunci yang dia letakkan di atas nakas, berjalan keluar meninggalkan kamar Disya.
Kini Axel telah berada di dalam mobil. Lelaki itu melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Di ingin segera menyusul Disya dan membawanya pulang ke rumah. Entah kenapa hatinya berkata lain, dan merasa tak suka bila Disya dekat dengan Tika.
🌷🌷🌷
Di tempat lain, tampak Disya yang sedang asyik memilih baju di mall. Dia sedang mencoba beberapa gaun yang ingin di belinya. Sebelumnya Disya telah membeli beberapa sepatu, dan juga tas. Sungguh Disya begitu menikmati waktunya untuk menghilangkan sedikit penat di kepalanya. Dan itu semua gara-gara ulah Axel lah yang membuat Disya tak betah di rumah.
Di sisi lain Axel barusaja tiba di sebuah mall dimana Disya shopping. Seketika sorot matanya menangkap sosok yang dia cari. Dengan cepat Axel berjalan menghampiri Disya. Sekuat tenaga lelaki itu menariknya dan membawa Disya pulang. Hal itu membuat Disya marah dan terus meronta. Namun Axel sama sekali tak mempedulikannya, justru dia terus saja menyeret Disya segera masuk ke dalam mobilnya. Sedangkan Disya tak hentinya dia memaki bahkan menggigit tangan besar Axel. Tapi sedikitpun Axel tak menghiraukannya. Sementara Tika hanya diam saja tanpa berniat menolong Disya. Tika tahu betul siapa Axel.
🌷🌷🌷
"Buka! Cepat buka!"
.
.
.
🌷Bersambung🌷