Menemui Revan

1019 Kata
Setelah menempuh perjalanan jalur udara sekitar 3 jam 28 menit, kini Axel dan Jack telah tiba di Bandara Suvarnabhumi. Mereka menaiki mobil menuju kediaman Revan. Selama di Bangkok, Revan tinggal di sebuah apartemen mewah bersama dengan Jesica calon istrinya. 🌷🌷🌷 Tak lama mobil yang di tumpangi Axel dan Jack telah tiba di sebuah sebuah apartemen mewah. Dengan langkah lebar Axel pun turun dan berjalan memasuki gedung itu menuju lift yang akan mengantarnya ke sebuah kamar tempat dimana Revan berada, di ikuti Jack yang mengekor di belakang Axel. Cukup lama Axel berdiri sembari mengetuk pintu apartemen, hingga akhirnya sang empu membukakan pintu. Mata Revan membulat sempurna ketika melihat kedatangan Axel di apartemennya. Tanpa menunggu di persilahkan, Axel pun segera masuk dengan pandangan yang menelisik ruangan itu. "Heh' jadi disinilah kau bersembunyi. Dasar pengecut!" ucap Axel dengan suara dinginnya. Matanya memerah memancarkan sebuah kilatan amarah yang akan meledak detik itu juga. Axel mendudukkan tubuhnya di atas sofa dengan pongahnya. Sedangkan Revan merasa tersinggung dengan ucapan Axel barusan. "Untuk apa kau datang kesini hah?" tanya Revan dengan tatapan tak suka dengan kehadiran Axel. Dengan kedua tangan yang mengepal Revan berjalan mendekati Axel siap melayangkan sebuah bogeman mentah. Tapi Axel yang terlebih dulu mengetahui gerakannya segera mengelak. BUGH! Sebuah bogeman mentah mendarat di wajah Revan hingga keluarlah cairan kental berwarna merah di sudut bibirnya. Nita hati ingin memberi tinjuan pada Axel, justru dia lah yang mendapatkan serangan balik dari Axel. Namun hal itu tak membuat Revan gentar, dia yang terjatuh pun segera bangkit dan ingin membalas Axel. Lagi lagi gerakannya bisa di baca oleh Axel dan dengan mudahnya bisa di patahkan oleh Axel. Terjadilah sebuah pertarungan yang di menangkan oleh Axel. Sedangkan Jack hanya bisa menonton tanpa berniat untuk memisahkannya. Tampak Revan yang terduduk lemas di atas lantai dengan wajah yang sudah lebam. Revan pun akhirnya mengaku kalah dan Tak ingin membalas pukulan Axel. "Apa yang sebenarnya kau inginkan hah?" tanya Revan sembari meringis menahan sakit di sudut bibirnya. "Aku ingin kau pergi dari kehidupan Disya. Dan janga coba-coba kau menampakkan wajah busuk mu itu. Jika saja kau berani maka aku tidak segan-segan akan menghancurkan keluargamu. "Apa dia yang menyuruhmu datang kesini?" tanya Revan sambil memicingkan matanya. "Aku yakin dia masih mencintaiku. Dia pasti akan memaafkanku jika aku datang dan meminta maaf padanya," ucap Revan sinis dengan penuh percaya diri. Sementara Axel menggeram mendengar ucapan Revan barusan. Entah kenapa hatinya bergemuruh hebat, seolah tak terima jika lelaki itu kembali pada Disya. "Ingat Revan jika sekali saja kau berani menemuinya, maka tepat di hari itu juga kau terakhir kalinya melihat matahari. Detik itu aku akan menghancurkanmu dengan cara dan tanganku sendiri. Camkan itu baik!" kecam Axel dengan tegas. Terlihat jelas bola matanya berapi-api seakan ingin membakar hidup-hidup tubuh lelaki yang ada di hadapannya itu. BUGH! Sebuah bogeman mentah mendarat kembali di wajah lebam Revan. Setelah puas Axel pun berlalu meninggalkan Revan yang terkapar di atas lantai. Tak berselang lama datanglah Jesica yang barusaja keluar dari kamarnyaSeketika pupilnya melebar melihat wajah Revan yang penuh lebam, terlebih banyak cairan kental berwarna merah yang keluar dari sudut bibir lelaki itu. Dengan cekatan Jesica membantu Revan mengobati lukanya. Sebenarnya dia tadi melihat Axel memukul Revan tapi dia tak ada nyali untuk keluar. Setelah Axel pergi baru Jesica keluar dan membawa Revan pergi ke rumah sakit. 🌷🌷🌷 "Jack, awasi perusahaan Revan. Jatuhkan sahamnya dan segera ambil alih perusahaannya. Lakukan. dengan cara halu agar mereka tak menyadari kalau kita lah yang melakukannya.," titah Axel tegas pada Jack. Jack pun mengangguk mengiyakan perintah Axel. Dengan segera dia menghubungi anak buahnya untuk melaksanakan perintah Axel. Saat ini Axel dan Jack berada di lobby hotel. Mereka akan menginap malam ini karena Axel juga akan mengunjungi anak cabang perusahaannya. "Axel," panggil Jack. Sementara seseorang yang di panggilnya masih terdiam dengan mata yang terpejam. "Axel ... jujurlah, cepat katakan bagaimana hubunganmu dengan Disya istrimu itu?" tanya Jack penasaran dengan hati-hati. Sontak membuat Axel membuka matanya ketika mendengar pertanyaan yang keluar dari bibir lelaki itu. "Kenapa kau menanyakannya?" tanya Axel terheran. "Aish, kau ini lupa kah bagaimana? Apa kau tidak dengar apa yang di katakan Revan tadi? Bahwa dia akan mengambil Disya darimu. Apa kau yakin akan membiarkannya mengambil istrimu?" tanya Jack sembari menekan kata istri di akhir kalimat. "Maksudmu?" Axel berkerut alis masih tak paham dengan apa yang di katakan Jack. "Kau sudah menikah dengan Disya bukan? Dia sudah menjadi istrimu. Apa aku akan melepaskannya untuk orang sebrengsek seperti Revan?" tanya Jack lagi. "Entahlah ... Aku dan Disya menikah karena terpaksa, tidak ada cinta di antara kami. Aku sendiri pun bingung mau di bawa kemana rumah tangga ini. Mungkin setelah 2 tahun pernikahan ini kami akan bercerai," ucap Axel pelan. Terdengar jelas nada sedih di akhir kalimatnya. Axel pun menunduk menatap lekat lantai. "Hei, apa kau masih ingat janjimu kepada Tuan Bagas? Bukannya kau sendiri yang telah berjanji untuk menjaganya?" Jack sekeras mungkin menyadarkan kembali ingatan Axel dimana dia dengan sadar berjanji pada Bagas untuk menjaga Disya. "Apa benar kau rela dia kembali pada lelaki b******k itu? Kenapa kau tidak coba untuk memenangkan hatinya. Buatlah dia mencintaimu." Jack menyemangati Axel agar bisa memperjuangkan Disya dan mempertahankan rumah tangga sahabatnya itu. Sementara Axel hanya terdiam menunduk sambil mendengarkan ucapan Jack dengan seksama. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir lelaki itu. Tampak Axel yang terdiam merenungkan segala ucapan sahabatnya itu. Seketika ingatannya kembali menerawang pada saat Bagas memintanya untuk menikahi Disya sebagai pengganti Revan yang kabur. Sungguh berat bagi Axel untuk menerimanya, tetapi, rasa kasihan dan juga hutang Budi pada Bagas pun mengusik hatinya. Membuatnya terpaksa menerima permintaan Bagas selaku Tuan nya itu. POV Axel Sangat tidak mungkin bagiku menolak permintaan Tuanku, tetapi di sisi lain hatiku merasa berat untuk menerimanya. Pernikahan bukankah hal main-main. Pernikahan adalah hal yang sangat sakral dan aku ingin menikah sekali dalam seumur hidup. Tentunya dengan orang yang aku cintai dan juga mencintaiku. Aku memang tak memiliki kekasih tapi jujur, sungguh aku tak menyangka jika Disya lah yang menjadi istriku. Aku tahu siapa Disya, dia sosok gadis yang begitu manja setiap hari bertemu denganku karena aku tinggal di rumahnya. Ya aku tinggal di kediaman Tuan Bagas. . . . 🌷Bersambung🌷
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN