Wasiat Tuan Bagas

1023 Kata
"Apa yang akan aku lakukan? Apa aku akan melepaskannya tapi aku sudah berjanji untuk menjaganya seumur hidupku." Axel begitu frustasi memikirkan Disya. Sebuah fakta yang begitu menyayat hati Axel ketika dia teringat jika Disya mencintai lelaki lain. Membuat Axel pusing memikirkannya. Kini Axel memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan, beberapa berkas telah siap menanti nya di atas meja untuk di kroscek kembali atas persetujuan darinya. Hal itu tidak sulit baginya untuk mengurus itu semua karena selama ini Axel lah yang mengerjakannya. Sedangkan Bagas hanya menandatanganinya saja. Selama pernikahannya hingga pemakaman Bagas, pekerjaan pun jadi terbengkalai dan menumpuk. Dan Axel akan menyelesaikannya hari ini juga. Tiba-tiba terdengar bunyi dering telpon kantor, lalu Axel mengangkatnya. "Iya hallo," jawab Axel sembari menandatangani berkas yang ada di meja kerjanya. "Baik, saya segera pulang," ucap Axel sembari meletakkan kembali telepon itu dan secepat kilat dia beranjak mengambil tas dan kunci mobil. Lalu berjalan keluar untuk pulang. "Faris, kosongkan jadwal saya siang hingga malam nanti. Saya ada urusan dan tidak Kemabli ke kantor," ucap Axel ada sekretaris Bagas. "Baik Pak," jawab Faris mengangguk dan Axel kembali melangkahkan kakinya meninggalkan kantor untuk segera pulang. Hari ini dia pulang karena tadi ada telepon dari pengacara dan mengatakan akan membacakan surat wasiat yang telah di buat oleh Bagas sebelum meninggal. 🌷🌷🌷 Tak butuh waktu lama bagi Axel tiba di kediaman Bagas. Kini mobilnya telah terparkir dengan sempurna di halaman rumah mewah tersebut. Segera mungkin Axel pun turun dan berjalan memasuki rumah itu. Di dalam sana ternyata sudah ada Rico pengacara keluarga Bagas. Selain itu juga ada Disya yang tengah duduk manis di atas sofa, tak jauh dari Rico. Axel punya menjabat tangan Rico dan ikut duduk di atas sofa. "Baikkah karena semuanya sudah berkumpul disini, maka saya akan membacakan surat wasiat yang sudah di tandatangani oleh Tuan Bagas," ucap Rico membuka suara sembari mengeluarkan beberapa berkas dalm tasnya. "Saya Bagas Enriawan dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan, telah membuat surat ini mengatakan bahwa saya akan mewariskan semua harta saya kepada putri saya satu-satunya Disya Enriawan, itu berlaku jika dia sudah genap berumur 25 tahun atau sudah memiliki anak. Dan selama belum mencapai usia tersebut maka untuk sementara waktu saya percayakan urusan perusahaan saya kepada Axel Hafrizal Wibowo, menantu saya untuk mengelolanya." "Ya, itulah pesan yang telah di buat dan di tandatangani oleh Tuan Bagas. Jadi untuk selama 2 tahun ini, Pak Axel lah yang akan mengelola perusahaan. Dan jika terjadi perceraian sebelum masa 2 tahun itu maka seluruh kekayaan Tuan Bagas sepenuhnya akan di sumbangkan ke panti asuhan," terang Rico. "Kenapa begitu Pak? Itu kan perusahan Papa saya, lalu bagaimana bisa Papa mempercayakannya pada orang lain," ucap Disya sinis. Sungguh ucapan Disya sangat menohok hati Axel. Memang benar apa yang di ucapkannya, kalau Axel bukanlah siapa-siapa mereka. "Maaf Nona, saya hanya menjalankan perintah dan menjelaskan isi dari surat wasiat yang telah Tuan Bagas buat. Berdasarkan surat wasiat ini, dan sesuai dengan fakta bahwa Pak Axel adalah suami anda dan merupakan menantu Tuan Bagas. Lalu ... mengapa anda mengatakan bahwa Pak Axel orang lain?" Rico menatap heran Disya yang tak mengakui fakta perihal siapa Axel sebenarnya. "Oh ya Nona, satu hal lagi anda tidak bisa bercerai dengan Pak Axel sebelum usia Nona genap berumur 25 tahun. Jika tidak, seluruh harta kekayaan Tuan Bagas akan di sumbangkan ke panti asuhan." Rico mengingatkan kembali Disya perihal isi surat wasiat itu. Mendengar itu membuat Disya merasa kesal dengan fakta yang ada. Tampak Disya yang begitu kecewa dan juga marah ketika tahu isi dari surat wasiat itu. Dengan hati yang dongkol, Disya pun berlalu meninggalkan pengacara dan Axel begitu saja. "Maafkan tingkah istri saya, Pak." Axel merasa tak enak hati pada Rico dengan sikap Disya yang tidak sopan di hadapannya. "Ah tidak masalah Pak, ini sudah jadi tugas saya dan sifat seperti itu sudah biasa saya lihat. Baiklah saya permisi dulu, besok saya akan datang kembali untuk menyerahkan surat-surat penyerahan harta warisan," jawab Rico dan dia pamit undur diri dari hadapan Axel dan di angguki kepala oleh Axel sebagai tanda jawabannya. Tampak Axel menarik nafas beratnya, lelaki itu cukup meras lelah menghadapi sikap kekanakan istrinya. Kini Axel berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Disya sembari melonggarkan dasi yang membuatnya sesak nafas. Lama berdiri di depan kamar Disya dan mengetuk pintu kamar berulang kali, tapi tak ada jawaban sama sekali dari sang empu. Ingin Axel membukanya tapi pintu itu terkunci dari dalam. Hingga akhirnya Axel memutuskan untuk berjalan kembali ke kamarnya. Segera mungkin dia memasuki kamar dan menghempaskan tubuh kekarnya di atas sofa. Lelaki itu memijit pelipisnya, memikirkan cara agar dia lebih ekstra sabar dalam menghadapi sikap konyol dan kekanakan istrinya itu selama 2 tahun ini. Sungguh dia begitu dilema bagaimana hari-hari yang akan dia lalui bersama dengan Disya. Seketika Axel beranjak dari tempatnya, berjalan menuju kamar mandi untuk mendinginkan hati dan pikirannya dengan berendam di bathtub. 🌷🌷🌷 Pagi pun tiba Axel telah bangun dari tidur lelapnya. Tampak lelaki itu telah bersiap dan berjalan keluar kamarnya, lalu dia berbelok menuju kamar Disya untuk memastikan kondisi Disya sebelum meninggalkannya. Tetap sama seperti tadi malam, pintu pun masih tertutup rapat. Perlahan dia membuka pintu kamar Disya menggunakan kunci cadangan yang dia ambil dari kamarnya. Tatapannya tertuju pada Disya yang masih tertidur pulas di atas ranjang. Axel berjalan masuk dan mendekati Disya. Tampak Disya yang tidur meringkuk dengan memeluk foto Bagas. Melihat itu hati Axel merasa terenyuh dengan kondisi Disya saat ini. "Pasti dia sangat merindukan Papa nya," gumam Axel sambil menatap lekat wajah cantik Disya yang ada di hadapannya. Kini Axel duduk di tepi ranjang dengan sorot mata yang terus menatap wajah Disya. "Kalau di perhatikan, ternyata dia manis juga. Apalagi kalau sedang diam seperti ini," gumam Axel lagi. Tak hentinya dia menatap wajah istrinya itu yang kini menarik perhatiannya. "Ah, kenapa aku jadi memikirkannya," ucap Axel yang baru sadar dari lamunannya. Kemudian dia beranjak dan bergegas meninggalkan kamar Disya, lalu menutup pintu kembali. Dengan langkah lebar Axel berjalan menuruni anak tangga, di bawah sudah ada Jack yang telah menunggunya sedari tadi. Hari ini mereka akan berangkat ke Thailand dan langsung menemui Revan. Sungguh Axel sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan lelaki b******k itu. 🌷🌷🌷 BUGH! 🌷Bersambung🌷 . . .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN