Menemukannya

1057 Kata
"Makan sendiri atau aku akan suapi dengan caraku sendiri! Aku sama sekali tak masalah jika aku harus menyuapimu dengan bibirku," ucap Axel penuh penekanan di akhir kalimat. Mata Disya membulat dengan sempurna ketika melihat tindakan Axel, sebelum akhirnya dia mendorong keras tubuh kekar Axel dan menghindar. Secepat kilat dia langsung menyuapkan makanan ke mulutnya karena dia takut Axel akan menciumnya. Yang benar saja, tentunya Disya tak mau kecolongan hingga akhirnya Disya menghabiskan makanan yang ada di dalam piringnya. Sudut bibir lelaki itu tertarik ke atas, tampak dia tersenyum tipis. Sangking tipisnya membuat Disya tak menyadarinya. 'Heh' ternyata sangat mudah sekali menjinakkannya. Hanya perlu sedikit gertakan saja dia akan menurut padaku.' Axel 'Dasar m***m! Dia pikir aku gadis seperti apa yang dengan seenaknya dia cium. aku tidak akan pernah mau di sentuh olehnya.' Disya Disya terus menyuapkan makanan ke dalam mulutnya dengan hati yang dongkol. Setelah selesai makan, Disya pun segera berlalu meninggalkan Axel. Dia berjalan masuk ke dalam kamar miliknya dan beranjak tidur. Tak lama Axel pun telah berdiri di depan pintu kamar Disya. lelaki itu telah mengetuk pintu beberapa kali namun nihil tak ada sahutan sama sekali dari sang empunya. Hingga akhirnya Axel pun memutuskan untuk membukanya. "Dasar gadis ceroboh, ternyata kamarnya tidak di kunci," gumam Axel. Kedua netra Axel menangkap sosok Disya yang tengah tidur pulas sembari memeluk sebuah foto pigura Bagas. Terlihat jelas matanya yang sedikit membengkak, menandakan gadis itu habis menangis. "Maafkan aku yang sedikit keras. Aku hanya tidak ingin kau sakit karena tidak mau makan," ucap Axel sembari menyelimuti Disya. Kemudian Axel menutup kembali pintu kamar Disya dan berjalan menuju ke kamarnya. Axel sedikit tenang karena melihat Disya yang telah tertidur pulas di kamarnya. Sementara Axel sendiri segera membaringkan tubuhnya di ranjang dan masuk ke alam mimpinya. Rasa lelah menyelimuti dirinya menjalani hari-hari yang begitu berat. Berbagai peristiwa yang terjadi membuatnya semakin bingung. Takdir seperti apa yang Tuhan berikan kepadanya, dalam sekejap statusnya berubah menjadi suami dari seorang gadis sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya dan bahkan dalam mimpinya. Terlebih dia menikah dengan anak Bagas. Sungguh seperti mimpi dia menikah dengan Disya. 🌷🌷🌷 Pagi pun tiba tampak Axel sudah terlihat lebih segar dengan pakaian rapi yang akan berangkat ke kantor. "Bi mana Disya?" tanya Axel yang kebetulan melihat Bi Ina berada di lantai 2. "Non Disya belum bangun Tuan," jawab Bi Ina sopan. Dengan segera Axel pun memutar arah menuju kamar Disya. Di bukanya pintu kamar, tampak Disya yang masih tertidur pulas. Axel pun berjalan mendekat, dia terus memandangi wajah cantik istrinya. Setelah puas, lelaki itu pun berbalik dan menutup kembali pintu kamar. Axel membiarkan Disya tetap tertidur. Lelaki itu segera berangkat ke kantor tanpa sarapan. Di tengah perjalanan terdengar bunyi dering telpon dari ponselnya. Dengan cekatan Axel mengambil benda pipih itu yang tersimpan di dashboard mobil. "Ya hallo," sapa Axel yang masih fokus mengemudikan mobilnya. "Tuan saya telah mendapatkan semua informasi tentang Revan," kata seseorang di seberang telepon yang tak lain Jack. Seorang detektif dan sekaligus sahabatnya. "Baiklah, segera temui aku di kantor setengah jam lagi," ucap Axel dan kemudian memutuskan sambungan telpon itu. Axel melajukan mobilnya dengan cepat. Biasanya dia lah yang selalu mengemudikan untuk Bagas, tapi kali ini dia mengemudikan mobil untuk dirinya sendiri. Tak lama mobil Axel telah tiba di depan kantor, dia segera keluar dan berjalan memasuki gedung pencakar langit itu. Tampak semua karyawan menunduk hormat kepadanya karena selain Bagas, Axel adalah orang kedua yang di segani. Lelaki itu terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangannya. Di dalam ruangan Axel, ada seseorang yang telah menunggunya. "Pagi bos," sapa Jack ketika Axel membuka pintu dan berjalan memasuki ruangannya. "Tidak perlu terlalu formal. Cepat katakan apa yang sudah kau dapatkan," ucap Axel dengan rasa penasaran yang sangat tinggi. Jack menyodorkan sebuah berkas informasi kepada Axel di atas meja. "Ternyata selama ini Revan berada di Thailand bersama seorang wanita yang bernama Jesica. Revan kabur karena Jesica mengancamnya jika dia menikah dengan Disya, Jesica akan menghancurkannya. Wanita itu akan mengatakan pada semua orang jika dia mengandung anak Revan. Faktanya Revan memang telah berselingkuh dengan Jesica yang merupakan sekretarisnya itu. Dan yang mengejutkan lagi bahwa Revan hanya mengincar harta Nona Disya saja, maka dari itu Revan mau memacari Nona Disya. Tapi sayangnya Jesica terlebih dahulu hamil dan mengancamnya. Membuat Revan tak bisa berbuat apa-apa," jelas Jack panjang lebar perihal informasi yang dia dapatkan itu. Axel pun mendengarkan dengan baik penjelasan Jack sembari membolak-balikkan berkas itu dengan bola mata yang bergerak kesana-kemari seolah mencerna satu kata demi kata apa yang tertera di atas kertas itu. "Kerja yang bagus Jack," ucap Axel memuji hasil kerja sahabatnya itu yang begitu cepat mendapatkan informasi perihal Revan. "Tunggu aku Revan, aku pasti akan mendapatkan mu!" geram Axel dengan mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya terlihat memutih. Tampak lelaki itu tengah menahan sebuah amarah yang membuncah di dalam sana. "Tolong rahasiakan semua ini dari Disya. Aku ingin Disya sendiri yang mengetahui kebusukan lelaki itu. Aku yakin jika kita yang memberitahunya dia pasti tidak akan percaya," ucap Axel dan di angguki kepala oleh Jack sebagai jawabannya. "Oh ya, selamat atas pernikahanmu bos," ucap Jack mengejeknya. Axel hanya mendengus kesal atas apa yang di katakan sahabatnya itu. "Kau mengejekku, hah?" tanya Axel dengan nada suara yang mulai meninggi. Sorot matanya menatap tajam ke arah Jack seolah ingin menguliti hidup-hidup lelaki di hadapannya itu. Sementara Jack dengan santainya membalas tatapan Axel sembari tertawa keras. Jack adalah sahabat Axel sejak SMA, tapi saat kuliah mereka mengambil jurusan yang berbeda. "Ayolah, apa yang aku katakan benar bukan? Kau sudah menikah dan beruntung kau mendapatkan gadis yang cantik dan seksi seperti Disya," ucap Jack lagi. "Diam! Sekali lagi kau bicara akan ku potong lidahmu itu dan memindahkan mu ke Afrika. Biar kau tak bisa melihat cewek seksi setiap hari disana," bentak Axel. Detik itu juga Jack pun terdiam membisu, tak ada sepatah katapun yang terlontar dari bibirnya lagi. Dia paham betul bila Axel telah berbicara seperti itu, menandakan bahwa Axel marah besar. Dan apa yang di katakan barusan bukan sekedar ancaman saja. "Aku memintamu kembali ke kantor ini karena aku sangat membutuhkan bantuanmu," lanjut Axel. "Siap bos, tapi apa jabatanku disini? Bukannya sekretaris sudah ada," tanya Jack penasaran. "Menjadi asisten pribadiku. Aku sangat membutuhkanmu untuk mengurus perusahaan dan juga laki-laki b******k itu." Jawabnya. "Besok pagi kita akan berangkat ke Thailand. Aku tak sabar ingin membuat perhitungan pada b******n itu." . . . 🌷Bersambung 🌷
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN