Kesedihan

1058 Kata
"Papa jangan banyak bergerak, Disya akan jaga Papa. Disya yakin Papa pasti sembuh," ucap Disya menyemangati sang Papa. Seulas senyum terbit di bibir Bagas melihat putrinya yang tengah mengkhawatirkan dirinya. "Tenanglah Nak, Papa akan segera menemui Mama. Mama sudah menunggu Papa, jadi tolong jangan tangisi Papa Nak." Air mata mengalir deras membasahi pipi Disya. "Papa jangan bicara seperti itu, tolong jangan tinggalin Disya Pa. Disya nggak punya siapa-siapa selain Papa," ucap Disya di sela tangisnya. "Axel ...," panggil Bagas Axel pun berjalan mendekat ke arah mertuanya yang terbaring lemah di atas brankar. Susah payah Bagas memegang tangan Axel, lelaki yang telah menjadi asisten pribadi sekaligus menantunya itu. "Berjanjilah padaku bahwa kau akan akan menjaga anakku, cintai dan sayangilah dia. Tolong jangan pernah membuatnya menangis apalagi meninggalkannya. Berjanjilah Axel ... berjanjilah ...," ucap Bagas dengan nafas suara yang melemah. "Saya berjanji Tuan," tegas Axel sembari menganggukkan kepalanya. Kini kedua netra Bagas beralih menatap ke arah anaknya yang berdiri di seberang Axel. Tangan lemahnya memegang tangan Disya anak kesayangannya. "Papa sangat menyayangimu, Nak. Ingat pesan Papa padamu," ucap Bagas lagi dan setelah itu Bagas diam. "Papa ... Pa bangun Pa ...," teriak Disya histeris. Sama halnya dengan Axel yang berteriak memanggil Dokter. "Dokter ... Dokter ...." Tak lama datanglah Dokter dan perawat yang masuk ke dalam ruangan Bagas, kemudian mulai memeriksa Bagas. Sebelum itu perawat meminta Axel dan Disya menunggu di luar. 10 menit berlalu keluarlah Dokter yang memeriksa Bagas tadi dengan raut wajah yang sedih. Disya pun segera menghampiri Dokter tersebut. "Bagaimana keadaan Papa Dok?" tanya Disya cemas. "Maaf kami selaku tim medis sudah berusaha keras untuk melakukan yang terbaik, tapi Allah berkehendak lain," jawab Dokter tersebut. Butiran kristal mulai berjatuhan membasahi pipi mulusnya dan secepat kilat Disya berlari masuk ke dalam ruangan Bagas. "Papa ...." Disya berteriak dengan sangat histeris sembari memeluk erat tubuh Bagas yang terbujur kaku. "Pa bangun Pa, Papa jangan tinggalin Disya sendiri." Dengan sangat derasnya air mata kembali berjatuhan membasahi wajah Disya. Sementara Axel hanya terdiam membiarkan Disya untuk meluapkan semua kesedihannya. Tanpa menunggu lama jasad Bagas pun di bawa pulang dan di semayamkan di ruang tengah untuk di kebumikan esok hari karena hari sudah sore. Tak henti-hentinya air bening meluruh dari matanya, dia terus menangis di samping jasad Bagas. Dan begitu seterusnya sampai pemakaman Bagas pun Disya tak hentinya menangis. Dengan susah payah Axel membawa Disya pulang karena Disya yang terus menolak. Tapi tak bodoh Axel, lelaki itu memaksanya. Kini Disya mengurung diri di dalam kamar. Hatinya masih merasa sedih karena kehilangan Papa nya, orang yang begitu di cintainya. Tak hanya itu, Disya juga tak mau makan dan minum sejak kemarin. Axel yang mengetahui hal itu merasa khawatir karena dia telah berjanji kepada Bagas untuk menjaganya. Membuat Axel pusing sendiri atas sikap Disya yang kekanakan. Ya begitulah pikir Axel perihal sikap istrinya itu. Berbagai macam pertanyaan yang terus berputar di kepala Axel memikirkan bagaimana cara agar Disya mau makan. Axel berjalan masuk ke dalam kamar Bagas. Kedua netranya menatap Disya yang masih meringkuk dan berlinang air mata. Lelaki itu berjalan mendekat ke arah Disya. "Sampai kapan kau akan terus menangis seperti ini?" tanya Axel pada Disya. Disya hanya terdiam membisu sama sekali tak berniat untuk menjawab pertanyaan Axel. Axel kembali bersuara karena Disya hanya diam tak kunjung meresponnya dan hal itu membuat Axel merasa kesal karena merasa di abaikan oleh wanita yang ada di hadapannya. "Jawab pertanyaanku, aku bertanya padamu! Sampai kapan kau akan terus begini?" ucap Axel dengan nada suara yang mulai meninggi. Detik itu juga Disya pun menoleh dengan sorot mata tajam menatap Axel. "Aku tidak menyuruhmu untuk menungguku. Dan aku juga tak butuh belas kasihmu," ucap Disya yang tak kalah dinginnya seperti Axel. Sungguh kata-kata Disya begitu menggores hati Axel dan membuat lelaki itu merasakan sakit bagai ribuan anak panah yang melesat di jantungnya. Ucapan Disya sukses membuat Axel tersinggung. "Kau pikir siapa dirimu hah? Kau pikir aku peduli padamu. Kalau bukan karena janjiku pada Papamu aku tak akan repot-repot membujuk gadis cengeng sepertimu," ucap Axel. "Kita menikah dengan terpaksa, dan sekarang Papa sudah meninggal. Mari kita akhiri saja, kau tak perlu repot-repot untuk mengurusku lagi," ucap Disya membuat Axel semakin kesal saja. "Kau ...," tunjuk Axel yang tak meneruskan ucapannya. Dia menatap tajam seolah ingin menguliti Disya. Axel begitu kesal bahkan sangat merasa kesal. Dia menghempaskan tangannya dan menyapu mukanya dengan kedua tangan untuk meredam emosinya. 'Bagaimana bisa aku di permainkan oleh gadis cengeng seperti Disya. Dan menikah adalah hal yang sakral untuknya bahkan dia tak berpikir sedikitpun untuk bercerai. Walaupun tak ada cinta di hatinya.' Axel "Cepat keluar dan makan! Jika dalam waktu 10 menit kau tak juga keluar untuk makan. Maka jangan salahkan aku jika aku mengurungmu di dalam kamar ini," ucap Axel berlalu begitu saja meninggalkan Disya. Axel berjalan keluar sembari membanting keras pintu kamar itu membuat Disya terlonjak kaget. Lelaki itu meluapkan segala kekesalannya pada Disya. Disya pun kembali terduduk dan menangis. "Ya Tuhan seperti ini kah karakter suamiku?" lirih Disya. Dia tak menyangka akan menghabiskan hidupnya bersama lelaki dingin seperti Axel. Tidak! Disya sama sekali tak mau. Dia akan berupaya mencari cara agar bisa lepas dari cengkeraman Axel. Dengan terpaksa akhirnya Disya keluar dari kamar. Dia berjalan menuruni anak tangga menuju ruang makan. Tak disangka bahwa Axel telah duduk di sana menunggunya, Disya pun segera mendudukkan tubuhnya di kursi. Di atas meja makan sudah banyak hidangan makanan yang tersaji, salah satunya menu kesukaan Disya. Tapi dia begitu tak selera untuk menyantapnya. Axel makan tanpa bersuara hanya terdengar bunyi dentingan sendok yang beradu dengan piring. Sedangkan Disya hanya menatap nanar sembari mengaduk-aduk makananannya tanpa berniat untuk memasukkannya ke dalam mulut. Sorot mata Axel terus memperhatikan Disya dalam diam. Setelah selesai makan dia berjalan mendekati Disya. "Kau mau makan sendiri atau aku yang akan menyuapimu?" tanya Axel pada Disya dengan tatapan elangnya seolah ingin menerkam mangsanya saat itu juga. Disya hanya diam saja tak menganggap keberadaan Axel yang ada di sampingnya. Secepat kilat Axel mengambil sendok dan menyuapkan ke dalam mulutnya. Kemudian di mendekat ke arah Disya, segera mungkin Axel menarik tengkuk Disya dan ingin menciumnya. Refleks Disya mendorong tubuh Axel. Secepat mungkin dia menghindar dari ciuman Axel. Lelaki itu kembali bersuara setelah menelan makanannya. "Makan sendiri atau aku akan suapi dengan caraku sendiri! Aku sama sekali tak masalah jika aku harus menyuapimu dengan bibirku," ucap Axel penuh penekanan di akhir kalimat. . . . 🌷Bersambung🌷
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN