Pulang

1036 Kata
Disya pun segera menyisir rambutnya, mengganti baju dan mengambil ponselnya. Kemudian berdiri di samping Axel. Bersamaan dengan itu Axel mematikan Ipad-nya dan berdiri. Lelaki itu belum menyadari jika Disya tengah berdiri di sampingnya membuat Axel terkejut begitu juga dengan Disya. Sontak Disya berjalan mundur dan hampir jatuh. Beruntung ada Axel, refleks lelaki itu menangkap tubuh Disya hingga posisi mereka begitu dekat. Disya tertegun begitu juga dengan Axel. Seumur hidupnya baru pertama kali ini Axel berdekatan dengan perempuan apalagi posisinya sangat dekat seperti ini. Hal itu membuat jantung Axel berdetak kencang seakan ingin keluar dari sarangnya. Disya pun tersadar dan segera bangun dari posisinya. Begitu juga dengan Axel sama tersadar, membuat lelaki itu menjadi canggung. Secepat kilat Axel menarik koper berjalan keluar dan meninggalkan Disya begitu saja. Beberapa detik kemudian Disya berjalan mengikuti Axel keluar dari kamar mereka. Di sepanjang perjalanan suasana tampak hening. Baik Axel maupun Disya tak ada yang berbicara, keduanya terdiam membisu. Akibat insiden kecil tadi membuat keduanya merasa canggung. Tak terasa kini mobil Axel telah sampai di halaman rumah Disya. Lelaki itu segera mematikan mobilnya dan hendak turun. "Tunggu!" panggil Disya. Sementara Axel yang akan melepas sabuk pengamannya pun menoleh. Terlihat jelas bola matanya menunjukkan tanda tanya besar. "Aku mau kita di hadapan Papa terlihat biasa saja. Aku ...." Belum selesai bicara Axel segera memotong ucapan Disya. "Aku tahu, tak perlu di bahas lagi. Cepat turunlah!" ucap Axel tegas. Tak butuh waktu lama, Axel pun turun terlebih dahulu. Penjaga sudah membuka bagasi mobil dan mengambil koper mereka masuk ke dalam rumah. Drama pun di mulai, dimana Disya yang mulai menggandeng tangan Axel dan melangkah masuk ke dalam. Hal itu membuat Axel melirik sekilas ke arah tangannya, kemudian lelaki itu berpura-pura tidak tahu. Axel membiarkan Disya menggandeng tangannya. Disinilah mereka berada, di sebuah ruangan keluarga yang begitu luas. Namun suasana tampak hening tak ada seorangpun yang ada disana. "Bi, mana Papa?" tanya Disya pada Bi Ina yang baru saja memasuki ruangan keluarga. "Tuan besar ada di ruangannya Non," jawab Bi Ina. Secepat kilat Disya melepaskan genggaman tangannya. Disya berjalan memasuki kamar Papa nya, tampak Bagas sedang beristirahat. Lelaki paruh baya itu masih kurang sehat, tapi tetap tidak mau di bawa ke Dokter. Kini Disya tengah duduk di tepi ranjang Papa nya. Kedua netra Disya menatap lekat wajah lelaki yang telah membesarkannya. Perlahan air bening turun membasahi pipi Disya, Bagas adalah segalanya bagi Disya. Dialah Ayah sekaligus Ibu untuk Disya. Disya segera menghapus air mata itu dengan punggung tangannya. Bersamaan itu Bagas membuka matanya secara perlahan. "Kamu sudah pulang, Nak? Mana Axel?" tanya sang Papa. Matanya menelisik seolah mencari keberadaan menantunya. Tapi sosok yang dia cari tak ada disana. "Dia ada di luar Pa. Gimana kondisi Papa? Kita ke rumah sakit ya, Pa ...," bujuk Disya. Bagas menggeleng sebagai tanda jawabannya. "Tidak perlu Nak, Papa sudah tua. Umur Papa sudah tidak akan lama lagi. Papa cuma berpesan, jadilah istri dan Ibu yang baik. Papa mungkin tidak bisa melihat cucu Papa besar. Tapi Papa harap kamu mengerti, bahwa apa yang telah terjadi itu semua adalah takdir. Dan Papa harap kamu bisa menjalaninya dengan baik. Papa minta terimalah Axel sebagai suamimu. Kamu tak usah khawatir, Papa sangat mengenalnya, dia orang yang baik, sabar dan bertanggungjawab. Papa merasa tenang bisa meninggalkanmu padanya." "Papa ini bicara apa? Disya yakin Papa pasti baik-baik saja," ucap Disya dengan air mata yang sudah berjatuhan membasahi pipinya. "Sungguh Papa sangat menyayangimu, Nak ...," ucap Bagas sembari memegangi dadanya. "Papa ... Pa ... Papa ... Axel ... Axel ...," panggil Disya dengan raut wajah yang panik. Suara Disya terdengar sampai ke lantai bawah, membuat Axel segera berlari menuju lantai atas dimana kamar Bagas berada. Kedua netra Axel menatap Disya tengah menangis dan Bagas yang tak sadarkan diri. Dengan cepat Axel memanggil pelayan dan membawa bos sekaligus mertuanya itu ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan air mata Disya tak henti-hentinya berjatuhan hingga matanya terlihat bengkak. Disya memeluk erat tubuh sang Papa yang begitu di cintainya. Axel melajukan mobilnya dengan sangat kencang, hanya beberapa menit saja mereka telah sampai di rumah sakit. Dokter pun segera memeriksa Bagas. Sementara Disya dan Axel menunggu di luar, tak lama Dokter yang memeriksa Bagas keluar dari ruangan. "Bagaimana kondisi Papa saya Dok?" tanya Disya khawatir. "Saat ini jantungnya sudah sangat lemah, beliau tidak boleh mendapat berita yang bisa mengejutkan jantungnya. Sebisa mungkin menjaga hal-hal yang bisa membahayakan jantungnya. Buatlah dia selalu gembira," ucap Dokter. "Baik Dok," jawab Axel. Setelah itu Dokter pun berlalu meninggalkan Axel dan Disya. Seketika Disya terdiam mematung, memikirkan apa yang di ucapkan oleh Dokter barusan. Tahu Disya yang tak baik-baik saja, Axel memegang bahunya dan membawanya duduk di kursi tunggu. Tak ada penolakan sama sekali dari Disya, dia hanya menurut dan masih diam seribu bahasa. Dia tampak bingung dan tak tahu harus bicara apalagi. Disya baru tahu perihal penyakit Papa nya ini, ternyata selama ini sang Papa telah menyimpan penyakit yang sangat berbahaya dan di rahasiakan darinya. Detik itu juga air mata Disya mengalir deras membasahi pipi mulusnya. Kini Axel berjalan memasuki ruangan dimana saat ini Bagas di rawat. Tampak sekujur tubuhnya di pasang banyak beberapa alat untuk membantunya bertahan hidup. Sorot matanya memandang tubuh lemah mertuanya itu. Perlahan dia mengambil kursi dan duduk di sebelah Papa mertuanya. Lama di pandanginya wajah pucat Bagas, tanpa dia sadari setitik bening jatuh di pipinya. Bagas sangatlah berjasa dalam hidupnya, tanpa dia tak mungkin Axel bisa jadi seperti ini. "Aku janji Pa, akan membalas Revan. Papa tenang saja, dia akan membayar mahal untuk ini semua," ucap Axel dengan kedua tangan yang mengepal kuat. "Axel janji akan selalu menjaga Disya, Papa tak perlu khawatir." Lanjutnya lagi dengan bersungguh-sungguh. Bagas membuka matanya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Namun sosok yang dia cari tak ada disana, hingga akhirnya dia mengeluarkan suara untuk memanggil putrinya. "Disya," panggil Bagas dengan nada suara yang lemah. Segera mungkin Axel pun memanggil Disya, dan membuat Disya berjalan cepat menemui Papa nya. "Papa ...." Disya memeluk erat tubuh Bagas dengan air mata yang mengalir deras. Axel mengangkat tubuh Disya karena Disya terlalu kuat memeluk Papa nya. Hal itu membuat Bagas meringis menahan sakit. "Papa jangan banyak bergerak, Disya akan jaga Papa. Disya yakin Papa pasti sembuh," ucap Disya menyemangati sang Papa. 🌷🌷🌷 "Axel ...." . . . 🌷Bersambung🌷
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN