Nasihat

1004 Kata
"Tapi ... kenapa bisa begitu? Bukannya Disya sudah bertunangan dengan seorang pengusaha. Lalu bagaimana bisa dia menikah denganmu? Apa yang sudah kamu lakukan padanya Axel?" ucap Bu Fatimah khawatir karena Axel tinggal di rumah Tuan Bagas. "Axel tidak melakukan apapun padanya, tunangannya itu pergi di saat acara ijab kabul di mulai," jawab Axel berusaha menjelaskan semuanya pada Bu Fatimah. "Saat itu Tuan Bagas sedih dan kecewa. Dia begitu malu jika pernikahan anaknya batal. Detik itu juga Tuan Bagas meminta Axel untuk menggantikan Revan dan menikahi Disya ... dan aku pun tak bisa menolaknya Bu," terang Axel dengan suara berat. Tampaknya ada beban berat dalam ucapannya. Kini Bu Fatimah mulai paham apa yang terjadi pada Axel dan beliau cukup paham betul bagaimana situasi dan suasana hati Axel saat ini. "Tenanglah Nak. Apa kamu mencintainya, hm?" tanya Bu Fatimah pelan. Axel menggeleng sementara Bu Fatimah tersenyum melihat tanggapan Axel. "Buatlah dia jatuh cinta padamu, Nak ...," ucap Bu Fatimah lagi. Axel pun menatap lekat wajah wanita yang telah dia anggap sebagai Ibu kandunganya. Seolah mencari sebuah arti dan maksud dari ucapannya itu. "Itu tak akan pernah terjadi, dan bagaimana bisa Bu?" bantah Axel. "Nak, Ibu tahu kalian menikah dengan cara terpaksa. Tidak ada cinta, kasih sayang, dan juga perhatian di antara kalian. Jadi buatlah agar Disya mencintaimu, ingat pernikahan itu hal yang sangat suci. Kalian sah di mata Allah, Nak. Mungkin saja dengan cara beginilah Allah memberikan jalan jodoh buat kamu," terang Bu fatimah. "Tapi Bu ... Axel tidak mencintainya, begitupun dia sama sekali tidak menginginkan Axel jadi suaminya. Dia hanya mencintai orang lain dan itu adalah Revan cinta sejatinya," ucap Axel memotong ucapan Bu Fatimah. Terdengar jelas ada nada marah dalam ucapan Axel. "Ibu tahu Nak mungkin untuk saat ini dia mencintai orang lain. Tapi ... dia itu adalah istrimu, sudah tanggungjawab mu bukan hanya di dunia saja tapi nanti di hadapan Allah. Cobalah buka hatimu untuk mencintainya dan buatlah dia juga mencintaimu Nak. Ibu yakin kamu pasti bisa menaklukkan hati Disya. Pernikahan bukankah mainan Nak, jika tidak suka bisa ganti begitu saja. Ingat tanggungjawab nya di dunia dan akhirat," ucap Bu Fatimah menasihati Axel. Seketika Axel terdiam mendengar ucapan Bu Fatimah itu. Dia mencoba untuk meresapi setiap kata yang terlontar dari wanita yang ada di hadapannya ini. "Sekarang pulanglah, Nak. Kasihan istrimu pasti dia sedang mencemaskanmu. Terlebih dia juga dalam kondisi seperti ini, dia butuh dukungan, dan juga bahu untuk bersandar." Lanjutnya lagi. Mendengar itu Axel pun segera beranjak dari tempatnya dan mencium tangan Bu fatimah. "Terimakasih Bu, Axel permisi dulu. Assalamualaikum." "Waalaikumsalam," jawab Bu Fatimah. Dengan langkah lebar Axel berjalan keluar menuju mobilnya yang terparkir di halaman panti. Kini dia kembali ke hotel lagi untuk melihat keadaan Disya. Jauh di dalam lubuk hatinya ada rasa sesal yang menyeruak. Mengapa tadi dia membentak Disya? Kini pikirannya penuh dengan Disya dan takut terjadi apa-apa pada wanita yang telah menjadi istrinya itu. Axel pun segera melajukan mobilnya dengan kencang menuju hotel. Segala pikiran hal buruk muncul memenuhi isi kepalanya yang bisa membahayakan nyawanya. Mengingat saat ini Disya sedang frustasi dan kecewa atas apa yang terjadi pada hidupnya. Kini Axel menambah lagi kecepatannya. 🌷🌷🌷 Beberapa menit kemudian mobil Axel telah tiba di depan hotel, dengan segera dia keluar dan menyerahkan kunci mobilnya kepada penjaga untuk di parkirkan. Dengan langkah lebar Axel berjalan masuk menuju lift dan menekan tombol 15 dimana kamar hotelnya berada. Ting! Pintu lift pun terbuka, dan Axel pun kembali melangkahkan kakinya menuju kamar. Dengan cepat Axel membuka pintu kamarnya, kedua netranya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan untuk mencari Disya. Namun sosok yang dia cari tak ada di dalam sana. Detik itu juga raut wajah Axel berubah jadi panik, Axel kembali melangkahkan kakinya menuju kamar mandi tapi nihil Disya juga tak ada disana. Kini dia berjalan menuju ke balkon, dan ternyata Disya masih duduk bersandar di teralis balkon dan tertidur. Axel pun berjalan mendekat, tampak wajah Disya terlihat begitu sembab dan merah karena menangis seharian. Dia mungkin tertidur karena kelelahan menangis. Perlahan Axel mengangkat tubuh Disya dan membaringkannya di atas ranjang, kemudian Axel menyelimutinya. Setelah itu Axel berjalan dan mendudukkan tubuhnya di atas sofa. Tatapannya terus tertuju ke arah Disya yang tengah tertidur pulas. Axel merogoh saku celananya untuk mengambil benda pipih yang tersimpan di dalam sana. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard mencari nomor yang hendak dia hubungi. Dert ... dert ... "Ya hallo bos," jawab seseorang di sebernag telepon. "Aku ada tugas buatmu. Cepat cari tahu dan temukan kemana Revan Pradipta kabur, selidiki juga kenapa dia pergi di hari pernikahannya?" ucap Axel tegas. "Siap bos." Tak menunggu lama Axel langsung mematikan panggilan telponnya. Tampak Axel yang tengah duduk bersandar di atas sofa dengan segala pikiran yang bergelayut di hatinya. Ucapan Bu Fatimah sungguh membuatnya pusing, dia bingung harus bagaimana bersikap pada Disya. "Apa yang harus aku lakukan?" gumam Axel dengan sorot mata yang terus menatap ke arah Disya. Telah lama Disya tertidur hingga kini dia terbangun dan melihat ke sekelilingnya. Matanya membulat sempurna ketika dia sadar telah berada di atas ranjang king sizenya. "Bagaimana bisa aku ada disini? Bukannya tadi aku ada di balkon dan duduk disana," gumam Disya dan kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Kemudian matanya menangkap sosok yang begitu familiar tengah duduk di atas sofa dengan tatapan fokus ke arah Ipad-nya. 'Apa dia yang mengangkat ku kesini?' Secepat kilat Disya membuka selimut dan melihat tubuhnya. Ternyata bajunya tetap utuh sama seperti tadi, membuat Disya bernafas lega karena pakaiannya masih melekat di tubuhnya. Dan bagaimanapun juga Disya harus tetap waspada dengan Axel. "Cepat bangun dan segeralah mandi, setelah ini kita pulang ke rumah," titah Axel tanpa menolehkan kepalanya. Kedua netranya masih fokus ke arah Ipad-nya yang terdapat beberapa berkas untuk dia kroscek kembali. Disya hanya bersungut dan segera beranjak dari tempatnya berjalan ke arah kamar mandi. Tak lama dia pun segera keluar dengan mengeringkan rambutnya yang masih terlihat basah dengan handuk. Sekilas Axel meliriknya kemudian kembali sibuk dengan Ipad-nya. "Aku beri waktu 10 menit untuk bersiap. Jika terlambat sedikit saja, maka akan aku tinggal," ucap Axel mengingatkan. . . . 🌷Bersambung🌷
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN