"Baiklah aku akan pergi, tapi satu hal yang harus anda ingat jangan bertindak bodoh yang merugikan anda sendiri. Tolong pikirkan Tuan Bagas sebelum berbuat nekat," ucap Axel mengingatkan. Dia segera berlalu meninggalkan Disya begitu saja.
Tampak Disya yang terdiam mematung, mencerna satu persatu perkataan Axel barusan. Setelah lama berpikir hingga akhirnya Disya pun beranjak dari tempatnya, masuk ke dalam dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selang beberapa menit kemudian dia telah selesai dari ritual mandinya dan baru menyadari bahwa dia tidak membawa baju ganti. Dan hal itu membuat Disya bingung. Tidak mungkin juga dia keluar dengan handuk seperti ini, bisa-bisa Axel berpikir dia akan menggodanya.
Sementara Axel yang sejak tadi menunggu Disya, kini lelaki itu tampak cemas karena Disya belum juga keluar dari kamar mandi.
'Jangan-jangan Nona Disya melakukan hal yang buruk.' Axel
"Nona ... apa anda baik-baik saja di dalam?" tanya Axel sembari mengetuk pintu kamar mandi.
"A- aku tidak apa-apa, hanya saja aku lupa membawa baju ganti ku. Bisakah kau ambilkan di tasku?" tanya Disya malu-malu. Dengan terpaksa Disya menyuruh Axel untuk mengambilkan bajunya yang ada di dalam tasnya.
"Baik Nona, akan saya ambilkan. Tunggu sebentar!" ucap Axel.
Dengan cekatan Axel mengambil baju ganti Disya. Lelaki itu begitu terkejut sekaligus malu saat mengambil pakaian dalamnya. Axel langsung memberikannya dan bergegas meninggalkan kamar.
Tak lama Disya pun keluar setelah memakai lengkap pakaiannya.
"Silahkan sarapan, Nona!" ucap Axel yang sukses membuyarkan lamunan Disya.
Kedua netra Disya menatap Axel kemudian beralih menatap makanan yang ada di atas meja.
Sungguh Disya tak berselera makan untuk saat ini. Dia hanya menatap makanan itu tanpa memakannya.
"Makanlah Nona, jangan membuatku tambah repot karena Nona sakit!" ucap Axel lagi.
"Jangan memaksaku. Kau saja yang makan," jawab Disya ketus.
"Tapi Nona tidak makan dari kemarin. Bagaimana kalau Nona sakit? Jangan tambah pekerjaanku!" ucap Axel yang tetap bersikeras menyuruh Disya untuk makan.
"Tenang saja, kau tak perlu khawatir. Aku sama sekali tak akan merepotkanmu. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Dan satu hal lagi yang perlu kau ingat, pernikahan kita ini hanyalah sandiwara tak lebih dari apapun. Aku terpaksa karena Papa. Jadi jangan berharap kita bisa seperti pasangan lainnya. Jangan sekali-kali mengaturku dan jangan coba-coba untuk menyentuhku. Ingat, aku tidak mau kau ikut campur dalam urusan pribadiku. Kau hanya perlu bersikap baik di depan Papa saja, selebihnya kita hanya sebatas majikan dan bawahan. Aku harap kau tahu posisimu!" ucap Disya.
Detik itu juga hati Axel merasa tercubit dengan perkataan Disya. Entah kenapa lelaki itu merasakan sakit yang begitu menyayat hatinya.
"Posisiku? Kau tahu apa posisiku saat ini?" ucap Axel dengan wajah yang merah padam memancarkan sebuah amarah. Dia merasa terhina dengan ucapan Disya.
Terlihat jelas sorot mata Axel yang menatap tajam dan siap mengoyak hati dan tubuh Disya saat ini juga.
"Kau tanya posisiku bukan?" ulang Axel kini dia sudah berdiri sangat dekat dengan Disya.
"Apa kau sadar Nona, aku ini suamimu. Mau tidak mau kau harus mengakui itu. Jangan besar kepala, kau pikir aku mau menikah dengan gadis sombong, manja, dan kekanakan seperti dirimu yang bisanya hanya merengek dan menangis. Aku juga terpaksa Nona, kalau bukan karena Pak Bagas yang sudah banyak menolongku, aku juga tidak akan mau," ucap Axel penuh amarah dan berlalu setelah mengucapkannya.
Seketika Disya terduduk mendengar apa yang di katakan Axel barusan. Kini perasaannya semakin hancur. Setelah di tinggal pergi kekasihnya entah kemana dan sekarang suaminya pun juga meninggalkannya. Lalu bagaimana dia akan menjalani hidup seperti ini.
"Suami ...." Disya tersenyum muak mendengar kata itu. Sebenarnya pernikahan macam apa ini? Bahkan bagaimana sikap dan karakter suaminya sendiri, Disya tak tahu.
Sementara Axel tengah berjalan keluar kamar. Dia bergegas turun ke bawah mengambil kuncinya dan melajukannya dengan kencang. Lelaki itu melampiaskan kekesalannya, sungguh Axel tidak terima dengan ucapan Disya. Dia menikah pun karena terpaksa, lelaki itu sama sekali belum terpikir untuk menikah. Apalagi ini dadakan juga bukan dengan orang yang dia cintai.
Axel terus melajukan mobilnya, hingga di tengah jalan tiba-tiba dia menepikan mobilnya. Lelaki itu menghela nafas beratnya dan menghembuskannya secara perlahan. Axel memukul stir mobil melampiaskan segala kekesalan dan kemarahannya.
Tampak Axel menyandarkan kepalanya di stir mobil. Sekilas bayangan pertengkarannya dengan Disya bagaikan slide yang terus muncul memenuhi isi kepalanya. Selain itu dia juga memikirkan janjinya pada Bagas yang membuatnya semakin pusing.
"Aku sudah berjanji pada Tuan Bagas untuk menjaganya dan selalu membahagiakannya. Tapi bahkan dia saja menganggapku tidak ada. Dia ...." Axel kembali kesal mengingat ucapan Disya.
Axel sendiri membenarkan setiap ucapan Disya, memang tidak ada cinta di antara mereka. Tapi kata-kata kasar Disya sangat menggores dan melukai harga dirinya sebagai seorang laki-laki. Harusnya Disya sadar bahwa disini dia juga adalah korban.
Lama dia termenung sebelum akhirnya Axel memutuskan untuk kembali melajukan mobilnya. Kini dia telah sampai di sebuah tempat yang tak lain adalah panti asuhan, dimana dia pernah di besarkan. Dan sebelum bertemu dengan Bagas, waktu kecil Axel di tinggalkan orangtuanya di depan panti.
"Assalamualaikum Bu ...," ucap Axel ada Bu Fatimah.
"Waalaikumsalam, eh Axel. Ayo masuk, Nak, bagaimana kabar kamu?" tanya Bu Fatimah sembari menyambut kedatangan Axel dan mempersilahkannya duduk.
Dengan wajah kesal Axel mendudukkan tubuhnya di atas sofa.
"Ada apa kamu Nak?" tanya Bu Fatimah sembari menatap wajah Axel. Dia tahu betul siapa sosok Axel dan bagaimana sikapnya. Ya ... Axel memiliki kepribadian yang sedikit tertutup dan menyimpan masalahnya sendiri.
Melihat Axel yang masih terdiam hingga akhirnya Bu Fatimah mendekat. Dia duduk di sebelah Axel yang masih terdiam membisu. Tak ada sepatah kata pun yang terlontar dari bibirnya.
Bu Fatimah membelai kepala Axel dengan lembut.
"Katakanlah Nak, apa yang sebenarnya menggangu pikiranmu?" tanya Bu Fatimah lagi.
Axel menundukkan kepalanya menatap lekat lantai.
"Axel sudah menikah Bu." Kata itulah yang pertama keluar dari bibirnya dan Axel kembali tertunduk.
Detik itu juga Bu Fatimah terkejut mendengar apa yang di katakan Axel. Dia tahu betul bahwa Axel bukan anak yang biasa bercanda, terlebih ini berhubungan dengan hidupnya.
"Menikah? Dengan siapa Nak? Apa kamu bercanda?" Sangking terkejutnya hingga Bu Fatimah memberondong Axel dengan berbagai macam pertanyaan.
"Tidak Bu, Axel tidak bercanda. Axel menikah dengan Disya putri Tuan Bagas," jawab Axel.
Lagi lagi Bu Fatimah di buat terkejut kembali dengan fakta yang ada. Dia tak menyangka bagaimana bisa Axel menikah dengan Disya selaku anak dari majikannya. Bahkan yang dia tahu bahwa Disya akan segera menikah dengan anak pengusaha juga.
"Tapi ... kenapa bisa begitu? Bukannya Disya sudah bertunangan dengan seorang pengusaha. Lalu bagaimana bisa dia menikah denganmu? Apa yang sudah kamu lakukan padanya Axel?"
.
.
.
🌷Bersambung🌷