ini chapter terakhir yaaaaa... selamat membaca Tita menghela napas. Kini ia berada di dapur, memilih untuk menyiapkan makan siang putrinya meskipun ada Bi Mae yang sudah menyiapkan. Matanya melirik Angkasa yang sedang duduk di sofa bersama Bulan yang tengah mengusap rambut Balqis yang sedang tidur di pangkuan wanita itu. Tita kembali menghela napas dan menyeka air mata yang akan terjatuh di pelupuk matanya. Ini sungguh sulit ditahan, hatinya terasa nyeri dan sesak. Ada rasa ketidakrelaan melihat pemandangan yang tidak jauh dari pandangannya. Ia harus membiasakan diri, karena memang cepat atau lambat Angkasa akan menikah dengan Bulan, dan Bulan akan menjadi ibu sambung bagi putrinya. Sementara dirinya? Dirinya akan berjuang mencari

