“Angkasa, ini sudah jam 8, enggak apa-apa Aqis dibiarin tidur?” tanya Tita yang sedang membereskan rak bersama Angkasa di ruang kerja suaminya itu. “Enggak apa-apa, ini hari libur dia bisa tidur lebih lama.” Tita mengangguk dan sibuk merepikan kertas-kertas yang bertumpuk. Ujung matanya melirik Angkasa yang fokus mengecek dokumen. Tita merasa tidak enak karena kemarin memaksa ingin mengetahui kebenaran soal beasiswa itu. Jika memang Angkasa tidak mengambil beasiswa karena dirinya, ia tidak tahu harus berkata apa. Ia pasti merasa malu dan tidak nyaman. “Eh!” ucap Tita tanpa sadar. “Kenapa?” Tita menunjukkan sesuatu yang ia temukan. “Ijazah aku!” jawabnya dan memperhatikan dengan seksama. Nilai-nilainya begitu memuaskan, rata-rata 8 dan 9. Lalu matanya men

