“Duh, malas banget upacara sekarang! Mana ada kepala sekolah lagi, di jamin lama banget ngomongnya.” Keluh Jihan. “Kemarin aja ngasih khotbah satu jam, banyak yang pingsan.” Tambah Yuyun yang berbaris di sebelah Jihan. Tita sendiri hanya diam. Pikirannya sedang tidak fokus. Sudah empat hari ini ia menunggu telepon dari Adit, namun sampai sekarang pria itu belum menelponnya. Padahal ia benar-benar mengharap bisa mendapatkan kerja. Apakah Adit lupa? Tapi mengingat ketika ia bekerja di klinik, Adit adalah atasan yang loyal dan berkomitmen. Ia juga selalu mencatat hal kecil walaupun hanya sebuah cacatan menu makan yang diinginkan Rita, tapi pria itu selalu mengingatnya. Tita menyesal tidak meminta nomor telepon Adit.

