11. Jalan Keluar

1010 Kata
"Turunkan celanamu," titah Azura. "What?!" Gavin membulatkan mata. Setelah tadi berhasil mengendap menuju apotek terdekat, kini mereka sedang duduk di selasar belakang ruko. Suasana terbilang sangat sepi, hanya ada mereka berdua saja. "Cepatlah," ucap Azura. "Kenapa kamu seperti mau memperkosaku?" Azura berdecak malas. "Gimana aku bisa mengobatimu kalau kakimu masih tertutup begitu?" "Ok, then." Meski sedikit canggung, tapi Gavin akhirnya menurut. "Ini mungkin akan sedikit perih," ucap Azura. "It’s ok." Tak ada adegan romantis seperti di cerita romansa. Mereka tidak sempat saling pandang dan tidak pula berpegangan tangan. Azura hanya membersihkan luka, memberi obat, lalu menutupnya dengan kasa. Hanya itu saja. Benar-benar hanya itu saja. Setelah semuanya selesai, mereka lantas kembali pada mode waspada. Pandangan mata mereka meniti segala arah untuk memastikan semuanya aman. Jangan sampai ada orang melihat mereka, terutama Riki. "Apa di sini aman?" Azura berguman. Tak hanya bertanya pada Gavin, Azura pun seperti sedang menanyai diri sendiri. "Aku rasa, nggak. Sama sekali nggak aman," jawab Gavin. "Benar. Tempat ini masih terlalu dekat dengan kompleks rumah keluargaku." "Kita nggak bisa tinggal di sini lebih lama lagi, Ra." Gavin berucap tegas. Berbanding terbalik dengan Azura yang masih menyimpan rasa cemas. Ada sedikit keraguan tentang apakah Gavin benar-benar bisa dipercaya. "Kamu ragu padaku?" tanya Gavin. Azura hanya diam. Cara Gavin bertanya seolah-olah lelaki itu bisa membaca isi kepala Azura. Atau, mungkin karena ekspresi keraguan di wajah Azura memang sangat kentara. "Dengar, kita harus segera menyusun rencana. Aku punya seorang teman yang bisa membantu kita keluar dari situasi ini," terang Gavin. "Siapa temanmu?" "Namanya Laura," jawab Gavin. "Dia seorang pengacara yang sangat bisa diandalkan. Aku yakin dia bisa membantu menyelesaikan kasus ini dan memberikan perlindungan." Azura belum bisa percaya sepenuhnya. Dia hanya ingin mempercayai dirinya sendiri. Namun, Gavin kembali berhasil mengubah pola pikir Azura kalau Azura sebenarnya membutuhkan bantuan dari pihak lain. Ingin menolak tawaran Gavin, tapi untuk saat ini, Azura tidak tahu harus percaya kepada siapa lagi. Selama sekian menit, Gavin terus meyakinkan dirinya atas kesanggupan untuk memberikan rasa aman. Gavin sama sekali tidak memberikan celah bagi Azura untuk melakukan penolakan. "Kamu masih curiga padaku?" tanya Gavin. Azura menatap Gavin gamang. Ingin berkata tidak, tapi nyatanya iya. Ingin berkata iya, tapi saat ini Gavin benar-benar tampak tulus padanya. "Seandainya kamu tahu kalau sejak bertemu denganmu, aku seperti memiliki kewajiban untuk melindungimu," ucap Gavin dengan sorot matanya yang sendu. Sedikit tersentuh, Azura akhirnya mengangguk. "Baiklah, kita temui Laura," katanya dengan suara sedikit gemetar. Perjalanan menuju rumah Laura cukup menegangkan. Setiap bayangan seseorang di sepanjang jalan tampak seperti ancaman. Mereka berdua sama-sama paham kalau tidak hanya Riki yang saat ini mereka hindari. Sebab, Riki memiliki banyak anak buah. Jadi, bahaya bisa datang dari mana saja dan semua orang patut diwaspadai. Gavin sesekali menggenggam erat tangan Azura. Saat berada di tepi jalan raya, Gavin juga sengaja melepas jaket untuk menutupi sebagian tubuh Azura hingga ke atas kepala. Gavin yakin, ciri-ciri baju Azura sudah ditandai oleh keluarganya. "Apapun yang terjadi, jangan lepaskan tanganku," ucap Gavin seraya terus mengedarkan pandang. Azura diam. Wajahnya semakin tegang. Meski begitu, kepalanya tampak bergerak menandakan sebuah anggukan. Semakin lama, rasa cemas semakin kentara. Untungnya, mereka berdua segera menemukan taksi untuk segera mengantar ke rumah Laura. Begitu berhasil menutup pintu mobil, keduanya sama-sama bernapas lega. "Finally," lirih Gavin dan Azura. Selama beberapa saat, Gavin lantas menyambungkan telepon. Meski tidak mendengar secara langsung, tapi Azura bisa memastikan kalau Gavin sedang berbicara dengan Laura. Terbukti, beberapa kali Gavin menyebut nama Azura dan sekelumit kasus yang sedang melilit hidupnya. "Aku sudah sedikit bercerita tentangmu, dan dia berkenan membantu," ucap Gavin seraya menyelipkan ponsel pada saku celana. Sesampainya di kediaman Laura, Azura merasa gugup. Rumah itu terlihat megah dan elegan, mencerminkan status sosial pemiliknya. Gavin menekan bel, dan beberapa saat kemudian pintu dibuka oleh seorang wanita berpenampilan profesional dengan rambut hitam yang terikat rapi. "Hi," sapa Laura yang lantas mencium pipi kanan dan kiri Gavin. "Come in." Azura mencoba tersenyum seramah mungkin. "Hai. Maaf mengganggumu malam-malam." "Kamu pasti yang bernama Azura." Senyum yang sama tercetak di bibir Laura. "Masuklah." Setelah beberapa percakapan ringan, Laura langsung masuk ke topik utama. "Jadi, Gavin bilang kamu memiliki masalah serius dengan keluargamu, Azura. Bisa kau ceritakan detailnya?" Azura menarik napas dalam-dalam sebelum mulai bercerita. "Orang tuaku terbunuh karena mereka menentang bisnis keluarga yang kotor." Azura menjelaskan situasinya dengan rinci. Mulai dari kasus penggelapan uang, perselisihan keluarga, hingga kasus kematian orang tuanya. Tak lupa, Azura juga mengatakan kalau Riki merekayasa kematian orang tuanya agar terlihat seperti kecelakaan. "Aku adalah satu-satunya saksi saat Riki melancarkan pembunuhan orang tuaku." Laura mendengarkan dengan seksama, sesekali mencatat poin-poin penting. Wajahnya menunjukkan ketegasan dan empati yang membuat Azura merasa nyaman untuk melanjutkan. "Saat ini, aku yang menjadi target mereka," lanjut Azura dengan suara bergetar. "Pamanku, Riki, adalah orang yang paling berperan dalam semua ini. Dia yang membunuh orang tuaku, dan sekarang dia mencoba memburuku." "Kasus ini sangat serius," timpal Laura. "Tapi jangan khawatir, Azura. Aku akan melakukan yang terbaik untuk membantumu mendapatkan keadilan. Kita harus mengumpulkan semua bukti yang ada dan menyusun strategi untuk menghadapi mereka." Kedua mata Azura berkaca, tapi tidak sampai menangis. Ada rasa haru sekaligus lega yang masih bercampur dengan ketakutan. Cara Azura berucap juga masih sedikit bergetar. "Terima kasih, Laura." Laura tersenyum. "Kita harus bergerak cepat. Aku akan mulai menyusun strategi pembelaan dan mengumpulkan bukti." "Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Azura. "Kita perlu memastikan keselamatanmu terlebih dahulu," jawab Laura. "Aku akan mengatur perlindungan sementara dan menyusun dokumen-dokumen hukum yang diperlukan. Kamu harus tetap waspada dan tidak muncul di tempat umum untuk sementara waktu." Malam itu, mereka membahas rencana dengan rinci. Laura mulai mengumpulkan bukti untuk mengajukan kasus ini ke pengadilan. Dia juga menelepon kolega-koleganya, mencari informasi, dan merancang langkah-langkah hukum yang diperlukan. Berangkat dari pertemuan ini, keraguan dalam diri Azura mulai terkikis habis. Kebimbangan mulai berganti dengan rasa kepercayaan. Laura terlihat tulus, pun dengan Gavin yang sejak tadi selalu mengusulkan banyak rencana. Sepertinya, soal hubungan Gavin dan Riki tadi memang hanya sebatas kesalahpahaman. Perkenalan mereka tampaknya memang hanya tentang urusan pekerjaan. Tak lagi seperti berjudi, kali ini Azura mulai mempercayai Gavin dari hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN