POV NUR

1017 Kata
Setelah selesai makan malam hari ini, aku langsung pamit ke kamar pada Mbak Wati untuk belajar, karena besok aku masih ada ujian. Aku menutup pintu kamarku, lalu mulai belajar sembari mendengarkan radio. Tanpa terasa sudah hampir tiga jam aku belajar, ku lirik jam di dinding kamarku, sudah jam 11 malam rupanya, pantas saja aku sudah mulai mengantuk. Seperti biasa, sebelum tidur aku membasuh mukaku, sembari buang air kecil di kakus belakang rumah, maklum kami belum memiliki kamar mandi sendiri. Saat akan keluar aku melewati kamar Mbak Wati dan mendengar suara Mbak Wati sedang mendesah. “Paling Mbak sedang melakukan itu” pikirku. Ya, aku memang sudah terbiasa mendengar kakakku mendesah seperti itu saat sedang bermasturbasi, aku beberapa kali bahkan memergoki Mbak Wati yang telanjang bulat menggesek gua kenikmatannya dan meremasi buah dadanya sendiri. Sebenarnya aku juga sedikit iba dan tidak enak hati dengan Mbak Wati, mungkin jika aku tidak butuh biaya sekolah, sekarang ini dia bisa menikah dan sudah mempunyai anak. Namun karena merasa masih harus bertanggung jawab atas ku, dia memilih menunda waktunya menikah. Aku membuka pintu dapur dengan perlahan agar tidak mengganggu aktivitas yang sedang dilakukan kakakku. Setelah selesai dari kakus aku kembali menuju kamarku, aku menutup pintu dapur dengan perlahan juga. Dengan mengendap endap aku berjalan sambil mendengarkan desahan demi desahan yang kakakku keluarkan. "oouuuhhhh" "aaahhhhh" Aku sungguh terkaget ketika aku juga mendengar desahan laki-laki dari dalam kamar Mbak Wati. “Hah, siapa laki-laki yang dibawa Mbak Wati? Apa dia tidak takut kalau nanti digrebeg warga?” kataku pelan. “Aaaahhh enak banget Rot, terus Rott” suara Mbak Wati cukup keras. Mendengar itu aku semakin terperanjat mendengar itu, apa mungkin itu Jarot? Apa mungkin Mbak Wati berani bermain gila dengan anak kecil seumuran Jarot? Rasa penasaranku semakin besar, dengan perlahan aku membuka sedikit pintu kamar Mbak Wati untuk melihat siapa laki-laki itu. Aku mengintip ke dalam, aku tidak bisa melihat siapa laki-laki itu, karena tertutup tubuh Mbak Wati. Mbak Wati sedang duduk dan bergoyang di atas tubuh laki-laki itu, terlihat si laki-laki sedang menyusu di p******a Mbak Wati, sambil meremas-remas p******a satunya, mereka sangat menikmati permainan mereka. Desahan demi desahan keluar dari mulut mereka bergantian. Tanpa sadar, tangan kiriku mulai meraba gua kenikmatanku, aku ikut terangsang melihat Mbak Wati bersetubuh dengan laki-laki itu. Aku merasa guaku sudah sangat basah, lendir pelicin ini mengalir begitu derasnya. Aku menggigit bibirku agar tidak mendesah. Aku terperanjat ketika tubuh Mbak Wati mengejang lalu ambruk di atas tubuh laki-laki itu. Seketika akal sehatku kembali dan menghentikan aktifitasku, dengan seksama aku memperhatikan siapa laki-laki itu. Saat mereka bertukar posisi, aku semakin terkaget melihat sosok yang sedang bersetubuh dengan kakakku. JAROT. Anak SMP itu berani-berani menyetubuhi Mbak Wati, apakah mungkin Mbak Wati yang mengajaknya ke mari? Apakah Mbak Wati suka anak kecil? Apakah Mbak Wati mempunyai kelainan? Berbagai pertanyaan terus menerus berputar di kepalaku. Tapi sebenernya yang membuatku lebih kaget adalah ukuran senjata Jarot yang begitu besar. Mungkin lebih dari 17cm, dengan lingkar yang cukup besar. Itu terlalu besar untuk anak seusianya. Akhirnya aku kembali menutup pintu kamar Mbak Wati lalu kembali ke kamarku. Jantungku berdegub begitu cepat, perasaanku campur aduk. Di satu sisi aku kecewa dengan apa yang dilakukan Mbak Wati, namun di sisi lain aku juga sedih, karena demi membiayai aku sekolah, dia rela menunda untuk menikah, hingga akhirnya harus memuaskan hasratnya dengan Jarot, bocah yang belum waktunya mengetahui hal seperti itu. Namun aku juga menjadi penasaran, seperti apa rasanya bersetubuh itu? Apakah guaku muat jika dimasuki senjata sebesar milik Jarot itu? Apa bisa masuk? Disaat berbagai pertanyaan yang berkecamuk di dalam kepalaku, tiba-tiba aku merasa ingin bermasturbasi seperti apa yang dilakukan Mbak Wati. Rasa gatal terasa begitu luar biasa di bawah sana. Segera aku menutup dan mengunci pintu kamarku, aku menyandarkan tubuhku di pintu dan menutup wajahku dengan kedua tanganku, mencoba mendapatkan kembali akal sehatku. Namun semakin aku memejamkan mataku, semakin jelas gambaran Mbak Wati yang sedang menunggoyang senjata Jarot hingga membuatnya terlihat begitu keenakan. Suara desahan mereka yang bersahutan pun semakin terdengar di telingaku. “Ahhhhhh....” desahku saat tangan kiriku menyentuh buah dadaku. Tangan kananku pun kini sudah menjalar turun mengesek-gesek pangkal pahaku yang sudah terasa begitu basah. “Ahhhhhh....” sekali lagi desahan pelan keluar dari mulutku saat jari tengahku menggesek pintu guaku yang masih tertutup daster dan celana dalamku. Aku langsung melepas daster dan celana dalamku, lalu merebahkan tubuhku di ranjang dan mulai meremas-remas kedua payudaraku. Saat telapak tanganku bersentuhan dengan puncaknya yang masih berwarna pink ini aku langsung menggelinjang tak karuan. Ini adalah pengalaman pertamaku bermasturbasi. “Ku sentuh sendiri saja begini enaknya, apalagi jika diemut seperti Mbak Wati tadi” gumanku. Tangan kananku mulai meraba perut rataku, turun ke gua kenikmatanku melewati bulu-bulu halus yang rajin ku cukur. Sampai di bibir guaku, aku langsung menggesekan jariku di sana. Terasa kenikmatan lebih aku rasakan. Aku mencoba membuka bibir guaku yang masih sangat sempit itu, mencoba memasukan jariku kedalamnya. Namun tiba-tiba aku merasakan sakit dan perih saat memaksa jari tengahku untuk masuk ke dalam gua ku. Akhirnya aku hanya menggesekannya di bibir guaku seperti tadi. Kenikmatan kembali ku rasakan hingga akhirnya aku merasa ingin pipis, lalu tiba-tiba tubuh menegang dan serrr... serrrr... aku merasakan cairan itu keluar dari dalam guaku membasahi sprei tempat tidurku. Nafasku terengah-engah merasakan kenikmatan yang baru pertama kali aku rasakan. “Pantas saja Mbak Wati sering begini, ternyata se-enak ini” kataku. Setelah beberapa waktu, nafasku kembali tenang, segera aku mengenakan kembali pakaianku. Tubuhku terasa begitu letih, lalu aku tertidur tanpa memperdulikan suara desahan yang masih ku dengar dari kamar Mbak Wati. Pagi hari ketika terbangun aku menggulung sprei ku yang basah karena cairan kenikmatanku. Mbak Wati bertanya "tumben Nur kamu mau mencuci sprei, kan hari ini tidak libur?". "Maaf mbak semalem aku mimpi pipis di sawah, jadi ngompol deh hehehe" bualku. "Pantas saja dari semalam mbak mencium bau pesing" ledeknya. "itu sih bau pipismu sendiri dan Jarot." kataku dalam hati. Aku mengambil ember, memasukan spreiku, dan membawanya ke padusan, karena kami memang belum memiliki kamar mandi, sehingga tiap pagi dan sore harus mandi di padusan. "Ayo cepetan Mbak, keburu siang" teriakku memanggil Mbak Wati untuk segera pergi mandi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN