BERBEDA

1188 Kata
Aku masih termenung kebingungan dengan perkataan Mbak Wati yang meminta pertanggungjawabanku jika dia hamil, padahal aku sendiri masih kelas 1 SMP. Apa kata tetangga jika aku yang sekecil ini sudah berani menghamili perempuan seusia Mbak Wati? Betapa kecewanya orang tuaku jika mereka mengetahui anak semata wayang kebanggaan mereka berani berbuat sejauh ini? Bagaimana masa depanku jika aku harus menikah dan putus sekolah? Bagaimana aku nanti akan menghidupi istri dan anakku jika aku diusir dari rumah? Berbagai pertanyaan lain terus berputar di kepala ku. “Heh Rot!!” Mbak Wati menepuk wajahku pelan menyadarkanku dari lamunan. “Anu Mbak, ada cara nggak biar Mbak nggak hamil? Aku takut mbak, aku masih terlalu kecil” kataku dengan bergetar, mungkin hampir menangis. “Udah itu nanti urusan Mbak, sekarang kamu pulang, sudah hampir jam satu pagi, nanti dicurigai orang.” jawab Mbak Wati. Aku sedikit tenang dengan perkataannya. Segara aku memungut celanaku dari bawah ranjang Mbak Wati. Setelah mengenakan seluruh pakaianku, aku langsung pamit dan melompat keluar melalu jendela kamar Mbak Wati. “Rot....” panggil Mbak Wati pelan saat aku akan melangkah, aku menoleh dan merapatkan tubuhku di jendela. “Makasih ya” katanya lagi lalu mengecup bibirku. “Sama-sama Mbak” jawabku sembari meremas payudaranya yang menggantung bebas. “aah... dasar bocil m***m” katanya sembari memberikan senyuman yang begitu manis. Aku melangkah pergi, tanpa menyesali apa yang baru saja aku lakukan. Bahkan ancaman Mbak Wati untuk aku bertanggung jawab pun tak lagi terlintas di otakku. Sampai di rumah Adi, aku mengendap-endap masuk lewat pintu belakang, beruntung bagiku tak ada satupun orang yang menyadari aku pergi, bahkan Adi pun terlelap begitu nyenyak saat aku kembali ke kamar. Aku melihat jam jarum pendek berada di angka satu dan jarum panjang di angka empat, tidak terasa hampir tiga jam aku bermain dengan Mbak Wati. Senyuman kepuasan masih terukir di wajaku, meski tubuhku terasa begitu lemas hingga tak butuh waktu lama aku langsung terlelap. Pagi hari aku dan Adi dibangunkan oleh ibunya karena sudah jam enam pagi, kami harus mandi dan bersiap ke sekolah. Mataku masih terasa begitu berat, sejenak aku merenggangkan tubuh dan otot-ototku, sembari menunggu Adi mandi. Beruntung aku menginap di rumah Adi, bapaknya yang seorang kades dan merupakan orang yang cukup berada di desa ini, sehingga sudah memiliki kamar mandi sendiri di rumahnya, jadi aku tidak usah capek-capek ke sungai untuk mandi seperti kalau di rumah. Setelah Adi selesai mandi, aku bergegas masuk ke kamar mandi, ku pandangi senjataku yang mengacung dengan bangga. Setelah membersihkan diri, kesegeran begitu terasa di badanku. Ini aneh, semalam aku merasa begitu lelah namun pagi ini aku seolah memiliki energi berlebih untuk menjalani hariku. Entah mengapa tubuhku terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Aku segera memakai seragamku, lalu sarapan bersama dengan keluarga Pak Kades. Setelah menyapa seluruh anggota keluarga Adi, aku duduk di sebelah Adi lalu sarapan bersama. Selesai sarapan kami berpamitan untuk sekolah, lalu menunggu angkutan pedesaan yang biasa kami naiki. Di ujung desa biasa orang-orang berkumpul menunggu angkudes, ada yang mau sekolah, ada yang mau bekerja, ada juga yang akan ke pasar besar di kota. Jarak sekolahku dengan desaku lumayan jauh, sekitar lima belas menit perjalanan, maklum saat ini untuk SMP dan SMA hanya ada di kota kecamatan, belum setiap desa memilik SMP atau SMA. Di pangkalan tempat menunggu angkot, aku dan Adi membaur dengan orang-orang, sudah ada Yudi di sana, tumben sekali dia sudah datang, padahal biasanya dia yang paling siang. “wuiiih tumben pangeran Aryo temangsang udah dateng” kataku mengejek. Temangsang adalah bahasa di kampungku yang artinya tersangkut. “Aryo temangsang gundulmu, lha aku ganteng kaya raden mas tumenggung tunggul ametung suami ken dedes gini lho. Bukan aku yang datang lebih awal kalian saja yang kerinan” jawab Yudi dengan panjang lebar. Oh iya kerinan artinya kesiangan. Maaf jika banyak bahasa daerah yang aku gunakan hingga teman-teman pembaca kurang nyaman. “Mosok sih nyuk? Perasaan kami dari rumah masih jam setengah tujuh” Jawab Adi. “Raden Mas Adi putera Bapak Kades yang terhormat, kan memang biasanya kita berangkat naik angkutan yang jam setengah tujuh tololll... kalau kalian dari rumah jam setengah tujuh ya artinya kalian yang telat blok” jawab Yudi yang disambut tawa kami. Di waktu kami sedang asyik mengobrol, Mbak Wati dan Mbak Nur datang. Aku terpesona melihat penampilan mereka berdua, Mbak Wati begitu manis dengan pakain kerja, make up tipis, dan ramputnya yang dicepol. Sementara Mbak Nur dengan seragam SMAnya membiarkan rambut sebahunya ter urai. Senyum mereka benar-benar mencerahkan duniaku. “Ya Tuhan, apa Engkau tidak kasihan jika bidadari-bidadari ini harus turun ke bumi sepagi ini?” kata Yudi. “Dasar bocil, udah pinter merayu aja” Jawab Mbak Wati sembari mengacak-acak rambut Yudi. Aku merasa sedikit kesal melihat apa yang dilakukan Mbak Wati kepada Yudi. “Bukan merayu mbak, tapi memang benar yang dibilang Yudi, Mbak Wati dan Mbak Nur itu bak ciptaan indah yang selalu membuatku bersyukur dilahirkan di kampung ini dan diperkenankan untuk melihat kalian setiap hari” timpal Adi. “Ih bocil-bocil ini pada jago banget merayu, siapa yang ngajarin hayo?” Kata Mbak Nur sembari mencubit pipi Adi. “Kamu tumben Rot diem aja, lagi sakit gigi?” Pertanyaan Mbak Wati mengagetkanku. “Eh anu mbak, itu... anu,..... aku tidak tau harus berkata apa jika melihat Mbak Wati dan Mbak Nur yang begitu cantik hehe” jawabku. “wuuuuuuu... dasar kadal pemula, rayuanmu uelek banget” “Ra mashok” timpal Yudi dan Adi. Kami semua tertawa bersama, meski sebenarnya aku masih sedikit canggung mengingat apa yang aku alami semalam. Di dalam angkudes sudah ada beberapa orang, Adi masuk lebih dulu disusul Yudi. Saat aku akan masuk ke dalam Angkudes tiba-tiba Mbak Nur mendahuluiku. Sehingga aku duduk diantara Mbak Nur dan Mbak Wati. Sepanjang perjalanan aku merasa tubuhku kaku, aku tidak tau harus berbuat apa, disebelah kananku adalah wanita yang semalam berolah raga denganku, sedang di sebelah kiriku adalah adiknya yang sudah sering aku lihat bentuk tubuhnya. Sampailah kami di kota kecamatan, kami semua turun. “Ini lima ya pak” kata Mbak Wati sembari memberikan selembar uang sepuluh ribuan kepada pak sopir. “Wokey Wat, adekmu nambah to sekarang? Hahaha” kata pak sopir. “Makasih ya mbak, malah kami dibayarin juga” kataku. “sama-sama Rot” ucap Mbak Wati. “Wah asyik, sering-sering ya mbak, lumayan uang jajanku jadi nambah, nanti pulangnya dibayarin lagi nggak mbak?” seloroh Yudi. “Hush, cocotmu Yud, nggak duwe isin blas” hardikku. “Namanya juga usaha Rot” celetuk Adi. Mbak Wati dan Mbak Nur tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat kami. Akhirnya kami berpisah, aku, Adi, dan Yudi menyebrang menuju ke sekolah, sementara Mbak Wati dan Mbak Nur berjalan ke utara menuju mini market tempat Wati bekerja yang bersebelahan dengan SMA Mbak Nur yang berjarak sekitar tiga ratus meter dari sekolah kami. “Rot, Yud, kalian ngerasa ada yang aneh nggak sih? Ada yang berbeda dari sikap dua bidadari desa kita itu.” Kata Adi sembari berjalan. “Apa iya? Menurutku sih biasa saja” jawabku. “Iya ada yang beda dari mereka, nggak biasanya mereka se-akrab ini dengan kita. Tapi bodo amatlah, penting ngangkote gratis hahahaha” seloroh Yudi Asal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN