ANAK BARU

1138 Kata
Bel tanda masuk sudah berbunyi, kami langsung duduk di tempat kami masing-masing. Kami bertiga duduk di dua meja paling belakang dekat jendela, tempat terbaik untuk ngobrol, bermain kartu, dan memantau gadis-gadis dari kelas lain yang akan pergi ke toilet, karena posisi toilet siswa berada di ujung sekolah sehingga harus melewati kelas kami. Tak berselang lama, Bu Dian, wali kelasku, masuk bersama seorang murid baru. Dia sangat berbeda dibanding teman-teman perempuan di kelasku, bahkan seluruh perempuan di sekolah. “Selamat pagi anak-anak, sebelum kita memulai pelajaran pada hari ini, Ibu akan memperkenalkan teman baru kalian yang baru pindah dari kota X, Shaura, silakan perkenalkan diri kepada teman-teman kamu” kata Bu Dian. “Halo teman-teman, kenalin namaku Shaura Azalia Christa, kalian bisa memanggilku Shaura atau Ara. Aku pindahan dari SMP X, di sini aku tinggal bersama tanteku yang juga bekerja di sini. Semoga kalian bisa menerima aku dan kita bisa berteman dengan baik.” Kata Shaura. “Halo Shauram eh Shaura, selamat datang di kelas VII B, aku Yudi bukan siapa-siapa di kelas ini. Tapi aku adalah murid terlucu di sekolah ini” sahut Yudi tanpa malu. “HUUUUUUUUUUUUUU” suara teman-temanku menyoraki Yudi. “Lucu enggak dekil iya kalau kamu Yud.” Ucap salah satu teman. “oalahasu” Yudi ngedumel, Aku dan Andi hanya tertawa melihat ekspresi kecut muka Yudi. “Halo salam kenal Yudi” kata Shaura sembari melambaikan tangan. “Ya Tuhannn, seperti inikah cintaku, weeerrrrrrr” kata Yudi sembari memegangi dadanya dan menggetarkan tubuhnya seperti orang kesetrum. Sekali lagi gelak tawa menggelegar di kelas kami. “ Sudah sudah, cukup. Ara, kamu duduk di sebelah Jarot di belakang dulu ya.” Kata Bu Dian. “Baik tante, eh Bu Dian” jawab Shaura. “Oh ponakannya Bu Dian to, tapi kok wajahnya beda banget” gumamku dalam hati. “Silakan permaisuriku” kata Yudi sembari menarikan kursi di sebelahku. “Terima kasih Yudi. Maaf, aku duduk di sini ya?” katanya memastikan. “Iya gapapa, duduk aja, aku Jarot” kataku sembari menjulurkan tangan. “Hai, Shaura” jawabnya sembari menjabat tanganku. “Shaura” katanya menyapa Adi. “A...a...aku Aaaaaaa....” “SUUUUUU” Yudi memotong Adi yang terlihat sangat gugup pada Shaura. “Dia namanya Adi Ra, dia emang suka grogi gitu, soalnya phobia cewek” Yudi kembali nerocos. Kami bertiga tertawa, sementara Adi terlihat menekuk kecut mimik mukanya. “Heh kalian berempat, kalau mau ngobrol silakan di luar, jangan di kelas Ibu” bentak Bu Dian. Kami langsung beringsut namun masih tetap cekikikan. Bel istirahat berbunyi kami keluar dari kelas. “Eh guys di sini kantinnya dimana ya?” kami bertiga terbahak mendengar pertanyaan Shaura. “Ra, di sini ga ada kantin, kita biasa jajan di warung Mbok Tem di belakang sekolah” Jawabku. “Oh gitu, btw kenapa namanya Mbo Tem? Emang nama lengkapnya siapa?” tanya Shaura lagi. “TEMP...” belum sempat berlanjut ku bungkam mulut Yudi. “Katemi Ra” Jawab Adi yang sudah tidak terlalu gugup. Kami berjalan ke warung Mbok Tem karena memang sudah lapar, dari jauh aku melihat disana banyak anak kelas IX, rata-rata yang di sana memang anak laki-laki karena mereka boleh merokok di sana. “Uayune cah, boleh kenalan kan?” seloroh mereka ketika kami masuk. “Nggak, ini pacarku” kata Adi tiba-tiba. Mereka tak berani menjawab karena tau siapa orang tua Adi. “Duduk Ra” kata Adi menjuk bangku sebelahnya. Aku dan Yudi saling pandang, kami tidak menyangka anak terculun diantara kami bisa se-jantan itu. “Makasih sayang” jawab Shaura dengan manja dan sedikit centil, membuat wajah anak-anak kelas IX menjadi kecut. “Rot, atiku Rott, remukkkk rott.” Bisik Yudi sembari menundukan kepalanya di bahuku. “Sabar dek Yudi, cinta memang tak selamanya indah, tapi kalau boleh aku memberi saran, jangan keseringan ngocok ya” kataku. Kami kembali tertawa, lalu memesan beberapa makanan. Setelah terdengar bel, kami buru-buru kembali ke kelas. “Makasih ya Di, tadi udah bantuin aku, tapi maaf aku belum mau pacaran” kata Shaura. “Santai saja Ra, aku melakukan itu biar anak kelas IX itu nggak gangguin kamu, karena mereka pasti takut sama bapakku.” Jawab Adi dengan senyum. “Alhamdulillah Gusti, ternyata kesempatan itu masih ada” seloroh Yudi sembari mengusap wajahnya. Kami kembali tertawa. Hari ini memang begitu menyenangkan, banyak hal yang terjadi tak pernah kami bayangkan sebelumnya. Saat pulang sekolah kami sama-sama berjalan ke luar kelas, “kalian hati-hati ya pulangnya, aku masih di sini nunggu tante Dian” kata Shaura. “Oke Ra, kamu juga hati-hati ya bidadariku” jawab Yudi mewakili kami. Kami melambaikan tangan sembil berjalan menuju ke pintu gerbang. Saat menunggu angkot, tiba-tiba aku kebelet BAB, sial memang. “Eh cah, aku kepising, tungguin bentar ya” kataku pada dua temanku. “Dasar silit tidak pernah makan bangku sekolahan. Yaudah sana cepet” kata Yudi. “Sejak jaman dinosaurus kan silit tu buat beol bukan buat makan t***l” gerutu ku. Aku berlari sekuat tenaga agar segera sampai di toilet sekolah. Setelah lega, aku keluar toilet, aku kaget karena Shaura sudah ada di samping pintu toilet. “Habis ngapain Rot?” pertanyaan yang membuatku jantungku hampir copot. “Ara, hampir aja jantungku copot Ra, kamu ngapain di sini?” kataku. “Ih nggak sopan, ditanya malah balik nanya.” Katanya dengan wajah cemberut. “Habis BAB, kenapa mau cium tanganku? Ahahaha” jawabku sembari menjulurkan tangan kiriku. “Ih najis,... aku kira kamu habis ngocok hahaha” jawabnya sembari meledekku. DEG. Kembali aku kaget, mendengar perkataan Shaura. “Emang kamu tau aku pernah ngocok?” tanyaku. “Kan tadi kamu sendiri yang bilang sama Yudi jangan keseringan ngocok, berarti kalian pernah hahaha”. “ Emang kamu tau ngocok itu apa?” tanyaku lagi. “Taulah, kehidupan di kota lebih keras brother” jawabnya santai. "Emang apaan coba?" godaku. "Ya itumu di urut-urut sampai keluar pejunya". Aku masih tak percaya, murid yang baru sehari aku kenal bisa berbicara sebegitunya denganku. "Heh.... malah ngelamun" katanya. "Ka...ka... kamu tau dari mana Ra? jangan-jangan kamu pernah melakukannya?" aku ikut-ikutan menjadi Gagap seperti Adi tadi pagi. " Iya aku udah pernah, kenapa? kamu mau coba?" godanya sembari menggigit bibir bawahnya. "sial, godaan apalagi ini" gerutuku dalam hati. Cukup melihat tubuh Shaura yang lebih besar segala-galanya dibanding teman-temanku yang lain, sudah membuatku bernafsu. Buah dadanya yang cukup besar untuk anak seusiaku hingga logo osis itu terlihat begitu bulat menggoda. Wajahnya yang imut khas wajah oriental, bibirnya yang tipis, kulitnya yang putih mulus, sungguh menakjubkan. Ditambah pengetahuannya soal s*x, membuat Shaura semakin sexy di mataku. Entah sejak kapan ternyata senjataku sudha menegang hingga membuat gundukan di celanaku. "Enggak ah Ra, jangan sekarang waktunya nggak tepat" jawabku. "Nggak kasihan rot sama yang udah bangun itu? kayanya senjatamu gedhe ya Rot. hahaha" kata Shaura sambil tertawa, yang membuatku reflek menutup celanaku dengan kedua tangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN