Kemarin aku langsung pulang ke rumah Tante Dian setelah mengantar mamah ke bandara. Sebenarnya aku sangat sedih harus berpisah kembali dengan mamah, beruntung Tante Dian mau menerimaku, dan sangat sayang kepadaku. “Maaf ya Ra, rumah tante kecil dan sempit” kata Tante Dian saat kami memasuki rumahnya. Rumah Tante Dian memang tidak terlalu besar cenderung minimalis, namun tertata rapi, bersih, dan sangat nyaman. Maklum, di sini dia tinggal sendiri. Setelah perceraian mamah dan ayah tiriku, aku harus ditinggal sendiri. Aku terpaksa pindah sekolah dan dititipkan kepada Tante Dian oleh mamah karena mamah sebentar lagi akan berangkat kembali ke Jepang, bekerja sebagai TKW. Sekolahku yang baru cukup jauh dari kota, kurang lebih butuh perjalanan sekitar dua jam dari rumahku yang di kota. Awalnya aku merasa tidak akan betah berada di tempat baru ini, meski katanya ini adalah sebuah kota kecamatan, namun sangat jauh berbeda dengan suasana hingar bingar kota. “Ra, ini kamar kamu ya.” Kata Tante Dian menunjukan sebuah kamar berukuran 3x3 dan dicat warna pink, warna favoritku, sepertinya dia memang sudah mempersiapkan kedatanganku. “Terima kasih tante” jawabku. Aku langsung menata barang-barangku, lalu pergi mandi. Setelah selesai mandi aku merebahkan diriku di ranjang single bed yang nyaman ini.
Tante Dian, adalah adik dari mamahku, berusia 24 tahun berjarak sepuluh tahun dengan mamah. Dia adalah seorang guru di sebuah SMP yang akan menjadi sekolah baruku. Aku sendiri kadang bingung, kenapa Tante Dian belum menikah, padahal menurutku dia adalah sosok yang sempurna. Wajahnya cantik khas wanita jawa, kulitnya kuning langsat, tingginya semampai, dan yang paling menarik adalah d**a dan bokongnya yang begitu besar dan sexy. Tentunya itu sangat menarik setiap laki-laki yang melihatnya, bahkan aku sendiri kadang berharap untuk bisa memiliki tubuh sepertinya. Dia tinggal di sini sendiri, karena kakekku sudah meninggal saat Tante Dian dan mamah masih sekolah, sedang nenekku meninggal saat Tante Dian baru lulus kuliah.
Hari ini aku mulai pindah ke sekolah yang baru, tempat di mana Tante Dian, bekerja. Aku sedikit aneh melihat seragam anak-anak di sini, hampir semuanya memakai seragam yang seolah kebesaran untuk mereka, sedang aku memakai seragam ketat dan sexy. Semenjak memasuki gerbang sekolah, aku merasa seperti orang aneh yang menjadi pusat perhatian, hampir setiap mata menatap kepadaku namun tak berani menegurku karena aku berjalan bersama Tante Dian. “Ara, kamu tunggu sini dulu ya, tante ada brieffing dulu sebelum mengajar, nanti tante samperin setelah bel” kata Tante Dian menunjuk sebuah tempat seperti ruang tunggu di samping ruang guru. “Iya tante” jawabku. Tak berselang lama, beberapa anak laki-laki mulai menggodaku, entah mereka kelas berapa, tebakanku mereka adalah kakak kelas. “weeehhh ada cici cantik nih, boleh kali kenalan” kata salah satu dari mereka. “kelas berapa manis?” timpal yang lain. “ayok mas anter ke kelas, apa mau ke pelaminan aja?” kata yang lainnya. “apaan sih, gaje” jawabku sembari memalingkan muka, karena jujur aku merasa risih dengan yang mereka lakukan.
Untung saja bel segera berbunyi. “Ara, ayo kita ke kelas” ajak Tante Dian. Aku mengikutinya dari belakang. “kamu nanti masuk di kelas VII B, tapi kalau di sekolah panggilnya Bu Dian ya, bukan tante, karena biar bagaimana pun tante ini guru kamu kalau di sekolah” kata Tante Dian. Aku menganggukan kepala tanda mengerti. Kami masuk ke kelas, semua mata terfokus padaku, seolah akan menerkamku. Tante Dian memperkenalkan aku, dan memintaku memperkenalkan diri pada teman-teman baruku. Ada satu orang anak laki-laki bernama Yudi, yang mengaku sebagai murid terlucu di sekolah, tapi memang sih menurutku banyolan dan setiap celetukan yang keluar dari mulutnya lucu. Lalu Tante Dian menyuruhku duduk di bangku paling belakang, karena memang hanya tersisa satu tempat itu di kelas ini. Aku duduk bersama seorang murid laki-laki yang akhirnya aku tau bernama Jarot. Di depanku ada Yudi dan sebelahnya Adi. Aku langsung akrab dengan tri mas kenthir ini. Aku menyebut mereka begitu karena memang mereka aneh dan lucu menurutku. Yudi yang doyan membanyol, Jarot yang cool namun supel, ada Adi yang paling ganteng diantara mereka namun grogian jika dengan perempuan, bahkan menurut Yudi, Adi ini phobia dengan perempuan hahaha.
Saat istirahat aku menanyakan lokasi kantin kepada mereka karena memang aku sudah merasa sangat lapar, tapi kata mereka di sini tidak ada kantin, hanya ada beberapa warung di sekitar sekolah tempat mereka biasa membeli makanan dan menghabiskan waktu istirahat. Mereka biasa jajan di warung Mbok Tem. Aku sempat berfikir bahwa namanya adalah warung Mbok t****k, yang di daerahku artinya adalah alat kelamin perempuan. Ternyata itu adalah singkatan dari nama pemilik warung yang bernama Katemi. Namun saat akan ke sana, aku melihat begitu banyak murid laki-laki yang sedang nongkrong, bahkan sebagian besar dari mereka merokok. Seperti yang terjadi sebelumnya, anak-anak kembali menggodaku. Namun Adi dengan lantang membelaku dan menyebut aku sebagai pacarnya. “Rot, atiku Rott, remukkkk rott.” Bisik Yudi sembari menundukan kepalanya di bahu Jarot. “Sabar dek Yudi, cinta memang tak selamanya indah, tapi kalau boleh aku memberi saran, jangan keseringan ngocok ya” kata Jarot. Kami tertawa, namun dalam hati aku tidak menyangka bahwa anak-anak di sini sudah sejauh itu tingkahnya, dan seketika aku teringat ayah tiriku, tentang apa yang sudah dia lakukan padaku, tentang apa yang dia lakukan hingga membuat mamah begitu kecewa, marah, bahkan membencinya. “Makasih ya Di, tadi udah bantuin aku, tapi maaf aku belum mau pacaran” kataku pada Adi saat kami kembali ke kelas. “Santai saja Ra, aku melakukan itu biar anak kelas IX itu nggak gangguin kamu, karena mereka pasti takut sama bapakku.” Jawab Adi dengan senyum. “Jangan-jangan Adi ini memang beneran nggak suka cewe” batinku.
Tidak terasa sudah waktunya pulang sekolah, aku berpisah dengan tri mas kenthir karena masih harus menunggu Tante Dian selesai. Aku tersenyum-senyum sendiri atas apa yang aku alami hari ini. Aku bertemu dengan teman-teman baru dan diterima dengan baik oleh mereka, bahkan aku bisa langsung akrab dengan teman-teman baruku, terlebih tri mas kenthir. Tak lama setelah itu, aku melihat Jarot berlari dengan cepat ke arah toilet. Aku penasaran dan khawatir dengan apa yang dialaminya, langsung menyusulnya. Aku menunggu di depan pintu toilet laki-laki. Saat Jarot keluar aku mengagetkannya, dia mengatakan kalau dia habis BAB, bahkan dia memintaku mencium tangan kirinya. “Ih najis,... aku kira kamu habis ngocok hahaha” kataku menggodanya “Emang kamu tau aku pernah ngocok?” tanyanya. “Kan tadi kamu sendiri yang bilang sama Yudi jangan keseringan ngocok, berarti kalian pernah hahaha”. “ Emang kamu tau ngocok itu apa?” tanya Jarot. “Taulah, kehidupan di kota lebih keras brother” jawabku santai. "Emang apaan coba?". "Ya itumu di urut-urut sampai keluar pejunya" Jelasku. Jarot bengong mendengar perkataanku, "Heh.... malah ngelamun" kataku. "Ka...ka... kamu tau dari mana Ra? jangan-jangan kamu pernah melakukannya?" tanya Jarot dengan gagap. "Iya aku udah pernah, kenapa? kamu mau coba?" jawabku ngawur. Entah apa yang dipikirkan jarot, aku melihat di bawah perutnya ada yang semakin membesar, aku geli melihat reaksi anggota tubuh Jarot itu "Enggak ah Ra, jangan sekarang waktunya nggak tepat" kata Jarot. "Nggak kasihan rot sama yang udah bangun itu? hahaha" ejekku, Jarot langsung berlari meninggalkanku dengan kedua tangan. Aku tertawa melihat Jarot yang salah tingkah itu.