Setelah makan malam bersama Nur adikku, dia pamit ke kamar lebih dulu untuk belajar karena besok dia akan mengikuti try out persiapan ujian akhir. Aku masih duduk menonton TV sendirian. Entah kenapa pikiranku tiba-tiba terbayang pada Jarot yang aku kerjai tempo hari di padusan. Aku teringat betapa menggemaskannya wajah Jarot ketika ku permainkan waktu itu. Seketika libidoku naik saat teringat senjata Jarot yang cukup besar untuk anak seusianya, mungkin ukurannya sekitar 18cm dan sepertinya genggamanku tak mampu memegang senjata itu sepenuhnya. Ah sial, kenapa pikiranku semakin kacau, aku terus membayangkan jika senjata itu menerobos masuk ke dalam guaku, pasti akan penuh dan nikmat sekali. Hasratku semakin menggebu membayangkan itu, aku sudah tidak fokus lagi pada sinetron yang sedang aku tonton. Segera aku mematikan TV dan mengganti lampu yang lebih redup untuk ruang tamu dan ruang tengah, supaya hemat listrik hehehe. Maklum saja, aku dan adikku sudah yatim piatu, sehingga aku harus bekerja sebagai buruh di pabrik untuk biaya hidup dan sekolah adikku, jadi aku tidak boleh boros dalam berbagai hal. Setelah masuk ke dalam kamar, aku meraba selangkanganku yang terasa sudah sangat basah terbayang senjata milik Jarot. Baru saja akan ku mulai aksi solo ku, tiba-tiba ada yang mengatuk jendela kamarku. “Siapa itu?” tanyaku pada orang itu, tapi dia tidak menjawab. Aku membuka jendela untuk mengecek keadaan, namun tidak ada siapapun. Baru aku menutup jendela, kini pintu depan yang diketuk, “siapa sih ini orang? Ganggu orang aja” gerutu ku. Aku membuka pintu dan celingak-celinguk melihat ke kiri kanan, tak ada siapapun. “Awas aja ya, kalau ketemu tak jitakin kepalamu” ancamku pada kegelapan sembari mengepalkan tanganku. Aku kembali ke kamar, dan tak menyadari jika jendelaku belum ku kunci. Segera aku menyingkap daster yang aku kenakan dan melepaskan celana dalamku, yang ku lemparkan entah kemana. Aku mulai meremas buah dadaku sendiri, sembari memainkan putingnya. “aaahhhh” aku mendesis mulai merasakan kenikmatan yang menghampiriku. Tangan kananku mulai meraba gua ku yang sudah sangat basah. “AAAHHHHH” desahku agak keras ketika jari tengahku menyentuh bibir vaginaku, jemariku mulai menggesek naik turun di bibir guaku, berusaha mencari daging kecil yang disebut i**l. Ketika jari tengahku berhasil menemukan itilku langsung aku gesek naik turun. Kini tak hanya gesekan, jari tengahku mulai masuk ke dalam gua ku yang sudah sangat basah. “Aahhhh Jarot, enak rot, terusss.....” tanpa sadar aku meracau memanggil nama Jarot, karena memang aku bermasturbasi sembari membayangkan senjata Jarot menghujam gua ku. Saat aku hampir mencapai puncak, tiba-tiba ada seorang keluar dari kolong tempat tidurku. “Lagi ngapain mbak?” tanyanya. “JAROTTTT, bagaimana kamu bisa ada di sini?” tanyaku sembari reflek menurunkan dasterku. Wajahku memerah, bukan hanya karena nafsuku yang belum tuntas, tapi lebih kearah malu, karena aku ketahuan bermasturbasi oleh orang yang aku bayangkan. “Aku masuk lewat jendela waktu mbak membuka pintu depan tadi” kata Jarot. Saat itu Jarot hanya tinggal menggunakan kaos saja, celananya entah berada dimana. Nafasku masih tersengal-sengal karena aktivitasku yang belum tuntas, dan melihat senjata Jarot yang mengacung dengan kerasnya. “Aku boleh duduk mbak?” tanya Jarot yang kembali mengagetkanku. Aku hanya mengangguk pelan dan menggeser posisi dudukku. Dia menengkanku dengan menyuruhku menarik nafas dan membuangnya beberapa kali. Setelah agak tenang dia bertanya kenapa aku memanggil namanya tadi, aku menjawab apa adanya, kalau aku teringat kejadian di padusan, dan membuat hasratku naik.
“Terus kenapa nggak dilanjut mbak?” tanyanya lagi. Aku jujur merasa sangat malu ketahuan melakukan solo karir oleh Jarot. “Kenapa mesti malu mbak, kan Jarot sering lihat tubuh mbak yang sexy ini” kata Jarot sembari tangan kananya meremas payudaraku. “uughhhhh” seketika aku mengeluh merasakan jamahan tangan pria yang kedua kalinya di payudaraku. “Sialan memang si Jarot, makin kurang ajar saja dia” batinku. Dia menawarkan diri untuk membantuku mencapai kepuasan, dan berjanji ini akan menjadi rahasia kami. Nafsuku yang sudah di ubun-ubun membuatku langsung mencium bibirnya. Bibir Jarot terasa begitu manis, meski dia masih terasa begitu kaku saat berciuman. “Dasar perjaka pemula, nafsu doang gede, skill nol besar” batinku. Aku mencoba memasukan lidahku ke dalam mulutnya. Lidah kami saling bergulat, aku mengarahkan tangan Jarot ke dadaku, dia mulai meremas-remas bukit kembarku yang sebelah kiri, sehingga aku semakin bernafsu. “Kita telanjang saja yuk rot” kataku yang sudah dibutakan nafsu. Tanpa menunggu jawabannya, aku langsung menarik kausnya dan melepaskan dasterku. Kini kulit perawan yang sedikit tua dan perjaka kecil sudah saling bersentuhan, tanpa terhalang sehelai benang pun. Aku meraba dadanya yang begitu bidang, lalu turun mengelus senjatanya. Aku rebahkan diriku di ranjang, tanpa perlu ku suruh, Jarot langsung melahap gunung kembarku dengan rakusnya. Dia meremas, menghisap, menjilat, menyedot, dan kadang menggigit putingku, sehingga meninggalkan beberapa bercak merah di dadaku. Lalu ciumannya turun ke perutku, hingga sampailah dia di pangkal pahaku. “uuuughhhhh.. ahhhh enak rot” tiba-tiba desahan keluar dari mulutku. Membuatnya semakin ganas menciumi gua kenikmatanku. Aku menyuruhnya mencari itilku, lalu dia langsung memainkan dengan lidahnya. Sungguh permainanya begitu luar biasa, membuatku kelonjotan merasakan gelombang kenikmatan. Tanpa sadar beberapa kali aku menjepit kepalanya dengan pahaku, dan ku tekan agar dia melakukan lebih dalam lagi ke guaku. Hingga aku merasa sebentar lagi aku akan mencapai puncak, dia tiba-tiba berhenti. “Rot kenapa berhenti?” tanyaku kecewa, karena tinggal sedikit lagi aku mencapai puncak. “Aku capek mbak” jawabnya singkat yang membuatku semakin kesal. “Ayolah Rot, mbak sedikit lagi keluar” aku merengek seperti anak kecil yang minta dibelikan es krim, karena memang ini sangat nanggung sekali. Lalu Jarot menggunakan jarinya mengelus-elus guaku. Nafsuku kembali bangkit. “yaa enak Rot di situ, gesekin yang kenceng...” kataku seperti orang kesetanan. Aku sudah tak peduli lagi akan seperti apa image-ku di mata Jarot. Aku kembali merasakan kenikmatan saat jari tengahnya menerobos masuk ke dalam guaku. “ahhhhhh... kocok yang kenceng Rot, mbak mau sampai” kataku. Tiba-tiba Jarot kembali menghentikan aktifitasnya. “Kenapa berhenti lagi Rot?” tanyaku sedikit kesal. “Aku capek mbak”. “Sialan, sepertinya anak ini sengaja mempermainkanku. Jangan-jangan dia dendam atas apa yang ku lakukan padanya tempo hari” pikirku. “Ayolah Rot, lanjutin lagi, dikit lagi ini” aku kembali merengek pada bocah kecil sialan ini. Kalau saja bukan karena senjatanya membuatku penasaran, aku tak akan pernah sudi seperti ini. "dasar b******n kecil kamu Rot, aku bakalan teriak biar warga ke sini terus kamu diarak telanjang keliling kampung karena memperkosaku" ancamku. "Silakan mbak, karena bukan aku yang akan diarak, tapi kita. Warga pasti tidak percaya anak sepertiku akan berani berbuat kurang ajar begini" jawabnya begitu santai. “Benar juga, di sini warga tidak akan percaya anak kelas 1 SMP berani memperkosa gadis seusiaku. Sialan memang b******n kecil satu ini” batinku. Aku terdiam, tak bisa menjawab perkataanya. “Jadi gimana mau lanjut nggak?” tanyanya. Aku yang masih teramat kesal memilih diam tak menjawab, hingga dia mengancam akan pulang. Ah sialan, kenapa bisa aku dipermainkan oleh bocah ini. Aku meminta dia untuk meneruskan apa yang sudah kami mulai. "Kalau mau diterusin, bilang dulu, Jarot yang ganteng, yang baik tolong puasin aku, mulai malam ini aku siap menjadi lontemu” jawabnya. “Anjing, berani sekali anak kecil ini mempermainkanku, bahkan merendahkanku seperti ini” umpatku dalam hati. Sialnya urusan m***k tidak sejalan dengan hati nurani dan pikiran. Akhirnya aku berkata"Jarot yang ganteng, yang baik, tolong puasin aku dan mulai malam ini aku siap menjadi lontemu". “Baik kalau itu yang mbak mau, akan ku bantu semampuku.” Jawabnya. “b*****t, benar-benar bocil ini mempermainkanku” batinku lagi. Langsung kepala Jarot kembali tenggelam di dadaku. Bukan hanya mulutnya, namun tangannya begitu liar meremas payudaraku. Membuatku kembali kelonjotan. Ciumannya kembali turun menuju ke selangkanganku. Aku menyuruhnya untuk kembali mencari itilku, yang membuatku semakin keenakan. “aaahhh.... ahhhhhh.... enak rotttttt, terus rotttt, jilat terus.” Kembali aku meracau merasakan kenikmatan dari kasarnya lidah Jarot memainkan itilku. Tak ingin kecolongan lagi, aku menjepit kepalanya dengan kuat menggunakan pahaku, dan menahannya dengan tanganku. “Ahhhhh ughhhhhh Jarooottttttt” aku mendesah, tubuhku menegang. Akhirnya cairan kenikmatanku keluar dengan derasanya membasahi mulut Jarot. “Satu-satu ya mbak” kata Jarot sembari menyeringai puas kepadaku. Nafasku yang masih terengah-engah menikmati orgasmeku, membuatku tak menjawab ocehan Jarot.