Setelah melihat nafas Mbak Wati mulai tenang, aku yang kepalang tanggung langsung memainkan payudaranya kembali. Tangan kiriku mulai meremas p******a sebelah kanannya, sementara p******a sebelah kiri kuhisap dengan lahap. Mbak Wati kembali menggeliat ketika aku mulai menjilati dan menggigit pelan ujung bukit empuk berwarna coklat gelap itu. "aaahhhhh...." kembali desahan keluar dari mulutnya. "Sebentar Rot, karena tadi kamu sudah kasih kenikmatan yang luar biasa kepada mbak, sekarang gantian mbak yang bakalan puasin kamu" kata Mbak Wati. Segera dia bangkit dari tidurnya, lalu membaringkanku. Akupun menuruti saja apa yang akan dilakukan Mbak Wati kepadaku. Setelah aku terlentang, tiba-tiba Mbak Wati mencium bibirku, terasa lidahku dihisap oleh Mbak Wati, rasanya begitu nikmat, belum pernah aku merasakan seperti ini. Merasa diajari oleh Mbak Wati, aku pun mencoba untuk menyedot lidahnya. Kini bibir bawahku terasa digigit lembut oleh Mbak Wati, aku semakin menikmati permainan mulut kami. Tangan kananku mengusap punggung mulus Mbak Wati, sementara tangan kiriku memainkan adik kecilku dibawah sana. Belum lama aku memainkan senjataku, tanganku langsung ditahan oleh Mbak Wati "sabar, belum waktunya ke situ". Lalu Mbak Wati mencium dan menjilati leherku, geli-geli enak yang ku rasakan, sulit menggambarkan apa yang dirasakan seorang anak SMP yang belum pernah disentuh wanita, diperlakukan begitu. Ciumannya berangsur turun ke dadaku. Mbak Wati menjilati pentilku, seperti apa yang ku lakukan padanya. Ternyata senikmat ini rasanya, pantas tadi Mbak Wati selalu mendesah jika aku menjilati putingnya. Tanpa sadar aku melenguh "aahhhh, mbakkk...". Mbak Wati tidak menggubris, dia melanjutkan aktivitasnya turun ke perut, menjilati pusarku, aku semakin kelonjotan dibuatnya. Ketika sudah mendekati senjataku, dia tiba-tiba bangun. "Sial, apa dia mau balas dendam kepadaku" batinku. "Mbakkkkk..." rengekku. "Sssttt, jangan berisik, nanti adekku curiga, aku cuma mau ambil tisue basah untuk membersihkan adekmu itu, pasti kotor, aku nggak mau kaya kamu yang main sikat aja" jawab Mbak Wati. Tak sampai sepuluh detik, dia sudah kembali ke ranjang, dia mengambil dua lembar tisue basah untuk membersihkan senjataku. Saat senjataku tersentuh tisue aku merasakan kenikmatan lain, "aaahhhhhh" tiba-tiba aku mendesah. "sstttt, jangan kenceng-kenceng Rot" hardik Mbak Wati. "Maaf mbak, habis enak" jawabku malu-malu. Wajahku terasa panas karena malu. Tiba-tiba Mbak Wati memasukan senjataku kedalam mulutnya. Ini benar-benar nikmat, aku merasa begitu keenakan, saat lidah Mbak Wati seperti menggelitiki senjataku. Kepala Mbak Wati naik turun mengocok senjataku, aku hanya bisa menutup mulut agar tak mendesah. Sesekali Mbak Wati mengeluarkan senjataku, dan menjilatinya. Bukan hanya senjataku, bahkan sampai ke kantung menyannya. Setiap sapuan lidah Mbak Wati mengenai kulitku, rasa geli dan nikmat menjalar ke seluruh tubuhku, hingga aku kelonjotan ke kanan ke kiri. Tak sampai lima menit, aku merasa ada yang mau meledak dari senjataku, terasa lahar panasku akan keluar sebentar lagi. Tanpa sadar, aku menekan kepala Mbak Wati, agar senjataku masuk lebih dalam dan crooottt, lahar panasku tumpah di dalam mulut Mbak Wati. Nafasku tersengal-sengal merasakan kenikmatan yang baru pertama kali ku rasakan. "Sialan kamu rot, kenapa kamu tahan kepalaku" racau Mbak Wati setelah memuntahkan spermaku dari mulutnya. "Maaf Mbak, kepelasan, habis mulut Mbak enak banget hehehe" jawabku.
Aku bersandar pada dinding dan mengatur nafasku yang tersengal-sengal setelah mengeluarkan lahar itu. Aku kaget ketika melihat senjataku masih mengacung tegak. "Biasanya kalau udah keluar kan tidur, kok ini masih keras aja" batinku. Mbak Wati terlihat cikikikan melihat aku yang bingung kenapa senjataku masih tegak berdiri. "Wah hebat kamu rot, udah keluar aja masih berdiri gitu, senjatamu luar biasa memang rot, udah besar, awet lagi" kata Mbak Wati sambil menahan tawanya. "Ada yang ga beres nih" pikirku, "iya Mbak, aku juga bingung, bisanya kalau habis keluar langsung tidur, ini malah tegak banget." jawabku. "Rot, kamu mau yang lebih enak?" tanya Mbak Wati menggodaku, sembari memainkan senjataku. "Apa mbak?" tanyaku balik. Mbak Wati tidak menjawab, namun tetap mengocok senjataku sembari menyodorkan payudaranya ke mulutku. Aku yang selalu bernafsu pada p******a wanita, langsung saja melahapnya. "aahhhh,..." kembali Mbak Wati mendesah. Tangan kananku yang berada dibawah tubuh Mbak Wati berusaha menemukan gua kenikmatanya, setelah itu langsung ku elus-elus, sembari sesekali memasukan jariku. "Ahhh rot, mbak udah ga tahan nih" desah Mbak Wati, tanganku pun merasakan sudah sangat basah di bawah sana. Mbak Wati bangkit, lalu duduk diatasku, digesek-gesekannya senjataku ke lubangnya. Aku merasakan nikmat yang berbeda kembali, meski tak senikmat waktu diemut, namun ini cukup nikmat. Dengan sedikit menghentakan tubuhnya, tiba-tiba senjataku amblas kedalam gua Mbak Wati. "uuughhhhh" "aaaaaahhhhh" desah kami bersamaan saat burungku berhasil masuk ke sarangnya. Dengan perlahan Mbak Wati mulai menggoyangkan pantatnya naik-turun menggenjotku. Aku merasa senjataku disedot dan diurut oleh m***k Mbak Wati. "aaahhh mbakkk, kenapa m***k mbak seenak ini" kataku. Benar-benar nikmat yang aku rasakan, senjataku serasa diperas, disedot, pokoknya ini adalah puncak dari semua kenikmatan yang aku dapatkan malam ini. "Kontolmu juga enak rot, gede, m***k mbak kerasa penuh." jawab Mbak Wati kasar. Aku menikmati setiap goyangan Mbak Wati. Melihat payudaranya yang bergoyang-goyang, tanganku langsung menangkap dan meremasnya. Ku plintir-plintir putingnya hingga Mbak Wati semakin kelonjotan. Semakin lama goyangan Mbak Wati semakin cepat, dan tak lama tubuhnya mengejang kembali, dia mendapatkan puncak keduanya. Terasa cairan hangat mengaliri senjataku yang masih terbenam di dalam gua Mbak Wati. Tubuh Mbak Wati ambruk menindihku, nafasnya begitu tersengal-sengal. "Gantian kamu yang diatas ya rot" katanya dengan sedikit terbata-bata. "Tapi aku ngga tau caranya mbak" jawabku polos. "Pokoknya kamu keluar masukin aja kontolmu di m***k mbak" jawab Mbak Wati sekenanya. Segera aku berpindah posisi, kini aku sudah berada diantara kaki Mbak Wati, tangannya membimbing senjataku untuk masuk kembali kedalam guanya. "AHHHHHHHHHH" desahan kami kembali ketika senjataku sudah masuk seutuhnya. Aku mulai menggoyangkan pinggangku maju mundur dengan kaku. Ketika sudah mulai lancar, aku menatap wajah Mbak Wati, dia terlihat begitu cantik, sangat cantik dari biasanya bahkan. Keringat begitu deras membasahi tubuh kami berdua. Aku menundukan kepalaku di payudaranya, menghisap pentilnya, sembari bergoyang. "Aaahhhhh, rot enak banget rottt, kencengin lagi rot, mbah udah mau sampai" racau Mbak Wati. " Jarot juga mbak, ahhhh, enak banget mbak memeknya". "Ayo rot, kita keluar bareng rooottt... ahhhhhh". Aku mempercepat goyanganku, hingga tercipata suara "plok, plok, plok" ketika tubuh kami beradu. Melihat p******a Mbak Wati yang bergoyang-goyang membuatku semakin bernafsu menggenjotnya. Hingga tak berselang lama, aku sudah tidak kuat lagi menahan semburan benih Jarot Junior, hingga ku lepaskan di dalam m***k Mbak Wati. "Mbak aku keluar mbakkk... aahhaahhhhhhhhhhh". "Mbak juga keluar rottt, ahhhh kontolmu enak sekali rotttt"". Tubuhku ambruk diatas tubuh Mbak Wati, sungguh ini adalah hal ternikmat yang ku alami sepanjang hidupku. Kami masih berpelukan hingga senjataku mengecil dan keluar dengan sindirinya dari dalam gua Mbak Wati. Ketika kami sudah sama-sama tenang tiba-tiba Mbak Wati berkata "Rot, mbak lupa kasih tau kamu biar ga dibuang di dalem, kalau dibuang di dalem nanti mbak bisa hamil rot. kalau mbak hamil, kamu mau tanggung jawabkan?". deg. Jantungku seolah berhenti berdetak, "MAMPUS" pekikku.