"Apa salah, jika aku merindukannya?" Tian tersenyum penuh arti. "Sebagai orang terdekatmu sekarang, aku tidak menyalahkan jika kau merindukannya." Lucy memandang lurus ke depan. Air mancur itu, terus mengalir dalam waktu cukup lama. Menampilkan keindahannya sendiri, indah dipandang mata. "Perasaanmu--" "Aku tidak tahu." Menghapus air matanya, pandangan Lucy tetap tertuju ke arah yang sama. "Rasanya sesak sekali." Tian tak lagi tersenyum. Senyumnya sirna. Sampai sejauh ini. Dirinya ternyata belum benar-benar menempati hati Lucy. Bagaimana mau menempati, menggapai saja rasanya susah. Aku tidak tahu. Bagi Tian, sudah cukup menjelaskan. Perasaan Lucy masih tetap sama, berubah mungkin empat puluh persen dari seratus persen. Lalu, apa arti kehadirannya? Boleh tertawa? Angin bahkan menerta

