Lima Puluh Tiga

1057 Kata

Satu Minggu berlalu setelah Endru menemui Lucy. Ia mendatangi kantor anaknya. Kali ini ia datang diam-diam, pasalnya kemarin-kemarin kehadirannya selau ditolak. Bertemu di luar kantor pun, tidak ada percakapan yang berarti. Anaknya itu, pintar menghindari hal yang tidak ingin dibahas. Pertama yang dilihatnya ketika datang ke ruangan anak bungsunya, kursi terbalik ke belakang. "Ehem," dehem Endru. Berniat menyadarkan anaknya bahwasanya tidak sendiri dalam ruangan. Endru menggelengkan kepalanya, tidak mendapat respon sesuai harapan. Yah, apa ia pria tua menyedihkan? Sadboy or saddad? Menghembuskan nafas berat, Endru memilih mendekati kursi kebesaran anaknya tersebut. Membalik kursi itu hingga sang empunya berhadapan dengannya. "Tian," panggil Endru. Cukup untuk menyadarkan anaknya. "Da

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN