Tian menatap kotak di depannya dalam diam sementara Atha berdiri tak jauh darinya, hanya terhalang meja kantornya. "Anda harus membukanya Tuan," pinta Atha. Hidup Tuannya begitu rumit, ia tidak ingin memiliki hidup seperti itu. Hah, sepertinya ia harus rajin berdo'a mulai dari sekarang. "Kau mengganggu konsentrasi ku, Atha." Mengganggu? Konsentrasi? Hah ... Buat apa? Sedari tadi melototin kotak. Tenang, itu hanya suara batin Atha. Tak mungkin terlontar begitu saja, sayang pekerjaan. "Tuan bukannya anda hanya melihat kotak itu saja sedari tadi." Atha menepuk mulutnya, ia kelepasan. Batin dan mulutnya memang tak sejalan. Melihat Tian berbalik melototinya, ia jadi bergidik ngeri. "Ma-maaf, Tuan." "Sejujurnya aku tidak tahu ini kotak isinya apa." "Gak bakal ada yang tahu kalau tidak dibu

