Tian mengikuti langkah kaki Cia. Rumah berukuran sedang ini, cukup lengkap isinya dan terlihat rapi. Semua perabot ditata sesuai dengan tempat. Jadi, meskipun tidak besar, dalam rumah ini terlihat besar.dan luas. Sampai di teras belakang, Tian tertegun melihat sosok yang kemarin-kemarin terlihat berwibawa di depan matanya, kini memegang peralatan untuk berkebun. Lengkap dengan sepatu boot bernoda lumpur. Sosok itu fokus mencangkul tanah sesekali jongkok membuat lubang kemudian meletakkan sesuatu di sana. Tian menduga itu bibit tanaman. Tak salah lagi. "Suamiku ... Adikmu sudah datang. Berhenti sebentar." Sosok itu menoleh. Terlihat peluh di wajahnya. "Sepertinya ia tak sabar berbicara denganmu," lanjut Cia meneriaki suaminya. Tian yang mendengar itu mendengus. Sok romantis, pikirnya. "K

