Lima Puluh Enam

1102 Kata

Meski langit telah berubah gelap, tak menyurutkan tekad Tian untuk kembali pulang. Ia tidak mau tempatnya untuk pulang menunggu lebih lama. Terpenting, ia tidak ingin terjadi apa-apa yang tidak ia inginkan. Kakaknya meminta ia pulang besok pagi, tapi firasatnya mengatakan ia harus kembali sekarang. Sesegera mungkin. "Tuan, saya masih mau makan loh." "Diam saja. Dasar lelet." "Saya mengendarai mobil sesuai aturan ya, Tuan. Tidak seperti Tuan begini," protes Atha. Apa salahnya, mengendarai kendaraan sesuai tata tertib memang salah? Apa gunanya dong rambu-rambu di jalan. "Kau mengatai ku tidak tahu aturan?!" Atha menelan ludah, sulit sekali rasanya, lirikan tajam itu sih. Mengganggu konsentrasinya menelan ludah? Terlalu absurd. "Tidak, Tuan. Anda sendiri yang bilang." "Terserah." Ath

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN