Tiga Puluh Satu

830 Kata

Semenjak kejadian di restauran waktu itu, Tian lebih dan lebih lagi menyibukkan diri dalam pekerjaannya. Ia tidak lagi membantah ataupun menolak pekerjaan yang Atha berikan untuknya. Langsung terima tanpa bantahan. Bahkan dirinya meminta Atha untuk memadatkan jadwalnya. Untuk malam hari, Tian terkadang mengunjungi rumah sakit. Menginap di sana, untuk sekedar mengecek kondisi teman kecilnya itu. Kadang pula, ia memilih menginap di kantor. Sudah tak ia pedulikan lagi bawahannya, yang ia tugaskan untuk memantau Lucy. Segala bentuk komunikasi, berganti nada silent. Cia merasa heran, Tian lebih banyak melamun ketika ia ajak mengobrol, saat pria itu mau. Tak jarang menolak karena alasan lelah. Senyum padanya pun seolah dipaksakan, tingkah lakunya tampak tidak natural. Tanggapan obrolan yang ti

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN