"Nak, kau pulang?" Tian tidak menanggapi Mommy nya. Ia terus berjalan menaiki tangga. Tatapannya kosong. Raganya seolah tidak bernyawa. Abaikan yang berlebihan ini. Tapi, patah hati memang bisa menghancurkan semuanya. Termasuk masa depan yang awalnya sudah tertata rapi. Inilah yang dinamakan 'manusia bisa berencana namun Tuhan yang menentukan'. Mommy Tian melirik suaminya, duduk tenang di meja makan. Suaminya itu memang menungguinya memasak. "Aku merasa ada yang salah dengannya." "Dia sudah dewasa. Apapun masalahnya, dia bisa menghadapinya sendiri." Liandra memicing ke arah sang suami. "Daddy macam apa tidak khawatir sama anaknya sendiri." Endru menghela nafasnya. Istrinya ini terlalu mengkhawatirkan berbagai hal yang tidak seharusnya dikhawatirkan secara berlebihan. "Aku harus apa?"

